JUKIR - Jukir di pusat ATM Bank BCA Jalan Danau Poso Kota Palu saat berjaga beberapa waktu lalu. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)

Palu, Metrosulawesi.id – Keberadaan juru parkir di wilayah Kota Palu masih menjadi polemik tersendiri di tengah masyarakat umum.

Seperti kejadian aneh ketika dengan jelas terpampang spanduk resmi dilarang memungut uang parkir oleh pemerintah daerah di pintu tempat umum, namun masih ditemukan jukir (juru parkir) berjaga kendaraan pengunjung.

Penelusuran yang dilakukan Wartawan Metrosulawesi belum lama ini mewawancarai salah seorang jukir di pusat ATM Bank BCA di Jalan Sungai Poso, Kelurahan Siranindi, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu.

Jukir remaja berusia 14 tahun itu mengungkapkan, dirinya telah melakukan pungutan parkir di ATM tersebut atas perintah bapaknya.

Jukir yang tinggal di Kawasan Kalikoa ini bilang dia hanya menggantikan bapaknya ketika beristirahat.

“Saya biasa ba jaga setelah pulang sekolah, biasa habis salat zuhur pas bapakku istirahat. Saya ba jaga biasa sampai sore,” ujarnya di depan pintu ATM BCA tersebut.

Saat itu dia telah mengumpulkan uang hampir mencapai Rp100 ribu hanya kurun waktu 3 jam lebih 30 menit.

Uang itu kemudian utuh disetor ke bapaknya selepas berjaga. Namun dia sulit menyebut berapa rupiah yang dia atau bapaknya peroleh saat ber-jukir dalam sehari.

Menariknya, setiap dalam satu hari bapak sang jukir menyetor Rp25 ribu kepada seorang petugas Dinas Perhubungan Kota Palu.

“Biasanya orang (petugas) perhubungan (Dishub) itu ba jemput langsung uang parkir yang sama bapakku, Rp25 ribu setiap hari pas setoran. Jarang bapakku ke kantor Dishub,” imbuhnya.

“Biasa orang perhubungan itu ba jemput uang parkir sore-sore begini, sering ada saya pas orang itu ba ambil uang sama bapakku. Tapi saya tidak tahu namanya orang itu,” ungkapnya.

Tak hanya bapaknya, dia juga bilang paman serta kakak sepupunya turut menjadi jukir di tempat yang sama. Kemudian kakak sepupunya itu yang pernah terkena razia petugas gabungan penegak hukum sekira hampir setahun lalu.

“Pernah (kena razia), polisi yang razia. Dibawa ke kantor polisi, pas bapakku yang ke sana pulang dia sama bapakku,” ungkap remaja kelas 9 SMP Alkhairaat ini.

Lebih jauh lagi anehnya, spanduk larangan pungutan parkir itu atas pengakuan bersangkutan berlaku hanya saat malam hari.

“Dibilang katanya itu spanduk hanya (berlaku) untuk malam hari saja,” ucapnya.

Dia mengaku dirinya dilarang bapaknya memaksa memungut uang parkir. Bahkan dia bilang Satpam ATM itu tidak pernah melarang mereka menjadi jukir di wilayah itu.

Reporter: M. Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas