CARI BARANG BUKTI - Petugas bersenjata lengkap melintas di dekat sejumlah mobil yang parkir di depan rumah milik Cristian Hadi Chandra Kelurahan Boya Kecamatan Banawa saat petugas KPK melakukan penggeledahan, Senin 26 September 2022. (Foto: Istimewa)
  • Terkait Dugaan Korupsi Gedung DPRD Morut

Donggala, Metrosulawesi.id – Babak baru penanganan dugaan korupsi pembangunan gedung DPRD Morowali Utara (Morut). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil alih kasus itu dan sudah menetapkan satu tersangka baru.

Setelah menggeledah sejumlah kantor di Morut pekan lalu, lembaga antirasuah itu pada Senin 26 September melakukan penggeledahan di rumah milik Cristian Hadi Chandra di Kelurahan Boya Kecamatan Banawa, kontraktor yang mengerjakan proyek itu.

Cristian Hadi Chandra adalah salah satu kontraktor yang sudah lama menetap di Kelurahan Boya Kecamatan Banawa. Dia tinggal di rumah sekaligus toko. Rumah tempat tinggal itu oleh warga setempat menyebutnya toko La Medi.

Penggeledahan yang dilakukan tim pemeriksa itu sempat memacetkan arus lalu lintas di Kelurahan Boya. Suasana sempat tegang saat tim pemeriksa juga dilengkapi dengan senjata laras panjang.

“Iya benar ada yang datang ke rumah berombongan. Saya tidak tahu siapa, dibilang tim pemeriksa, cari papaku (Cristian Hadi Chandra), tapi saya bilang papaku ada ke Jakarta, mamaku ke Surabaya” kata Sendi, putra pertama Cristian Hadi Chandra saat ditemui di rumah itu sesaat setelah penggeledahan selesai.

Sendi menjelaskan kedatangan rombongan tersebut sempat membuatnya kaget. Ia tidak mengetahui, rumahnya akan didatangi petugas bersenjata lengkap. Petugas masuk ke dalam rumah dan melakukan penggeledahan.

“Yang masuk ke rumah empat orang, sisanya menunggu di luar, Bapak ku yang dia cari, saya jawab tidak ada, saya bilang ke Jakarta, jadi saya yang ditanya-tanya. Cuma yang ditanya masalah proyek papa ku, termasuk yang di Morowali, mana saya tahu masalah proyeknya papaku,” ucapnya.

“Dia tanya-tanya semua kita orang di sini, pembantu, pelayan toko, ada setengah jam dorang batanya-tanya, setelah itu saya batanda tangan berita acara kunjungan, baru dorang pulang. Tidak ada juga barang-barangnya kita orang dia bawah atau ambil,” bebernya.

Seperti diketahui, dugaan korupsi pembangunan gedung DPRD Morut ini sempat ditangani Polda Sulteng beberapa waktu lalu. Polda Sulteng kala itu sudah menetapkan empat tersangka. Salah satunya Christian Hadi Chandra, selaku Direktur PT Multi Global Konstrindo (MGK), perusahaan yang mengerjakan proyek itu.

Dalam perjalanannya, Christian Hadi Chandra kemudian gugatan atas penetapan statusnya sebagai tersangka oleh Polda Sulteng. Dia mengajukan praperadilan di Pengadilan Negeri Palu. Hasilnya, permohonan praperadilannya dikabulkan oleh hakim. Terhadap putusan itu, Polda kemudian mencabut status tersangka Christian Hadi Chandra dari kasus itu.

Proyek ini dibangun dengan anggaran sebesar Rp9 miliar lebih. Berdasarkan hasil audit terjadi kerugian negara alias total loss sebesar Rp8 miliar lebih dari nilai kontrak Rp9 miliar lebih.

Total kerugian negara ini sudah dikembalikan ke kas negara oleh PT MGK melalui Bank Sulteng Cabang Palu pada 10 Juni 2022 lalu.

Belakangan, kasus dugaan korupsi proyek gedung DPRD Morut ini mencuat kembali setelah ditangani KPK. Kabarnya KPK bahkan sudah menetapkan satu tersangka baru berinisial AJ.

Lembaga antirasuah itu kabarnya mengambil alih kasus itu karena beberapa pertimbangan. Salah satunya keadaan lain yang menyulitkan penanganan kasus itu.

Sejak ditangani, KPK sudah melakukan penggeledahan beberapa kantor yang terkait dengan pengerjaan proyek itu. Yakni kantor DPRD, Dinas PUPR, ULP/ BPBJ, serta beberapa rumah pribadi para pejabat Pemkab Morut yang diduga menjadi tempat disembunyikannya barang bukti yang berkaitan tersangka AJ.

Reporter: Tamsyir Ramli, Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas