GULUNG TIKAR - Kondisi Pasar Bambaru saat ini dimana sejumlah pedagangnya memilih menutup usahanya karena sepi pengunjung dan rusaknya sejumlah fasilitas. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)
  • Kondisi Pasar Bambaru, Kota Palu

Palu, Metrosulawesi.id – Kunjungan orang-orang ke Pasar Bambaru di Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah semakin menyusut. Hal itu diduga kuat dipicu ketidaksungguhan pengelola menata pasar modern satu-satunya di Palu itu.

Pasar bertingkat tiga yang kemudian Metrosulawesi mengumpulkan data pedagang Pasar Bambaru, menunjukkan dampak kerugian yang signifikan. Lantai tiga yang menyajikan kuliner atau kafe, awalnya diisi sejumlah 29 penjual, kini hanya tersisa lima penjual yang bertahan.

Kemudian di lantai 2 pun tak kalah anjlok, dari 47 tempat yang pernah disewa penjual, kini lebih dari 50 persen terpaksa gulung tikar atau tinggal 14 pedagang. Sementara di lantai 1 masih terbilang aman, karena dari puluhan tempat yang disewakan, hanya tiga tempat yang kini kosong.

Penyebab banyaknya tempat yang kosong itu tentu berangkat dari ragam masalah pasar yang resmi dibuka Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid pada 27 Januari 2022 silam atau 8 bulan lalu. Diantara sebab utamanya adalah fasilitas yang rusak, seperti WC yang hanya berada di lantai 2 terkhusus WC perempuan rusak parah, belasan AC duduk tidak berfungsi, pintu utama arah barat rusak dan masih banyak lagi.

Kemudian, minimnya upaya promosi Pasar Bambaru yang jelas berdampak langsung terhadap kunjungan masyarakat umum. Sementara setiap bulan seluruh pedagang diwajibkan membayar retribusi atau SSRD sewa tempat kepada Pemda Kota Palu selaku pemilik gedung.

Jika ditelisik, pengelola saat ini Disperindag Kota Palu pun tidak bisa berbuat banyak atas ragam masalah itu. Salah satu penyebabnya bahwa dinas tersebut secara resmi belum memegang kuasa penuh mengelola, atau teknisnya saat ini Pasar Bambaru masih dalam aset Dinas PU Palu lantaran sebelumnya pasar itu dalam tahap revitalisasi.

Hal itu yang menjadikan Disperindag Palu merasa bimbang bertindak atas masalah yang acap disuarakan para pedagang. Alasannya, Disperindag Palu menghindari temuan dana seleweng bila mereka bergerak memakai uang APBD untuk perbaikan pasar.

Dilema pengelola itu memang telah mencuat bahkan jauh sebelum Pasar Bambaru resmi beroperasi.

Bahkan kini suasana tersebut masih terjadi. Buktinya, antar instansi pemerintah terkait tidak serius mengatasi masalah pasar ini. Padahal diketahui uang belasan miliar rupiah APBD Palu telah terserap hanya untuk revitalisasi menyeluruh. Belum lagi kerugian-kerugian yang dialami para pedagang yang sudah kadung berdagang namun sepi pembeli hingga tutup. Tentu bila pedagang gulung tikar, pendapatan kas daerah bersumber dari ongkos SSRD pedagang nihil.

Reporter: M. Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas