Ketua Tim Statistik Harga Henry Simanjuntak (kiri) pada konferensi pers Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah secara daring, Senin (3/10/2022). (Foto: Tangkapan layar/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Pada periode bulan September 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi mencatat Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya di Kota Palu menjadi penyumbang inflansi tertinggi sebesar 0,57 persen, Selasa (3/10/2022) melalui sambungan kanal Youtube.

“Dengan komoditas bensin sebagai penyumbang terbesar. Jika dilihat secara tahun kalender inflansi pada September 2022 mencapai 5,28 persen dan inflansi tahun ke tahun di Kota Palu telah menembus angka 6,34 persen,” ujar Henry Simajuntak, Ketua Tim Statistik Harga BPS Sulteng.

Dikatakan, lonjakan inflansi yang terjadi pada bulan September diketahui disebabkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebagaimana kebijakan, lanjut dia, pemerintah terhadap kenaikan BBM pada awal September berupa naiknya bahan bakar jenis Pertalite, Pertamax dan Solar.

“Hal ini berdampak pada inflasi dari komoditi bensin, angkutan antar kota, hingga kendaraan carter/rental. Kita sama-sama tahu bahwa kenaikan BBM sangat mempengaruhi inflansi setiap daerah di Indonesia,” katanya.

Berdasarkan data yang BPS miliki, inflansi tertinggi di Kota Palu pada Bulan September yakni terdapat pada komoditi Bensin sebesar 0,73 persen dilanjutkan oleh komoditi Angkutan Antar Kota sebesar 0,08 persen. Kemudian komoditi Telur Ayam Ras mencapai angka 0,06 persen.

“Sementara Ikan Cakalang menyentuh angka 0,06 persen dan Kendaraan Carter/Rental yang berada di posisi kelima andil inflansi pada bulan September mencapai angka 0,03 persen,” terangnya.

Menurut Henry, inflansi yang terjadi pada September saat ini tertolong karena adanya deflasi dibeberapa komoditas lainnya seperti Ikan Selar yang memiliki deflasi sebesar 0,05 persen. Selanjutnya Bawang Merah sebesar 0,12 persen, Bioskop dan Ikan Lajang masing-masing deflasinya sebesar 0,06 persen.

“Sedangkan Angkutan Udara berada pada angka 0,05 persen, Telepon Seluler deflasi 0,03 persen, Bawang Putih dan Kubis deflasi sebesar 0,03 persen serta Minyak Goreng yang deflasinya berada pada angka 0,02 persen,” jelasnya.

Diakuinya, inflansi yang terjadi pada bulan September itu masih tertolong karena adanya deflasi pada komoditas lainnya terutama pada bahan makanan dan sembako. Hal inilah yang mengakibatkan sehingga inflansi yang terjadi di Kota Palu tidak melambung tinggi.

“Jika dilihat perbandingan tingkat inflansi di kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (SULAMPUA), inflansi Kota Palu berada pada jajaran menengah,” tuturnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas