BERI KETERANGAN - Direktur LBH Sulteng Julianer (kiri) didampingi Deputi Rusman Rusli saat memberikan keterangan pers terkait kasus dugaan suap penerimaan calon siswa (casis) bintara Polri di Polda Sulawesi Tengah, Senin, 22 Agustus 2022 di Kantor LBH Sulteng, Jalan Yodjokodi, Kota Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • LBH Sulteng Desak Kasus Suap Casis Diproses Pidana

Palu, Metrosulawesi.id – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sulawesi Tengah mendesak kasus dugaan suap (gratifikasi) penerimaan 18 orang calon siswa (casis) bintara Polda Sulteng dilanjutkan ke proses pidana.

Direktur LBH Sulteng Julianer didampingi Deputi Rusman Rusli menegaskan, kasus dugaan suap penerimaan casis oleh Briptu D tidak mungkin hanya bermain sendiri.

Menurutnya, tidak rasional bila seorang polisi berpangkat brigadir polisi satu (briptu) menguasai uang sebesar Rp4,4 miliar.

“Selain kode etik, tindak pidananya juga harus dituntaskan,” ujar Julianer kepada sejumlah jurnalis di Kantor LBH Sulteng, Senin, 22 Agustus 2022.

Julianer juga mempertanyakan kewenangan Briptu D dalam kasus tersebut.

“Siapa sih Briptu D sampai bisa menguasai uang begitu besar. Siapa sih dia sampai memberikan iming-iming meluluskan casis,” ujar Jualiner.

LBH Sulteng, tambah Julianer akan melakukan langkah dengan melaporkan langsung ke Mabes Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atau ke Kejaksaan.

Dia juga mempertanyakan barang bukti sudah dikembalikan kepada orang tua casis.

“Tanda tanya saya, kenapa barang bukti dikembalikan? Empat koma empat miliar itu dikembalikan untuk apa? Berarti antara dua, kalau bukan kasus ini sudah ada putusan pengadilan atau incracht memerintahkan untuk mengembalikan ke masing-masing pemilik atau ini perkara dihentikan,” tegas Julianer.

Dan kalau perkara dihentikan, tambah Julianer, ya kita minta alasan kepada Polri apakah karena tidak memenuhi unsur.
LBH Sulteng juga membuka pengaduan masyarakat bila ada yang merasa dirugikan yang ada kaitannya dengan penerimaan casis ini.

“Silakan datang kemari, kita dampingi,” kata Julianer lagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, terkait dugaan suap pada penerimaan casis ini, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sulteng, Sofyan Farid Lembah juga sudah sempat meragukan kasus itu hanya menyeret Brigadir D. Dia meminta agar ada transparansi dalam pengusutan kasus itu.

“Harus mengusut dalangnya karena kami menduga ini ada sindikasi, sehingga harus ditelaah. Karena ngak mungkin uang Rp4,4 miliar itu hanya dimakan oleh seorang Briptu. Ini dugaan ada setoran,” kata Sofyan menjawab pertanyaan Metrosulawesi, Kamis 18 Agustus 2022 lalu.

Sofyan berpendapat dugaan kasus ini memiliki jejaring bukan tanpa alasan. Apalagi tersangka yang terseret oleh Polda Sulteng diklaim tidak masuk dalam panitia penerimaan siswa bintara. Adapun Briptu D masuk di kepanitiaan seleksi kesehatan.

“Karena ada uang yang beredar jual beli rekrutmen, dia (Briptu D) tidak bisa bekerja sendiri. Tapi dia masuk kesehatan, itu pintu awal untuk masuk kepenerimaan casis, ” katanya.

Sofyan menambahkan kasus jual beli casis hampir terjadi setiap tahun. Ombudsman sendiri telah menerima sejumlah laporan dalam rentang waktu 2017-2019. Sejumlah korban mengaku gugur dalam tes kesehatan yang menurut dia jadi pintu awal suap. Namun karena laporan dicabut, kasus akhirnya tak bisa dilanjutkan.

“Inilah momen bagi Kapolda untuk bersih-bersih terutama di SDM, karena kasus seperti ini tidak jadi rahasia umum lagi. Polisi harus terbuka mengusut tuntas agar kasus tak berulang hampir setiap tahun,” tutur Sofyan.

Sebagai informasi, Briptu D ditangkap tim Subdit Paminal Polda Sulteng pada 28 Juni 2022 lalu. Ia ditangkap beserta barang bukti uang sebesar Rp4,4 miliar hasil suap dari 18 Casis Polri.

Kepada wartawan Rabu (17/08/2022), Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Pol Didik Supranoto mengungkapkan pihaknya saat ini tengah memeriksa sejumlah saksi termasuk orang tua casis yang membayar. Ia juga menyebut telah memberhentikan para casis yang sebelumnya telah lolos ikut pendidikan.

Seperti diberitakan, Briptu D mengaku dalam melakukan aksinya tidak melibatkan pihak lain, melainkan dirinya sendiri. Meski demikian pengakuannya masih didalami penyidik Propam Polda Sulteng.

Reporter: Pataruddin
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas