DIBANGUN KEMBALI - Operator mengoperasikan alat berat pada lokasi proyek pembangunan kembali Jembatan Palu IV di Muara Sungai Palu di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis 1 September 2022. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merekonstruksi Jembatan Palu IV yang sebelumnya rusak akibat gempa dan tsunami pada tahun 2018 dan pembangunan jembatan tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2024 dan dibangun dengan menggunakan dana hibah dari Pemerintah Jepang melalui JICA sekitar Rp325 miliar. (ANTARA Foto/ Mohamad Hamzah/ foc)

Palu, Metrosulawesi.id – Pembangunan kembali Jembatan Palu IV sudah mulai dilakukan. Aktivitas pembangunan ulang jembatan yang menjadi ikon Kota Palu itu sudah terlihat, Kamis 1 September 2022.

Pembangunan kembali Jembatan Palu IV itu dilakukan sebagai salah satu bagian dari upaya pemulihan kembali fasilitas umum yang ada.

“Ini diinisiasi sebagai upaya untuk memulihkan aksesibilitas dan mobilitas Kota Palu yang terdampak gempa bumi dan tsunami pada 2018,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna dalam pernyataan tertulisnya, Rabu 20 Juli 2022 lalu.

Dengan dibangunnya kembali jembatan tersebut diharapkan dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi dan pembangunan wilayah Kota Palu. Selain itu juga menjadi ikon Kota Palu sehingga dapat menarik wisatawan baik dari Sulawesi Tengah maupun dari luar.

Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Kementerian PUPR di Sulteng Arie Setiadi Moerwanto mengatakan, konstruksi Jembatan Palu IV akan didesain untuk mampu menahan setidaknya dua potensi kebencanaan, yaitu tsunami dan likuifaksi tanah.

Untuk mengantisipasi dampak dari tsunami, Jembatan Palu IV akan terkoneksi dengan jalan elevated yang mampu meredam energi gelombang pada saat tsunami. Energi yang terpecah ini mampu mengurangi potensi kerusakan yang ditimbulkan ketika gelombang air laut menyeruak ke daratan.

“Jadi bukan menahan tsunami nya tetapi agar energi gelombangnya diperkecil,” ujar Arie.

Berkaca dari kejadian tsunami pada 2018 silam, waktu evakuasi saat tsunami atau golden time di pesisir silebeta ini hanya empat menit. Padahal menurut Arie, golden time di lokasi tsunami lain jauh lebih longgar, yaitu 15 menit. Maka Jembatan Palu IV, elevated road, dan kawasan sekitarnya akan berfungsi sebagai tsunami shelter.

“Jadi nanti dibalik jalan ini, dalam empat menit masyarakat bisa evakuasi kesini,” jelasnya.

Pondasi dan ketinggian Jembatan Palu IV juga didesain dengan mempertimbangkan nilai seismik gempa dan tsunami. Yakni berdasarkan peta risiko gempa dengan bentang total 2.500 meter.

Untuk memitigasi potensi likuifaksi yang cukup besar, diameter pondasi-pondasi jembatan ini akan lebih tebal dan ditanam lebih dalam daripada jembatan pada umumnya.

Faktor ini membuat Jembatan Palu IV menyandang status jembatan khusus dan akan menjadi laboratorium lapangan bagi ASN Kementerian PUPR yang sedang menempuh studi magister Super Special Jembatan Khusus.

Desain Jembatan Palu IV telah mendapatkan persetujuan rekomendasi dari Menteri PUPR pada 5 Maret 2020, setelah mendapatkan rekomendasi dari Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) pada 3 Maret 2020.

“Kami optimistis desain ini menjadi sistem mitigasi bencana tsunami yang baik, sehingga diharapkan akan terwujud pesisir Silebeta yang tangguh bencana,” tukas Arie.

Untuk diketahui, pembangunan kembali atau rekonstruksi Jembatan Palu IV dilaksanakan menggunakan dana hibah dari Pemerintah Jepang sebesar Rp 325 miliar melalui Japan International Coorporation Agency (JICA). Proses konstruksi akan dilakukan oleh kontraktor dari Jepang, yaitu Tokyu Construction dengan menggandeng PT Waskita Karya (Persero). Konstruksi ditargetkan selesai Juni 2024 mendatang.

Reporter: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas