ILUSTRASI - Suasana pertandingan persahabatan antara Topeko FC melawan tim Pemprov Sulteng saat tes pencahayaan di Stadion Gawalise Palu, Sabtu (24/09/2022). (Foto: Metrosulawesi/ Addi Pranata)

Palu, Metrosulawesi.id – Selain terbukti dari segi kualitas rumput lapangan yang baik, stadion Gawalise di Kelurahan Duyu, Kota Palu kini siap digunakan untuk menggelar pertandingan malam hari. Lampu stadion yang setidaknya 15 tahun padam, pada Sabtu (24/09/2022) malam akhirnya kembali memancarkan cahayanya.

Lampu stadion Gawalise terakhir kali digunakan pada tahun 2007, kala Persipal bermain di Divisi Utama Liga Indonesia wilayah IV. Selepas dari itu, stadion berkapasitas 20.000 penonton ini tak pernah lagi digunakan untuk pertandingan resmi di malam hari. Barulah di tahun 2022 ini Manajemen Persipal BU kembali merenovasi lapangan termasuk pencahayaan untuk mengarungi kompetisi liga dua wilayah timur.

Markas tim berjuluk Laskar Tadulako itu memang mengalami renovasi sebelum kompetisi Liga 2 berlangsung. Manajemen dalam hal ini sedikitnya menganggarkan Rp 3-5 Miliar untuk perbaikan stadion. Sisi penerangan menjadi salah satu fokus renovasi pihak klub selain membenahi area lapangan supaya lebih maksimal dari segi kualitas. Ini juga sesuai dengan permintaan sponsor agar mendukung siaran langsung di malam hari.

Menurut Manajer Persipal BU, Jelly Rompas, dari kapasitas pencahayaan ada sebanyak 40 mata lampu yang terpasang dengan ditunjang oleh empat tiang menara. Keseluruhan lampu berdaya sekira 164 Kilo Volt. Tenaga itu digunakan untuk mendukung pencahayaan agar mencapai minimal 800 lux sesuai regulasi PT Liga Indonesia Baru (LIB).

“Ini baru pertama kali dicoba karena tidak menutup kemungkinan untuk putaran kedua Persipal main malam, ini juga permintaan PT LIB (Liga Indonesia Baru) sebagai bahan pelaporan pencahayaan stadion,” ungkap Jelly kepada Metrosulawesi.

Momen menyalanya kembali lampu stadion disambut antusias oleh sejumlah warga. Saat itu juga diadakan pertandingan persahabatan antara Topeko FC melawan tim Pemprov Sulteng. Meski di bawah guyuran hujan, kedua tim tak mau berhenti dan tetap melanjutkan pertandingan.

“Bayangkan lama sekali tahun 2007 itu terakhir instalasinya baru kami nyalakan kembali, jadi mereka yang main tetap semangat walaupun hujan-hujanan,” ujar Bunda, sapaan akrab Jelly Rompas.

Reporter: Addi Pranata

Ayo tulis komentar cerdas