KRISIS AIR - Ibu-ibu korban banjir bandang memanfaatkan air di drainase untuk mencuci pakaian. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz M. Sengka)
  • Nestapa Korban Banjir Bandang Torue

Hampir sepekan pescabanjir bandang di Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah (Sulteng). Banjir yang bandang terjadi pada Kamis, 28 Juli 2022 malam itu, masih meninggalkan nestapa bagi para korban.

Laporan: Faiz M. Sengka, Parigi Moutong

TIDAK hanya kerusakan rumah yang disebabkan banjir bandang, bencana tersebut bahkan menyebabkan tujuh korban meninggal dunia. Tiga diantaranya berhasil dievakuasi, sementara empat lainnya sampai Selasa, 2 Agustus 2022 kemarin, belum juga ditemukan.

Belum ada tanda-tanda ataupun petunjuk keberadaan keempat jenazah yang diketahui bernama Lian, Nuke, Sukasi(38) dan Afifah (3).

Tim pencarian, gabungan Basarnas, TNI, Polri dan relawan bahkan menambah masa waktu pencarian agar keempat korban hanyut tersebut dapat segera ditemukan.

Tercatat, sebanyak lima dusun yang terdampak banjir di Desa Torue. Yaitu: Dusun 1,2,3 dan 5 dengan jumlah total sebanyak 370 Kepala Keluarga (KK).

Namun Dusun 2 merupakan wilayah paling parah karena permukiman warga berlokasi tepat di muara sungai. Sebanyak tujuh rumah hilang seketika tersapu banjir. Sementara ratusan rumah lainnya mengalami rusak ringan, sedang hingga berat.

Ada juga yang kehilangan perabotan. Dari kejauhan, rumahnya tampak utuh, akan tetapi perabot beserta seluruh isinya tertimbun lumpur. Belum lagi sejumlah barang peting yang ikut hanyut terbawa air saat musibah itu terjadi. Bahkan sisa banjir masih tampak terlihat di beberapa rumah karena belum dibersihkan.

Sebagian warga yang rumahnya telah dibersihkan oleh relawan, memilih untuk kembali ke rumah mereka dengan alasan tidak nyaman tinggal di pengungsian. “Sudah tidak enak di sana (pengungsian), itu kan masjid. Saya dengan keluarga memilih di rumah saja. Lebih nyaman,” ungkap Bennu, warga Dusun 2.

Secara pribadi, Bennu mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, relawan serta dermawan yang bisa menyisihkan waktu untuk peduli dengan mereka. Apalagi ditambah dengan bantuan makanan pakaian yang tak kunjung berhenti setiap hari.

Namun kata dia, ada satu kebutuhan paling utama yang belum didistribusikan secara maksimal, yaitu air bersih. Pasalnya, dirinya maupun warga lain merasa kekurangan air bersih, khususnya untuk konsumsi, mandi dan mencuci seluruh barang yang yang terendam lumpur.

“Saya belum pernah mandi. Pakaian ini saja kita cuci pakai air laut saja, mau dapat air dari mana, memang ada tapi selalu habis, kalau air laut bisa pakai sampe puas,” ujar Bennu yang juga seorang nelayan tradisional di desa itu.

Keluhan Bennu dipastikan benar. Betapa tidak, sebagian warga juga tampak mencuci pakaian mereka di saluran drainase karena tidak memiliki air barsih.

“Butuh air kak. Iye terpaksa cuci di sini. Tapi kita kasih bersih lumpurnya saja dulu, nanti kalau pakai sabun baru pakai air bersih,” katanya sembari tersenyum.

Dikonfirmasi di lokasi bencana, Kepala Markas palang Merah Indonesia (PMI) Parimo, Srikandi Puja Passau mengatakan, sebanyak lima truk tangki yang telah dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan para korban. Namun tetap saja masih kurang karena digunakan tidak sesuai peruntukan.

Padahal menurutnya, seluruh OPD yang melibatkan Dinas Pekerjaan Umum, Pernataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah menyiapkan dua unit truk tangki yang setiap hari beroperasi di lokasi banjir. Bahkan, PMI juga menurunkan satu mobil tanki.

“Para korban terdampak banjir, tidak hanya menggunakan air bersih yang didistribusikan untuk masak, mandi, dan cuci pakaian, tapi digunakan untuk membersihkan rumah juga, makanya kebutuhan dasar masih sangat kekurangan,” ungkapnya.

Meski begitu, wanita yang akrab disapa Puja itu menegaskan, bahwa pihaknya tetap berupaya memaksimalkan pendistribusian air bersih bagi para korban setiap hari ke seluruh dusun di Desa Torue, meski jarak tempuh pengambilan air bersih terbilang jauh.

Ia berharap, lembaga melakukan koordinasi terlebih dahulu ke Posko Induk sebelum memberikan bantuan tandon agar penempatannya sesuai dan merata.

“Memang jumlah tandon di masing-masing dusun tidak merata karena bantuan tidak semua dari kami, ada lembaga lain yang membantu tanpa koordinasi,” pungkasnya.

Dengan kondisi keterbatasan air bersih ini, tentu ancaman penyakit menjadi momok menakutkan khususnya penyakit kulit, begitu juga penyakit menular perlu diwaspadai.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Parimo sendiri sudah melakukan antisipasi serangan penyakit penyakit sejak hari pertama pasca banjir dengan membuka enap posko layanan kesehatan. Begitu juga pihak kepolisian dan lembaga lain turun ambil peran dengan membuka satu posko layanan kesehatan untuk memantau penyakit yang diderita pascabanjir.

“Sejak awal, kami membuka 1 posko induk, kemudian hari kedua, kami memasifkan dengan membuka 6 posko untuk memudahkan korban untuk memeriksakan keluhan penyakit mereka,” terangnya.

Hingga saat ini, sebanyak 261 pasien yang tercatat telah melakukan pemeriksaan di seluruh posko yang tersebar. Jumlah tersebutt belum termasuk dari posko kesehatan lain. Penyakit yang dikeluhkanpun beragam, yaitu batuk-batuk, gatal-gatal, luka lecet, ispa hingga hipertensi.

Untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan, Dinas kesehatan Parimo menurunkan sebanyak 125 tenaga terdiri dari dokter umum, bidan, apoteker serta tenaga medis lain. Mobil ambulance juga standby 1×24 jam jika terjadi kondisi emergenci.

“Kami selalu siap, karena kesehatan korban bencana banjir ini paling utama,” pungkasnya. (*)

Ayo tulis komentar cerdas