Tumbler dan pipet berbahan bambu hasil pengrajin dari Kabupaten Sigi dipamerkan pada Market and Sale Event di Huntap Duyu, Sabtu malam, 24 September 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Tumbler atau tempat air dalam keadaan panas menjadi tren saat virus corona atau Covid-19 menyerang hampir ke seluruh penjuru dunia.

Perlengkapan itu dengan mudah kita lihat baik ditenteng atau diselipkan di tas. Tumbler umumnya berbahan plastik dan bagian dalam terbuat dari kaca atau stainless steel. Jika sudah rusak dipastikan akan menjadi sampah.

Oleh Burhan, pengrajin bambu asal Kabupaten Sigi berinovasi menjadi bambu sebagai casing tumbler ramah lingkungan.

“Bambu sangat mudah ditemukan. Satu tumbler bambu butuh tiga hari untuk menyelesaikan,” kata Burhan di sela-sela Market and Sale Event yang diselenggarakan Yayasan IBU di Kawasan Hunian Tetap (Huntap) Duyu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu petang, 24 September 2022.

Kata Burhan, bambu diolah kemudian bagian dalam dimasukkan penampung air berbahan stainless steel atau kaca seperti tumbler pada umumnya ke lubang bambu.

Begitupula penutup tumbler, juga diubah dengan menggunakan bambu.

“Harga satu tumbler Rp200 ribu. Tapi kalau dibeli selama pameran cukup Rp175 ribu,” kata Burhan.

Pameran ini dihelat Yayasan IBU sebagai kampanye pengurangan sampah plastik. Berbaagi produk kerajinan dari sampah plastik dipamerkan.

Program Manager Plastic Reduction Project Yayasan IBU Lerevia Maharani mengatakan pendampingan dilakukan kepada ibi-ibu rumah tangga dan anak muda di Kota Palu dan Kabupaten Sigi sejak 2019.

“Sekaligus kampanye mendorong pengurangan sampah plastik,” kata Lerevia di lokasi kegiatan.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas