Muhlis Hadrawi. (Foto: Dok)

Oleh: Muhlis Hadrawi*)

SUMBER  lokal seperti  Lontara Bone dan Lontara Mandar mendokumentasikan peristiwa pengiriman armada perang itu dan menulisnya bahwa, misi itu dilakukan atas kebijakan raja Bone  La Tenrirawe Bongkangnge. Konon pada misi itu bertujuan melakukan pemberantasan terhadap perompak perompak yang merajalela di wilayah Kaili pesisir. Perlu diketahui bahwa La Tenrirawé Bongkangngé memang sudah dikenali sebagai raja Bone yang memiliki keahlian berperang dan sudah pula membangun angkatan militer Bone yang handal. Beliau juga membangun kekuatan prajurit angkatan laut dengan memperkuat kontrolnya di wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan. Sebelum menghantar misi ke Kaili. La Tenrirawe sudah membentuk  markas pasukan angkatan laut di Batupute, sebuah toponimi Barru sekarang ini sebagai kebijakan penguatan armada pengamanan Selat Makassar.

Penempatan laskar angkatan laut Bone-Soppeng di Pesisir Barat Sulawesi Selatan itu merupakan strategi pengamanan kawasan perairan utara-selatan di Selat Makassar. Perlu diketahui bahwa dalam kurun yang panjang sejak abad ke-16 kerajaan-kerajaan di kawasan perairan Palu disebutkan seringkali mengalami gangguan perompak-perompak Sulu, sehingga tidak jarang pasukan kerajaan dari Sulawesi Selatan menghantar pasukan pengamanan untuk memastikan kawasan Palu, Donggala, dan Tolitoli dalam keadaan stabil.

La Mappapenning dan Misi Perdamaian ke Suwawa

Berbagai cerita yang berkembang dalam masyarakat Gorontalo terkait dengan premis keterpautan darah Bugis dengan Suwawa, pada umumnya masyarakat percaya kalau marga famili  “Wartabone” memiliki hubungan darah dengan Bone di Sulawesi Selatan. Bagi internal keluarga rumpun famili Wartabone di Suwawa meyakini pula kalau nenek moyang kebangsawanannya berasal dari negeri Bone. Terkait dengan cerita sejarah  yang diyakini kebenarannya itu, maka bahagian tulisan ini akan membahas latar belakang sejarah hubungan genealogi Bone dan Suwawa.

Peristiwa-peristiwa sejarah terutama yang terjadi pada abad ke-18 dapat ditemukan di dalam dokumen lontara yang menyebutkan nama raja Bone sebagai pihak yang sangat penting dalam merealisasikan jalinan  politik serta kekerabatan antara bangsawan Bone dan Suwawa. Adapaun raja Bone yang dimaksudkan dipastikan tiada lain adalah La Temmassonge. La Temmassonge memangku mahkota Bone ke-16 dengan masa pemerintahan 1749-1775. La Tenritappu berhasil melanjutkan kelanggengan kedudukan sosial-politik aristokrat Bugis dan Makassar di negeri Suwawa yang sudah dirintis oleh La Temmassonge.

La Temmssonge merupakan salah satu raja yang terbaca sepak-terjangnya dalam lontara. Masa-masa pemerintahannya, termasuk hal-hal apa saja yang dilakukannya, peristiwa penting yang terkait dengannya, dengan tertibnya tertuang di dalam catatan harian sendiri. Melalui catatan hariannya itu, beliau menulis dengan cermat dan teliti peristiwa setiap hari. Catatan itu dilakukan sejak masa awal pemerintahannya  tahun 1749 hingga akhir jabatannya tahun  1775. Selama 26 tahun lamanya memerintah selama itu pula beliau menulis kisah kesehariannya dengan cermat, dari persitwa besar dan penting, sampai peristiwa kecil yang remeh-temeh.

Salah satu hal yang perlu dikenali pada catatan harian La Temmassonge adalah berita berita keseharian terkait dengan pemerintahan beserta kebijakan politiknya. Termasuklah mencatat berita pengiriman sebuah ekpedisi politik ke Suwawa. La Temmassonge mengerahkan tentaranya untuk mengatur tatanan politik Suwawa dengan mempercayakan komandonya kepa a La Mappapenning. La Mappapenning pada masanya itu menjabat sebagai Ponggawa atau pangli a perang di kerajaan Bone. Itulah sebabnya sehingga La Mappapenning memiliki nama dan gelaran lengkap yaitu La Mappapenning To Apparéwe’ Daéng Makkoling Ponggawa Bone.

Setelah urusan La Mappapenning dengan Belanda terselesaikan melalui mediasi raja Bone, ia kemudian mendapat tugas dari La Temmassonge mengemban misi politik ke negeri-negeri sahabat, termasuk ke Suwawa. Berita dalam catatan harian pada penghujung tahun 1756 setelah menyelesaikan perkara dengan Gubernur Belanda, La Mappapenning disebut diutus oleh raja Bone berangkat ke wilayah utara. Keberangkatan beliau membawa sebuah misi perdamaian untuk menengahi perselisihan yang tengah memanas dalam kerajaan Suwawa. Keberangkatannya dengan mandat resmi dari raja Bone, sehingga ia merepresentasikan sebagai penguasa Bone yang berwibawa. Segala ucapan dan tindakan yang dilakukan La Mappapenning dinilai sama derajatnya dengan ucapan dan tindakan raja Bone yang memiliki kuasa besar pada masa itu. Barang siapa yang menentang atau melanggar ucapan yang dititahkan La Mappapenning, maka sama halnya pelanggaran terhadap titah raja Bone yang agung.

Keberangkatan La Mappapenning ke Suwawa menggunakan perahu bersama dengan prajuritnya menempuh jalur yang memotong mulut Teluk Bone dari arah Makassar melalui Bulukumba menuju Buton dan melintasi kepulauan Selayar. Perihal jalur pelayaran yang ditempuhnya itu adalah jalur yang lazim yang menghubungkan antara Makassar dan wilayah Gorontalo melalui sisi timur pulau Sulawesi terus melalui jalur ke utara menuju arah Banggai. Terkait dengan jalur itu Pelras [2021] mengidentifikasi sebagai jalur pintas tardisional yang sudah disebutkan dalam kitab I La Galigo. Jalur tradisional itu adalah jalur konvensional pelayaran untuk mencapai wilayah Gorontalo atau Wadeng. Jalur kuno tersebut masih digunakan sebagai lalua  umum pada abad ke-17 dan 18  yang menghubungkan negeri Bugis Luwu di Sulawesi Selatan menuju Wadeng. Pelayaran perairan itu menggunakan jalur sisi timur melintasi Tompotikka atau Luwuk Banggai.

Jalur timur tersebut merupakan jalan yang lebih dominan digunakan oleh pelayar Bugis dan Makassar  menuju kawasan Gorontalo. Skema pelayaran La Mappapenning bersama pengikutnya menuju negeri Suwawa menggunakan perahu dengan titik keberangkatan dari pelabuhan Makassar kemudian memotong perairan teluk Bone dengan melintasi Selayar. Pelayaran kemudian terus dilakukan ke arah timur hingga mencapai Buton. Dari pelabuhan Buton pelayaran kemudian di arahkan ke arah utara melewati Kendari, terus menuju wilayah Banggai. Dari ujung Luwuk Banggai kemudian berbelok  memasuki Teluk Tomini (Teluk Gorontalo) yang membentang di wilayah perairan selatan dari Semenanjung Minahasa, Semenanjung Gorontalo, dan Semenanjung Tomini (Tomini Bocht), ke Suwawa. Dari Teluk Tomini kemudian perjalanan terus menuju ke utara melintasi danau Limboto. Jika terus menyusur ke arah utara, maka jalur itu akan dapat terhubungkan dengan jalur penyeberangan  menuju Teluk Kwandang di Pantai Utara.

Kronik lokal seperti attoriolong (kisah), panguriseng (silsilah), Catatan Harian (Lontara Bilang), semuanya dapat memberikan informasi yang sama mengenai sosok La Mappapenning. Ketiga sumber tersebut mencatat La Mappapenning sebagai seorang bangsawan tinggi dan aristokrat Bone. Ia  memiliki pula darah bangsawan Gowa. Silsilahnya dicatat sebagai anak dari La Masellomo dan Arung Tajong. Adapun  La Masellomo  dikenali tidak lain adalah anak dari La Pareppa To Sappewali yang dikenal sebagai raja Bone ke-18 sekaligus raja Gowa ke-20. La Pareppa memiliki seorang permaisuri yang bernama Wé Gumittiri. Sementara itu diketahui dalam sejarah silsilah Gowa dan Bone bahwa La Pareppa adalah putra dari raja Bone ke-16 bernama La Patau dari istrinya bernama I Maryama Karaeng Patukangang.

Dalam catatan sejarah La Masellomo memang tidak pernah menduduki jabatan sebagai Arung Mangkau atau Raja Bone atau Raja Gowa, namun anaknya yang bernama La Tenritappu lah yang kemudian menjadi pewaris raja Bone atau Arung Mangkau ke-23 (1775-1812) menggantikan La Temmassonge. Data tentang La Mappapenning terbaca pada teks Lontara  Sakke’ Bone sebagai berikut:

“Naiya Matinroé riSombaopu Karaéng Somba ri Gowa/ Arung Mangkau’ toi ri Boné/ Datu toi ri Soppéng/ Iyana pobainéi riasengngé Wé Gumittiri/ Najajiangngi …[139] riasengngé La Masellomo Ponggawa Boné laoé ri Luwu/ La Masellomona pobainéi riasengngé Arung Tajong/ Najajianni riasengngé La Mappapenning To Apparéwe’ Daéng Makkoling/ La Mappapenninna lao pobainéi anauré sappo sisenna ambo’na riasengngé Wé Hamida Arung Takalara’/ Najajiang ana’ eppa/ Séuwa orowané tellu makkunrai iyanaritu séuwa riaseng La Tenritappu To Appaliweng Daéng Palallo/ Iyanaé mancaji Arung ri Boné/ Séuwa riaseng Wé Yalu’ Arung Apala/ Séuwa riaseng Wé Banrigau’ Daéng Marowa/ Séuwa riaseng Wé Oja/” [Hadrawi, 2020:161].

Terjemahan:

“Adapun Matinroé riSombaopu Karaéng Somba Gowa sekaligus  menjadi Arung Mangkau’ Boné dan Datu Soppeng, dialah yang menikah dengan Wé Gumintiri. Maka lahirlah …[139] …anak yang bernama La Messellomo Ponggawa Boné Laoé ri Luwu/ La Massellomo yang menikah dengan Arung Tajong, melahirkan anak bernama La Mappapenning To Apparéwe’ Daéng Makkoling/ Selanjutnya,  La Mappapenning memperistri anak kemanakan sepupu sekali ayahnya yang bernama Wé Hamida Arung Takalara’/ Dari hasil perkawinannya  itu kemudian melahirkan empat orang anak, satu orang aki-laki dan tiga orang perempuan/ Seorang bernama La Tenritappu Daéng Palallo yang menjadi Arumponé [Raja Bone]/ Seorang anaknya bernama Wé Alu’ Arung Apala/ Seorang lagi bernama Wé Banrigau’ Daéng Marowa/ Seorang pula bernama Wé Oja/” [Hadrawi, 2020:467-8].

Di dalam Lontara Sakke’ Bone nama beliau dituliskan secara lengkap yaitu La Mappapenning To Apparéwe’ Daéng Makkoling. Tercatat pula di dalam lontara bahwa beliau pernah menjabat sebagai Arung Tibojong atas permintaan rakyat Tibojong sendiri yang mendapat restu dari Raja Bone La Temmssonge. Itulah sebabnya sehingga La Mappapenning pun mendapat bergelar Arung Tibojong. Perlu diketahui bahwa Tibojong merupakan sebuah kerajaan palili atau kerajaan bawahan Bone. Manakala La Mappapenning dalam jabatannya sebagai arung Tibojong, ia kemudian mendapat jabatan utama dala struktur kemiliteran kerajaan Bone. Ia dilantik menjadi Ponggawa Bone atau Panglima Militer Bone pada masa La Temmassonge, sang mertua.  (*)

*) Penulis adalah Dosen Fiolog Universitas Hasanuddin.

Ayo tulis komentar cerdas