Mustaqima. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Mustaqima, S.KM., M.Pd (*

DUNIA  sedang menjalankan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau yang biasa disebut dengan istilah SDG’S, sama halnya dengan yang dijalankan oleh pemerintahan Indonesia hingga ke kota-kotanya. Namun sering berjalannya waktu, pelaksanaan SDG’S tidak serta merta berjalan dengan mulus, terdapat beberapa faktor yang membuat beberapa indicator pencapaian didalam SDG’S diperkirakan tidak dapat tercapai hingga 2030.

Salah-satunya yang menjadi perhatian yaitu indikator ke empat yakni Pendidikan Berkualitas didasarkan dengan upaya meningkatkan kualitas manajemen dan layanan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dengan tujuan kebijakan. Dikarenkan berdasarkan Laporan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terdapat 75.303 orang anak yang putus sekolah pada 2021. Jumlah anak yang putus sekolah di tingkat sekolah dasar (SD) merupakan yang tertinggi sebanyak 38.716 orang, selanjutnya jumlah anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) yakni sebanyak 15.042 orang. Jumlah ini naik 32,20% dari tahun sebelumnya yang sebanyak 11.378 orang. Berikutnya, sebanyak 12.063 orang anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK), jumlah ini turun 13,53% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 13.951 orang. Sementara itu, sebanyak 10.022 orang anak putus sekolah di tingkat sekolah menengah atas (SMA) jumlah tersebut turun 27,90% dari tahun 2020 yang sebanyak 13.879 orang. Secara tren, jumlah anak putus sekolah cenderung menurun selama enam tahun terakhir.

Penurunan tajam terlihat semenjak pandemi Covid-19 terjadi yakni pada 2020. Meski demikian, angka putus sekolah siswa sekolah dasar (SD) masih tergolong yang paling tinggi dalam tiga tahun berturut-turut.  sehingga pemerintah Indonesia berupaya untuk mengatasi hal tersebut, dengan berbagai cara terbaik misalnya dengan memberikan bantuan dana Pendidikan ke daerah-daerah yang ada diseluruh Indonesia, salah satunya di kota Palu.

Dana bantuan yang diberikan kepada pemerintahan kota Palu dipergunakan untuk program unggulan pemerintah kota Palu pada bidang pendidikan yakni percepatan peningkatan persamaan kualitas sekolah SD dan SMP se-Kota Palu, reward sebesar Rp. 2 Miliar bagi SD dan SMP Berprestasi, 1.000 beasiswa kuliah bagi keluarga tidak mampu se-kota palu, pelatihan tenaga kerja bersertifikasi per-kelurahan, update berkala kompetensi dan kapasitas guru atau pengajar, program kepala sekolah magang di sekolah ternama di luar kota palu, bus gratis untuk siswa sekolah.

Menariknya dibandingkan dengan daerah lainnya Pemkot Palu berusaha merangkul semua anak-anak yang berada didesa-desa terpencil untuk dapat bersekolah. Hal tersebut menjadi pemandangan yang sangat menarik ketika beberapa anak naik bus bersama dipagi hari dan pulang disiang hari. Menandakan bahwa memang bukan hanya Pemkot Palu saja tetapi masyarakat kota Palu juga sangat antusias dalam menyukseskan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’S) pada indikator pendidikan. Diharapkan upaya-upaya yang telah dilakukan dapat terus terlaksana dan sukses di tahun 2030, serta dapat menjadi contoh untuk daerah-daerah lain yang ada di Indonesia. (*)

*) Penulis adalah Mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Pascasarjana Universitas Hasanuddin.

Ayo tulis komentar cerdas