Salah satu pengusaha telur ayam yang ada di Kota Palu saat beraktivitas di peternakan. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Beberapa minggu terakhir naiknya harga telur ayam membuat banyak masyarakat dan pelaku UMKM yang mengeluh karena itu. Hal ini disebabkan karena produksi dari para peternak dalam sehari sudah sangat berkurang.

“Ini yang menjadi persoalan harga di atas normal karena produksi kurang. Sedangkan jumlah konsumen tetap bertambah,” kata Ketua Kelompok Ternak Saudara Unggas, Rustam saat dihubungi Metrosulawesi melalui gawai, Senin (29/8).

Apalagi, lanjut Rustam, Day Old Chick (DOC) atau anak ayam yang berumur satu hari dan biaya pakan juga ikut mahal. Sehingga, ia mengungkapkan bahwa secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kenaikan harga telur ayam ditingkat peternak.

“Produksi menurun 30 persen atau tinggal 1.500 rak per hari. Sebelumnya kami mampu hasilkan sebanyak 5.000 rak sehari khusus untuk Kelompok Ternak Saudara Unggas. Tapi sekarang turun drastis produksi telur ayam karena pemeliharaan dan pakan naik,” ungkapnya.

Begitu pula, kata dia, dengan penyaluran bantuan sosial program keluarga harapan (Bansos PKH) dari pemerintah yang bulan ini serentak dikucurkan. Bahkan, ia mengaku hal tersebut juga akibat dampak pandemi covid dan PPKM yang tahun lalu  diberlakukan.

“Sehingga ada pengurangan populasi dan kita tidak mampu melayani keseluruhan. Anggota kelompok saat ini tercatat hanya tersisa 60 orang, dari 83 anggota karena mereka tidak bisa bertahan dengan kondisi maupun permodalan,” ujarnya menambahkan.

Sama halnya diungkapkan Wahidah selaku Pengusaha ayam petelur di Kota Palu. Dirinya mengaku sulit untuk menambah produksi akibat imbas  kenaikan harga pakan. Sedangkan, ia mengungkapkan untuk harga pakan saat ini dikisaran Rp495 – 500 ribu per karung.

“Padahal harga pakan waktu itu hanya Rp450 ribu per karung. Sekarang sudah tinggi harganya. Mau tidak mau dan terpaksa dari pada kita peternak yang rugi mending harga telur ayam yang dinaikkan. Harga kalau ditingkat peternak sekitar Rp53 -55 ribu per rak,” tutur Wahidah.

Sementara itu, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu, Andriani mengatakan bahwa harga telur naik karena permintaan banyak yang bersamaan dengan penyaluran bantuan sosial program keluarga harapan (PKH)

“Permintaan banyak mengakibatkan stok berkurang sehingga harga jadi naik. Itu salah satu penyebabnya kebetulan kemarin bantuan sosial dirapel dua bulan dan baru disalurkan  sekitar pertengahan bulan lalu,” kata Andriani.

“Insya Allah, kita berharap semoga dengan telah disalurkannya bantuan sosial tersebut, stok yang ada di pasaran mulai normal lagi. Sehingga harga telur juga bisa beranjak turun ditingkat pedagang,” ujarnya menambahkan.

Pihaknya juga telah mencoba menekan harga telur ayam agar tetap stabil dengan menggelar kegiatan pasar murah yang menggandeng Perum Bulog Kanwil Sulteng dan beberapa instansi lainnya. Namun, ia mengaku bahwa hal tersebut tidak bisa memenuhi dan meredam gejolak harga

“Stok persediaan yang masuk berkurang dari pedagang maupun peternak. Sejauh ini kami hanya sebatas memantau harga dan ketersediaan barang saja. Ditingkat pengecer harga telur ayam sekarang berkisar antara Rp55-65 ribu per rak,” ungkapnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas