TERIMA SANTUNAN - Helda didampingi putranya saat menerima santunan dan beasiswa secara simbolis di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sulawesi Tengah, Jalan Towua, Palu, Senin 5 September 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)
  • BPJS Ketenagakerjaan Cegah Kemiskinan Baru

Palu, Metrosulawesi.id – Helda tidak tahu pasti kapan almarhum suaminya terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Yang pasti, sebagai ahli waris, Helda dan anak-anaknya berhak menerima santunan duka dan beasiswa sebesar Rp113 juta.

Suaminya, Kawil Gafar meninggal dunia pada 15 Juni 2022. Semasa hidup, Kawil Gafar bekerja sebagai juru parkir resmi di kompleks Pertokoan Kota Palu dan tercatat di Dinas Perhubungan Kota Palu.

Sepeninggal suaminya, Helda kini menjadi orangtua tunggal. Tulang punggung keluarga yang selama ini menafkahi Helda dan anak-anaknya dari hasil kerja juru parkir itu meninggal dunia.

Kini tanggung jawab diletakkan di pundaknya. Sementara ibu rumah tangga ini tak punya pekerjaan tetap. Pasahal, dari empat anaknya, satu di antaranya masih duduk di bangku SMP. Satu lagi anak bungsunya belum bersekolah.

Namun, beban itu menjadi lebih ringan setelah dia menerima santunan dan beasiswa dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Dia merasa lega.

“Saya tidak tahu kapan (almarhum) terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan,” kata Helda ditemui di Kantor BJPS Ketenagakerjaan Cabang Sulawesi Tengah, Jalan Touwa, Palu, Senin 5 September 2022.

Pemerintah Kota Palu memang punya program bagus yakni mendaftarkan pekerja rentan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, termasuk di antaranya juru parkir.

Helda hadir di kantor BPJS Ketenagakerjaan untuk menerima santunan duka dan beasiswa. Secara simbolis, ibu empat anak ini menerima santunan kematian Rp20 juta, santunan berkala (sekaligus) Rp12 juta dan biaya pemakaman Rp10 juta. Total santunan Rp42 juta.

“Santunan sudah saya terima, ditransfer,” kata Helda yang datang bersama anaknya yang siswa di SMP di Kabupaten Sigi.

Selain santunan Rp42 juta, Helda juga menerima beasiswa Rp71 juta. Sehingga keseluruhan yang diterima dari BPJS Ketenagakerjaan sebesar Rp113 juta.

“Santunan ini sangat membantu. Saya ucapkan terima kasih kepada BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya.

Selain Helda, pada hari yang sama, ada ahli waris lainnya yang juga menerima dana santuan dari BPJS Ketenagakerjan yakni Mujianto, suami dari almarhumah Zaerina yang tenaga kontrak Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu.

Berikutnya, Saiful, suami dari almarhumah Fathanur, pedagang sayur kelor yang Ketua PKH Tombolotutu. Mujianto dan Saiful menerima santunan masing-masingnya Rp42 juta.

Selanjutnya Maylin, istri dari almarhum Bambang Agus Suwardi menerima santunan Rp42 juta dan beasiswa untuk dua anak masing-masing anak menerima Rp81 juta dan Rp85.500.000. Bambang Agus Suwardi sebelumnya bekerja di PT PLN Palu.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sulawesi Tengah, Lubis Latif mengungkapkan, penyerahan secara simbolis santunan dan beasiswa ini dilaksanakan bersamaan dengan Hari Pelanggan Nasional (Harplenas) yang diperingati setiap 4 September.

Lubis Latif mengatakan, salah satu manfaat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan adalah untuk meminimalisir dampak ekonomi bagi keluarga ketika tulang punggung keluarga mengalami kecelakaan kerja atau meninggal dunia. Begitulah Helda dan anak-anaknya bisa memanfaatkan santunan dan beasiswa.

“Program BPJS Ketenagakerjaan ini untuk menghindari kemiskinan baru, terutama bagi pekerja rentan seperti petani dan nelayan. Saat terjadi risiko pada tulang punggung keluarga, minimal kluarga yang ditinggalkan bisa melanjutkan hidup dengan santunan yang diberikan,” ujar Lubis Latif saat menyampaikan kata sambutan pada kegiatan peringatan Harpelnas.

Selain itu, kata dia peserta yang mengalami kecelakaan kerja dan dirawat di rumah sakit akan diberikan dana pengganti penghasilan. Sebab, ketika dirawat, maka pekerja tidak bisa beraktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Seperti tukang ojek, ketika mengalami kecelakaan, tidak hanya ditanggung semua biaya kesehatan tapi ada penggantian pengasilan pada saat dirawat,” ujarnya.

Diketahui, sepanjang periode 1 Januari sampai 26 Agustus 2022, BPJS Ketenagakerjaan di Sulteng telah melakukan pembayaran klaim kepada 18.748 peserta dengan total nilai klaim sebesar Rp228 miliar.

Sementara itu, Sekretaris Kota Palu, Irmayanti Pettalolo yang hadir pada peringatan Harpelnas di kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Sulteng menyatakan apresiasi atas pelayanan yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan selama ini.

Menurutnya, layanan yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan sudah baik dengan respons yang cepat.

“Mudah-mudahan layanan BPJS semakin ditingkatkan dan diperluas,” ujarnya.

Dia mengatakan, Pemkot Palu akan terus mengupayakan semua kelompok rentam bisa terakomodir dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

“Kami sudah akomodir pekerja, masyarakat seperti nelayan, pemulung, pegawai syara, dan masyarakat rentan lainnya kami akomodir. Berharap ke depan tidak ada agi yang tidak masuk dalam program BPJS Keteagakerjaan,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi peserta BPJamsostek sangat membantu keluarga almarhum atau almarhumah. Apalagi ada jaminan beasiswa sehingga sepeninggal orang tuanya, anak-anaknya tidak putus sekolah karena ada jaminan untuk lanjutkan studinya.

Begitulah yang dialami Helda. Santunan duka dan beasiswa yang diterimanya dari BPJS Ketenagakerjaan akan dijadikan modal usaha dan menyekolahkan anak-anaknya. Sebab, suaminya, tulang punggung keluarga telah meninggal dunia.

“Saya buka warung, jadi uang dari BPJS ini mau dipakai untuk usaha, supaya uangnya tidak habis percuma. Bisa berputar,” ujarnya.

Kini, setelah mengetahui manfaat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, Helda berencana mendaftar sebagai peserta.

“Saya juga mau mendaftar jadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, kalau memang ada (bisa) untuk yang punya usaha warung,” ujarnya.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas