Muhlis Hadrawi. (Foto: Dok)

Oleh: Muhlis Hadrawi*)

JABATAN yang diperoleh La Mappapenning sebagai Ponggawa Bone tersebut adalah jabatan yang pernah pula diduduki oleh ayah kandungnya, La Masellomo Laoé ri Luwu. Bahkan La Temmassonge sendiri sebelum menjadi raja Bone, pernah pula memangku jabatan tertinggi kemiliteran Bone pada masa raja Bataritoja Daeng Talaga. Antara La Temmassonge dan Bataritoja menurut catatan lontara disebutkan keduanya memiliki hubungan saudara tiri, yakni sama-sama anak dari La Patau Matanna Tikka, hanya saja ibu kandungnya berbeda. 

Terkait dengan jabatan menjadi Arung Tibojong, La Mappapenning juga diangkat menjadi Panglima Perang Ponggawa. Sebagaimana dengan pejabat Ponggawa Bone sebelumnya, La Mappapenning kemudian memperoleh tugas dari Raja Bone melakukan pengembaraan ke pelbagai tempat di kepulauan Nusantara terkhusus pada wilayah kuasa/pengaruh Bone. Salah satu tugas muhibah yang dijalankan La Mappapenning  adalah mengunjungi Suwawa pada pertengahan abad ke-18 yang pada masa itu dalam kondisi keamanan tidak stabil. Pendegelesian La Mappapenning ke Suwawa terkait dengan terjadinya konflik politik pada tiga kerajaan sekerabat yaitu Suwawa, Bintauna dan Bone-Bolango. La Mappapenning dipastikan berangkat ke utara menuju Suwawa pada penghujung tahun 1756 mengemban tugas dari raja Bone yang tidak lain adalah mertuanya sendiri.

Hubungan La Mappapenning dan La Temmassonge terbaca sebagai hubungan yang sangat dekat. Jika mencermati silsilah kebangsawanan La Mappapenning dan jabatan yang diraihnya dalam istitusi kerajaan, maka ia kemudian menjadi seorang aristokrat. Bahkan La Mappenning  memiliki status aristokrat yang berwibawa kerajaan Bone dengan darah kebangsawanan Bone dan Gowa. La Mappapenning pun sebagai bangsawan istana Bone dan Gowa sekaligus yang memiliki kelayakan untuk menduduki tahta Bone dan Gowa. Meskipun demikian, dalam masa hidupnya beliau tidak pernah menaiki singgasana raja, baik di Bone, maupun di Gowa.

Secara khusus perbincangan relasi antara kerajaan  Suwawa dan kerajaan Bone lebih tampak pada masa pemerintahan raja Bone La Temmssonge (1749-1775) dan La Tenritappu (1775-1812). Hal yang lebih istimewa lagi karena kedua raja Bone ini memiliki catatan harian yang dalam beberapa momen tidak luput mencatat peristiwa dan tokoh. Catatan harian itu juga mengungkapkan aristokrat kerajaan Bugis Bone yang dicatat pernah diberikan tugas khusus membawa misi ke Suwawa.

Pada saat yang sama La Mappapenning juga mengemban tugas mengamankan perairan Banggai dan Teluk Tomini. Keberangkatan dengan misi-misi khususnya itu, La Mappapenning didampingi oleh pembesar-pembesar Bugis seperti Arung Tonra, Arung Panynyiwi, Arung Tibojong, dan Arung Tanete. Misi utama La Mappapenning yang diembannya itu adalah menyelesaikan konflik yang melanda kawasan Suwawa dengan kerajaan tetangganya.

Pengamanan Perairan Banggai dan Teluk Tomini (Tomini Bocht)

Sebenarnya, urusan politik di kawasan Teluk Tomini oleh raja Bugis dan Makassar, bukanlah pertama kali dijalankan raja Bone pada masa La Temmassonge dengan jenderal lapangan La Mappapenning. Ekspedisi ke wilayah utara ini lebih awal sudah dijalankan oleh raja Bone sebelumnya yaitu Arung Palakka (1670-1696) dan La Patau Matanna Tikka (1696-1714). Ekspedisi-ekspedisi selanjutnya masih dilanjutkan oleh raja-raja Bone sehingga mengesankan adanya pola pelebaran dan kendali kuasa terhadap negeri-negeri bekas taklukan Gowa. Secara khusus pada masa raja Bone La Patau, beliau juga pernah mengirim ekpedisi militer ke  kerajaan Tambora. Ekspedisi Tambora itu dipimpin oleh panglimanya bernama I Mappasessa seorang putra Bulobulo. Kerajaan Bone berhasil menjalankan misinya itu dengan menaklukkan Tambora sehingga orang Tambora disumpah agar bersedia mengikut kepada kuasa Bone. Setelah menyelesaikan tugasnya, I Mappasessa dan pasukannya kembali ke Bone. Sebagai hadiah kepada I Mappasessa, ia  kemudian dinobatkan menjadi Arung Bulobulo dengan cara menggantikan I Mappakana Daeng Majjaji walaupun masa pemerintahannya belum berahir[Gissing, 2010:78-79].

Sumber Melayu juga menyebut nama Ince Abdul Rahman yang bergelar Datuk Sabutung. Ia seorang petinggi Melayu dan memiliki keturunan Bugis Bulobulo Sinjai. Dia disebut turut serta menjalankan misi perintah pengamanan ke Luwuk Banggai menyertai La Mappapenning dalam rangka pengamanan kawasan perairan Teluk Tomini. Keturunan Ince  Abdul Rahman teridentifikasi pada Lontara Bulobulo dan sejalan dengan Silsilah Melayu. Dalam Lontara Bulobulo, disebutkan Ince Abdul Rahman anak dari putri Bulobulo yang bernama I Patimang [Fatimah]. Fatimah adalah anak dari I Mappasawe dan I Dala. Adapun ayahanda Ince Abdul Rahman bernama Ince Abdul Mannan Amir  yang menikah dengan I Patimang. Secara khusus Ince Abdul Rahman membawa misi yang secara khusus bertugas untuk menangkap para bajak laut yang semakin merajalela di gugusan pulau-pulau Banggai. Keberangkatan Ince Abdul Rahman itu sebagai sayap pasukan yang menyertai ekspedisi Bone yang dipimpin langsung oleh La Mappapenning atau panggilan singkatnya La Mappa.

Ekspedisi Bone tersebut dijalankan atas perintah Raja Bone La Temmassonge dan didukung oleh Kompeni Belanda yang berkedudukan di Ujungpandang. Perihal situasi Banggai dalam kurun itu seperti yang direportasekan oleh Bernard H.M. Vlekke [2107:49]  tergambar seperti berikut. Banggai digambarkan sebagai sebuah kawasan yang lokasinya berdekatan dengan  kepulauan rempah-rempah yang terkenal, yaitu Maluku. Perairan luar Banggai kemudian disebutkan menjadi jalur pelayaran dan perdagangan bagi perahu-perahu yang bolak-balik antara Maluku dan Makassar. Pada masa itu pelabuhan Makassar sudah berada di Ujungpandang yang berdekatan dengan kediaman Kompeni Belanda di Benteng Fort Roterdam.

Di dalam sumber lontara menyebutkan bahwa ekspedisi Ince Abdul Rahman alias Datuk Sabutung adalah atas rekomendasi dari Belanda untuk membantu kekuataan pengamanan perairan Banggai; sementara itu La Mappapenning juga membawa misi untuk memastikan pengamanan wilayah seputaran Teluk Tomini. Datuk Sabutung mendapat tugas khusus untuk terhadap keamanan perairan Banggai sekaligus memastikan kelancaran  misi yang dikomandoi langsung La Mappapenning. Memang dalam beberapa catatan menginformasikan bahwa pada masa pertengahan XVIII wilayah Banggai berada dalam kondisi yang tidak aman sebagai jalur pelayaran dan  perdangan. Hal itu dikarenakan ulah para bajak laut yang seringkali menghadang nelayan-nelayan dan perahu-perahu dagang. Keluhan dan laporan banyak tiba di telinga raja Bone dan Kompeni belanda, yang seluruhnya menandakan adanya mengganggu lalulintas pelayaran.

Perlu ditambahkan bahwa Terkait dengan keberangkatan La Mappapenning ke Suwawa yang dijalankan oleh Kerajaan Bone merupakan bahagian dari kebijakan pengamanan perairan kepulauan Banggai yang saat itu sering mendapat gangguan keamanan oleh perompak-perompak di lautan. Gangguan perompak tersebut banyak dikeluhkan oleh para pedagang. Itulah sebabnya La Temmassonge melakukan kebijakan pengamanan perairan jalur perdagangan untuk kepentingan penyaluran barang-barang dagangan dari pelabuhan Ujungpandang. Kepulauan Banggai dan perairan Gorontalo juga menjadi zona perdagangan pelabuhan Makassar pada masa itu. Perlu diketahui bahwa garam adalah salah satu komoditi dagang terpenting pada masa itu diinverstikan langsung oleh  Raja La Temmssonge dan diperdagangkan ke pelbagai kawasan Nusantara.

Catatan Penutup

Sepanjang perbincangan ini dan itu tentang relasi Bugis dan Suwawa, pada ujungnya mendekatkan kita pada kesimpulan bahwa La Mappapenning bangsawan kharismatik dari kerajaan Bugis Bone menjadi tokoh diduga kuat sebagai dasar pertatutan genealogi dengan Suwawa. Tokoh aristokrat Bugis lain yang kemungkinan turut mempertautkan genealogi Bugis dengan Suwawa dan kerajaan lain di wilayah Gorontalo adalah Arung Panynyili, Arung Tonra, Arung Tibojong, dan Arung Tanete.

Sementara itu, pada masa raja  Bone La Tenritappu mencatatkan sumber lontara bilang perihal datangnya seorang dari Suwawa ke Rompegading yang bernama La Bunnue. Lontara Bilang menyebutkan beliau berasal dari negeri Suwawa. Kedatangan La Bunnue ke Makassar yakni ingin memperdalam ilmu agama dan ilmu pemerintahan pada istana raja Bone di Rompegading. Sebagaimana yang diketahui dari sumber lokal Bugis bawa La Bunnue  dikenali sebagai pribadi raja Suwawa yang tidak lain adalah Wartabone  yang dalam bahasa Bugis merupakan kata rangkaian dari: arung+ta+Bone yang artinya ‘raja+kita+Bone’. Nama wartabone dalam silsilah Suwawa adalah seorang raja Suwawa yang pernah menduduki tampuk pemerintahan dalam kurun 1830-1845. Premis ini masih perlu dipertegas lagi dengan sumber-sumber valid agar dapat diperoleh kesimpulan  yang valid pula.(*)

*) Penulis adalah Dosen Filolog Universitas Hasanuddin

Ayo tulis komentar cerdas