Alit Sanjaya - Steven Y Kambey. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Steven: Kita Negara Hukum

Palu, Metrosulawesi.id – Jemaat GPID Manunggal Palu, Alit Sanjaya, menyesalkan laporan polisi Ketua Jemaat, Setven Y Kambey. Ketua Jemaat GPID Manunggal Steven melaporkan Alit ke Kepolisian Resor Kota Palu atas dugaan pengancaman dan/atau penghinaan pada 21 Oktober 2022.

Alit menerangkan laporan polisi terhadap dirinya dipicu saat Steven ingin berjabat tangan usai suatu kegiatan di GPID Manunggal Jalan Towua Palu pada 19 Oktober 2022 sekitar pukul 21.45 WITA.

Ketika Steven mengulurkan tangan, Alit tidak bersedia menyambut karena alasan tertentu. Kemudian Steven disebut merespon dengan mengeluarkan pernyataan dan tindakan yang membuat Alit merasa tidak nyaman.

“Dia (Steven) bilang ‘kau tidak ada berkat’, saya sapu dada. Setelah itu pas mau keluar dia paka (sentuh) saya punya belakang sambil bilang ‘eh bro di sini bukan tempat kompetisi. Di sini tempat untuk pelayanan’. Saya langsung naik (berdiri) dan jawab maksudnya bapak apa? Karena saya tidak jabat tangan? Saya masih jengkel dengan bapak karena bapak pernah usir saya,” terang Alit di kediamannya pada Selasa 15 November malam.

“Di situ memang hampir terjadi tindak pidana, cuma saya tidak mau karena pasti akan ada akibat hukumnya,” tambahnya.

Kemudian selang beberapa waktu, Alit mengakui ayahnya memberi respon atas kejadian saling jawab tersebut dengan pernyataan keras kepada Steven. Momen ini ternyata direkam istri Steven melalui video yang menjadi barang bukti melaporkan Alit ke Polresta Palu.
Namun Alit menyebut video yang dijadikan barang bukti tidak utuh karena hanya sepenggal pada bagian pernyataan yang dianggap mengancam Steven. Alit menyesalkan laporan Steven karena merasa seharusnya bisa diselesaikan secara internal tanpa jalur hukum.

“Apalagi besoknya (20 Oktober 2022) datang pak Pendeta ke sini (kediaman Alit dan orangtua) untuk mendamaikan. Pendeta bilang ‘ya sudah lah nanti kita yang gembalakan tidak usah dibawa ke jalur hukum’. Oke kita satu keluarga bilang tidak akan lanjutkan ke jalur hukum,” tuturnya.

“Siang itu, pak Pendeta balik ke sana (rumah Steven). Di sana juga bilangnya tidak mau perpanjang masalah. Tapi ternyata besoknya tanggal 21 Oktober, dorang (pihak Steven) bikin laporan. Jadi kita merasa tertipu,” tandas Alit.

Atas laporan Steven, pihak Polresta Palu akan mendengar keterangan Alit pada hari ini Kamis 17 November 2022. Sementara itu, Steven mengaku keputusan yang diambilnya merupakan hak sebagai warga negara.

“Kita ini negara hukum yang mengatur semua sendi kehidupan bermasyarakat, tidak satupun yang bisa seenaknya berprilaku,” ucap Steven.
Steven menjelaskan upaya hukum yang dilakukan karena ia merasa tidak ada niat baik dari pihak Alit. Ini karena pihak Alit melalui penyampaian utusan Pendeta meminta Steven datang minta maaf. Steven tidak menyanggupi karena merasa sebagai korban dalam perselisihan antara dirinya dengan Alit.

“Saya diminta datang ke sana (kediaman Alit) untuk meminta maaf. Sebagai orang yang memakai akal sehat, seharusnya pelaku yang datang meminta maaf ke korban. Masa korban yang disuruh minta maaf kepada pelaku, jangan dibalik-balik,” jelas Steven.

Namun demikian, Steven tidak menutup diri untuk menyelesaikan perselisihannya dengan berdamai atau melalui restorative justice. Hal ini tergantung respon pihak Alit Sanjaya dan kepolisian.

“Saya kira maunya kita semua aman, tentram dan damai. Tentu kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan kenapa tidak,” pungkas Steven.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas