TAK tampak jelas wajahnya. Terlihat hanya dari samping dan dari belakang. Rambutnya menutupi sedikit wajahnya bagian atas. Sekitar keningnya. Kedua matanya ditutup kain hitam. Anggaplah bertopeng.

Meski demikian, bagi seorang playboi, tak sulit menerka wajahnya. Terkaannya: cantik atau manis. Jelasnya: wajahnya putih. Tentu juga tubuhnya. Posturnya sungguh ideal seorang perempuan muda. Bila tujuannya ingin menggoda, laki-laki mana yang tak hanyut? Hahaha…

Hari itu. Entah siang. Entah malam. Jelasnya ruangan itu terang. Benderang. Diduga di sebuah hotel. Di Surabaya. Tepatnya, Jalan Sumatera, Gubeng, Surabaya. Ada info, benar atau tidak, lokasinya di kamar 1710, lantai 17. Bisa dicek bagi mereka yang penasaran.

Perempuan muda itu memakai kebaya berwarna merah. Merahnya marun. Indah melekat di tubuhnya yang putih dengan variasi sarung batik berwarna coklat natural yang melilitnya. Otot paha dan betisnya terlihat padat lantaran lilitan sarung itu.
Langkahnya pelan. Gemulai. Diserasikan gaunnya santun. Sembari memegang asbak kaca, perempuan muda itu mendekati pintu kamar hotel. Mengucapkan kata-kata lembut untuk penghuni kamar. Hanya menunggu tiga detik. Sekitar itu. Jawaban pun terdengar dari dalam kamar. Perempuan itu sumringah. Senang. Gembira. Tersenyum sendiri. Happy.

Seketika terbukalah kamar itu. Terlihatlah seorang laki-laki muda. Laki-laki itu tidak memakai baju. Tidak memakai celana panjang. Entah pakaian dalam. Hanya memakai handuk berwarna putih yang hampir terlepas dari tubuhnya. Handuk milik hotel. Mungkin.

Dengan tatapan tak berkedip fokus ke wajah tamunya, laki-laki muda itu menjemput perempuan muda berkebaya merah memegang asbak kaca. Peluang itu pun segera disambar perempuan muda itu dengan langkah mirip peragawati yang sedang memamerkan kebaya merahnya di atas panggung. Perempuan muda itu kini sudah di dalam kamar. Berduaan dengan laki-laki muda itu.

Selanjutnya, apa yang terjadi selama 16 menit? Silakan hayalkan? Hahaha…

Lantaran video ini dinilai asusila dan beredar luas di platform media sosial: dari TikTok, WA Group, Twitter, hingga Telegram, polisi bergerak memburunya.

Hanya beberapa jam setelah asusila di kamar hotel itu, keduanya pun ditangkap oleh polisi dari Polda Jawa Timur. Tepatnya, Minggu, 6 November 2022.


KEBAYA merah itu seperti sihir. Jutaan orang termakan sihirnya. Betapa dahsyatnya magnet kebaya merah itu. Mampu menarik jutaan orang ke kamar hotel. Jutaan mata fokus memandangnya. Tanpa berkedip.

Begitu mabuknya jutaan orang menonton dan membicarakan kebaya merah dan asbak kacanya, mereka lupa negerinya yang sedang luka parah. Atau memang kebaya merah hadir untuk menutupi luka parah itu? Disebut luka parah, korban berjatuhan, tetapi tak satu pun tampil sebagai sosok yang bertanggung jawab!

Kawanku di kedai kopi mengulum senyumnya sembari memesan ubi goreng.

“Mengapa Bung tersenyum?”

“Soal kebaya merah itu analisa dinda cukup detail. Saya tersenyum lantaran dinda mengajak orang untuk menghayalkan apa yang sedang terjadi di kamar hotel selama 16 menit.”

“Hahaha…. Ah, Bung, bisa saja.”

“Tapi saya lebih tertarik ungkapan dinda soal negeri yang sedang luka parah. Maksud dinda?”

“Ya, kebaya merah telah membuat orang lupa bahwa negerinya luka parah. Mereka sibuk menonton video kebaya merah. Mereka lupa empat kasus besar yang menodai negeri ini.”

“Kasus apa itu, dinda?”

“Pertama Sambo. Kedua, tragedi kemanusiaan Kanjuruhan yang menyebabkan meninggalnya ratusan supporter sepak bola. Ketiga, lalainya Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM dan Menteri Kesehatan yang membuat ratusan anak meninggal lantaran bebasnya obat beracun. Dan yang terakhir, kasus Aiptu Pol Ismail Bolong yang menghebohkan dunia kepolisian dengan pengakuannya telah menyetor uang Rp. 6 Milyar kepada petinggi Polri. Dana itu, katanya, berasal dari pertambangan batu bara ilegal di Kalimantan Timur.”

“Wah, saya jadi bingung, dinda.”

“Mengapa Bung bingung?”

“Makin banyak sosok pengecut di negeri ini. Setiap ada tragedi besar, tak ada yang mau bertanggung jawab, dinda. Semunya membela diri untuk keselamatannya sendiri.”

“O, begitu. Biar Bung tidak tambah bingung, apa ada rencana bertemu dengan perempuan muda berkebaya merah itu?”

“Hahahahaha….” Bung, kawanku, terbahak. Entah apa maknanya. **

Ayo tulis komentar cerdas