Weliones Gintu, mantan kepala desa (Kades) Taipa, saat menunjukan lokasi desa Taipa yang mengalami down lift di pesisir danau Poso. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)

Poso, Metrosulawesi.id – Warga Desa Taipa, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso terancam tenggelam, diakibatkan terjadinya down lift (penurunan permukaan tanah).

Desa ini berada di tepian Danau Poso sebelah barat, dihuni kurang lebih 34 keluarga itu yang mendiami pinggiran danau Poso, sebagian besar merupakan rawa.

Weliones Gintu, yang merupakan manatan Kepala Desa Taipa, kepada sejumlah Wartawan , Senin 12 September 2022, mengatakan khusus Desa Taipa yang berada di pesisir Danau Poso, terjadi penurunan sekitar 10 are atau 0,1 hektare.

“Jarak pinggir danau semakin dekat dengan permukiman warga, kurang lebih sekitar 30 meter.Bila penggerusan akibat abrasi itu terus terjadi, itu dapat menjadi ancaman bagi permukiman warga Desa Taipa,” tuturnya.

Weliones yang merupakan warga alsli Desa Taipa itu mengatakan, Desa Taipa sejak tahun 1969, sudah beberapa kali berpindah lokasi, dan pada Tahun 2016, terjadilah penurunan permukaan tanah sekitar 10 are atau 0,1 hektare itu.

Beruntung dari (BWSS) Balai Wilayah Sungai Sulawesi, membangun tanggul di pesisir danau yang berdekatan langsung dengan pemukiman warga, sepanjang 700 meter.

“Sehingga ombak danau tidak langsung menghantam permukiman warga, dan sedikit mengurangi kekhawatiran warga,” tuturnya.

Drinya juga mengatakan, sejak terjadiny penurunan permukaan tanah itu, pihaknya mengimbau serta melarang warga mendirikan bangunan dekat pesisir danau.

“Selaku pemerintah desa kala itu wacana untuk merelokasi warga pesisir mendiami pinggiran Danau Poso pun telah diajukan baik terhadap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi.Tapi sampai saya pensiun sebagai Kepala Desa, belum terakomodir, sebab merelokasi warga perlu biaya yang cukup besar,” jelasnya.

Sementara itu, Akademisi Universitas Tadulako, Ir. Abdullah, dalam keteranganya mengatakan, terkait dengan penurunan permukaan tanah di Desa Taipa, dirinya pernah menyampaikan ke warga setempat, kalau ada rezeki, maka rumah-rumah yang di tepi danau tidak usah diperbaiki.

“Tapi rezeki tersebut sebaiknya digunakan untuk beli tanah yang agak jauh dari tepi danau, lalu bikin rumah baru di tanah itu,” ujarnya.

Abdullah yang juga dikenal sebagai pakar gempa Sulewesi Tengah itu juga menjelaskan, penyebab penurunan permukaan tanah di Desa Taipa, itu diesebabkan formasi batuanya merupakan lapisan sedimen yang porositasnya tinggi.

“Jika ada gempa dengan Magnitudo di atas 6 sr atau lebih, dan pusatnya relatif dekat dengan permukiman tersebut, maka bisa terjadi seperti di wialayah Kabupetn Donggala, yakni Tompe dan Lompio, selain itu daerha tersebut juga rawan tsunami,” ujarnya.

“Desa Taipa itu dilalui sesar Poso, sangat bisa berpotensi tsunami, apalagi danau Poso 1,5 kali lebih luas dibanding Teluk Palu,” tambahnya.

“Pun kalau permukaan air tanahnya dangkal dan terjadi gempa dengan Magnitudo lebih dari 6 maka bisa terjadi likuefaksi,” tutupnya.

Reporter: Djunaedi
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas