Rukhedi. (Foto: Dok)

Oleh: Rukhedi *)

HARI Kesehatan Nasional (HKN) diperingati pada 12 November setiap tahun. HKN 2022 mengusung tema ‘Bangkit Indonesiaku Sehat Negeriku’. Tema dengan narasi “Bangkit” dipandang relevan pada saat pandemi Covid-19 telah menorehkan duka yang cukup dalam bagi bangsa ini dengan jatuhnya banyak korban bukan hanya dari kalangan masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan petugas medis. HKN tahun ini diharapkan oleh kementrian kesehatan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan.

Kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan manusia dan menjadi sasaran dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals –  SDGs)  dengan standar internasional. Sehat sebagaimana yang didefinisikan oleh World Health Organization (WHO) adalah keadaan sempurna secara fisik, jiwa, serta sosial, dan tidak hanya terbebas dari penyakit dan kecacatan. Oleh karena itu, aspek keterbandingan kemajuan tingkat kesehatan Indonesia dengan dunia internasional menjadi salah satu tolok ukur dalam mewujudkan negeri yang sehat, baik sehat fisik maupun jiwanya.

WHO telah merilis World Health Statistics (WHS) pada 22 Oktober 2022 lalu. WHS berisi data indikator kesehatan dari berbagai belahan dunia. Indikator yang disajikan di antaranya adalah angka kelahiran remaja, konsumsi rokok/tembakau, penolong kelahiran, angka bunuh diri, cakupan imunisasi, kejadian malaria, angka harapan hidup, angka prevalensi beberapa penyakit, dan beberapa indikator lainnya.

Gambaran singkat kemajuan tingkat kesehatan Indonesia dibandingkan negara lain akan disajikan pada dua indikator saja. Untuk melihat tingkat kesehatan jiwa digunakan indikator angka bunuh diri. Sedangkan tingkat kesehatan jasmani menggunakan indikator angka harapan hidup.

Kesehatan jiwa menjadi tantangan tersendiri dalam skala global. Secara internasional, isu ini masih jarang diperhatikan oleh pemerintah maupun organisasi non pemerintah (Non-Governjiwa Organization-NGO). Di antara persoalan yang dihadapi dalam masalah kesehatan jiwa adalah depresi yang dapat berujung pada bunuh diri. WHO memprediksi bahwa depresi akan menjadi sebuah ‘krisis global’ sebagai penyebab beban terbesar pertama pada tahun 2030.

Berdasarkan data WHS tersebut, tingkat bunuh diri (per 100.000 penduduk) dari 194 negara sepanjang dua dekade cenderung menurun. Berdasarkan rata-rata aritmatika, tingkat bunuh diri turun dari 10.7 pada tahun 2000 menjadi 9,4 pada tahun 2019. Sedangkan Indonesia, selain tingkat bunuh diri juga cenderung turun, secara peringkat juga semakin membaik. Pada tahun 2000, tingkat bunuh diri di Indonesia sebesar 3,46 dan berada pada peringkat terbesar ke 172 dari 194 negara. Sedangkan pada tahun 2019, tingkat bunuh diri sebesar 2,42 dan berada pada peringkat 182.

Dari sisi jenis kelamin, angka bunuh diri Indonesia untuk laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Pada tahun 2019, angka bunuh diri laki-laki sebesar 3,74, sedangkan angka bunuh diri perempuan sebesar 1,89.

Di sisi lain, angka harapan hidup saat lahir menjadi salah satu indikator penting dalam penghitungan tingkat kesehatan. Angka ini merupakan salah satu komponen dalam penghitungan indeks pembangunan manusia (IPM).

Secara global, angka harapan hidup saat lahir dalam 20 tahun juga mengalami kenaikan hampir di semua negara, kecuali Dominika dan Venezuela. Meskipun angka harapan hidup saat lahir di Indonesia mengalami kenaikan dari 67,17 tahun pada tahun 2000 menjadi 71,31 pada tahun 2019, tetapi secara peringkat mengalami penurunan. Dari 194 negara, peringkat Indonesia turun dari urutan 111 pada tahun 2000 menjadi 122 pada tahun 2019.

Dari sisi gender, angka harapan hidup perempuan penduduk Indonesia lebih tinggi dari laki-laki. Pada tahun 2000, angka harapan hidup perempuan adalah 68,8 tahun dan meningkat menjadi 73,3 tahun pada tahun 2019. Sedangkan angka harapan hidup laki-laki adalah 65,8 tahun pada tahun 2000 dan 69,4 tahun pada tahun 2019.

Kedua indikator tersebut menggambarkan tingkat kemajuan pembangunan kesehatan Indonesia dibandingkan dengan 193 negara lainnya. Tingkat kesehatan jiwa dengan indikator angka bunuh diri pada satu sisi cenderung lebih baik dibandingkan sebagian besar negara lain. Di sisi yang lain, meskipun tingkat kesehatan fisik yang dilihat dari indikator angka harapan hidup terus meningkat, tetapi kecepatannya masih perlu ditingkatkan. Demikian pula dari sisi gender, kesenjangan tingkat kesehatan antara laki-laki dan perempuan masih perlu mendapat perhatian.

Oleh karena itu, transformasi kesehatan dengan enam pilar yang digagas Kementrian Kesehatan dalam upaya peningkatan derajat kesehatan layak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Enam pilar transformasi kesehatan yaitu transformasi layanan kesehatan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Dengan kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku usaha dan organisasi kesehatan dan berbagai pihak yang terkait, mewujudkan Indonesia sehat tentu bukan sekedar mimpi.

*) Penulis adalah Statistisi BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Ayo tulis komentar cerdas