Andi Darmawati. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Andi Darmawati Tombolotutu*

PEMBERIAN gelar profesor diatur dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005. Undang-undang tentang guru dan dosen tersebut menjelaskan, profesor adalah jabatan fungsional tertinggi yang diberikan kepada dosen di lingkup perguruan tinggi. Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan GURU BESAR yang selanjutnya disebut profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi.

Dosen mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan tinggi yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengakuan kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik. Kalimat “yang masih mengajar” digaribawahi yang mempunyai arti bahwa jabatan guru besar hanya akan digunakan oleh dosen yang bersangkutan jika masih aktif dan akan ditanggalkan seiring memasuki masa purnabakti.

Guru besar atau profesor bukanlah jenjang pendidikan tertinggi, tetapi jabatan fungsional tertinggi setelah seorang dosen melewati jabatan Lektor Kepala atau associate professor. Pada jabatan Lektor Kepala/associate professor inilah seorang dosen terbiasa dan mampu mempersiapkan diri menuju ke jabatan profesor dengan memenuhi berbagai persyaratan ke jabatan profesor seperti telah terbiasa menulis artikel yang akan dipresentasikan pada berbagai seminar nasional maupun internasional, menulis buku, menjadi pembicara di berbagai pertemuan ilmiah serta kegiatan ilmiah lainnya,. Guru besar merupakan jabatan fungsional tertinggi seorang dosen di perguruan tinggi. Bagi seorang dosen, menjadi profesor adalah gabungan antara ambisi, prestasi, gengsi, sensasi, dan ekonomi, sehingga tidak mengherankan berbagai cara ditempuh guna mendapatkan gelar ini yang akhirnya hanya mendapatkan pengakuan secara administrasi tetapi tidak secara substantif.

Statistik Pendidikan Tinggi 2021 mencatat hanya 7.192 (2,25 persen) dosen yang bergelar profesor dari sebanyak 320.052 dosen di Indonesia. Jumlah tersebut sangat jauh di bawah jumlah ideal profesor di Indonesia sebanyak 10 persen.

Aneka jenis dosen dan profesor Berdasarkan motivasinya, dosen PT di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi enam (Sutawi, 2006).

Pertama, dosen akademis. Dosen kelompok ini aktif mengumpulkan prestasi-prestasi akademis.

Kedua, dosen politis yang senang mengejar jabatan-jabatan struktural baik di lingkungan perguruan tinggi maupun di luar kampus. Dosen kelompok ini merasa terhormat jika memegang jabatan struktural.

Ketiga, dosen sosialis yang menjadikan profesi dosen sebagai status sosial yang bergengsi di masyarakat. Umumnya dosen sosialis telah memiliki status ekonomi yang mapan dari sumber pendapatan lain yang lebih banyak, sehingga yang mereka butuhkan adalah status sosial.

Keempat, dosen kapitalis yang berusaha memperbanyak kekayaan finansialnya baik melalui kegiatan akademis, politis, maupun bisnis, dengan memanfaatkan nama PT-nya. Tidak jarang mereka juga melakukan kegiatan bisnis dengan/dan di lingkungan PT-nya.

Kelima, dosen selebritis yang pandai menganalisis fakta dan mengolah kata-kata, serta sering tampil di berbagai media diskusi, debat publik, seminar, talk show, dan sejenisnya.

Keenam, dosen agamis yang menjadikan profesi dosen demi pengabdian dan ibadah kepada Tuhan. Aktivitas utama mereka adalah mengajar demi mengejar pahala surga. Dari keenam kelompok dosen tersebut, dosen akademislah yang paling mudah didorong dan diharapkan menjadi guru besar dan tentu saja dosen akademislah yang dipenuhi dengan berbagai prestasi akademik, karya ilmiah yang mampu mencapai dengan baik ke jabatan profesor. Seorang guru besar dengan segala lika liku perjalanan karirnya paling tidak pernah membimbing dan meluluskan puluhan bahkan ratusan mahasiswa S1, puluhan mahasiswa S2 dan  juga puluhan mahasiswa S3.

Menjadi seorang Guru Besar membawa dua implikasi yakni pertama, harapan publik sangat tinggi kepada para profesor, sebagai pengembang ilmu pengetahuan yang mengawal standar akademik tertinggi dan kedua, karenanya, jabatan profesor seharusnya tidak dimaknai sebagai akhir  perjalanan akademik. Justru ini adalah momentum untuk lebih kontributif. Janganlah jabatan profesor ini hanya untuk kebanggaan semata, banyak dari para profesor justru tidak menunjukkan karyanya setelah jabatan diperoleh hal ini dapat dengan mudah ditelusuri dari Science and Technology Index atau SINTA Dosen. Kata profesor, berasal dari bahasa Latin profess yang diserap ke dalam bahasa Inggris yang berarti secara terbuka menyatakan atau secara publik mengklaim kepercayaan, keyakinan, atau opini seorang profesor tidak hanya menyimpan isu-isu penting yang terinformasikan atau dibenarkan, tetapi bersedia menyatakan, mempertahankan, atau merekomendasikan isu-isu penting secara terbuka, baik di dalam kelas maupun melalui tulisan karya karyanya. (*Staf pengajar pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Panca Bhakti Palu)

Ayo tulis komentar cerdas