JUDUL ini terinspirasi ketika menguji seorang mahasiswa di jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi pembangunan. Mahasiswa tersebut membahas tentang pembayaran non tunai. Mereka yang memilih konsentrasi moneter dan perbankan diwajibkan menulis topik topik yang berkaitan dengan moneter dan perbankan. Di Jurusan IESP FEB Universitas Tadulako terdapat beberapa konsentrasi, satu diantaranya adalah konsentrasi moneter dan perbankan.

Mahasiswa yang memilih konsentrasi ini diwajibkan menulis tema atau judul yang aktual sesuai dengan perkembangan ekonomi moneter dan perbankan. Alat pembayaran non tunai merupakan topik yang hangat di konsentrasi ini dan sedang menyita perhatian dalam perkembangan moneter saat ini. Bukan saja di Indonesia tetapi juga dalam perkembangan moneter secara global. Apalagi saat Pandemi melanda dunia sejak akhir tahun 2019 dan menular ke Indonesia di awal tahun 2020.


Dalam transaksi perdagangan dalam perekonomian peranan uang sangat penting. Dalam pembayaran tunai biasanya alat pembayaran yang digunakan adalah uang kartal, baik uang kertas maupun uang logam. Sistem pembayaran tunai di Indonesia berkembang dari “commodity money” sampai dengan “Fiat money”.

Sedangkan dalam sistem alat pembayaran non tunai instrumen yang digunakan berupa alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), cek, bilyet giro, non debet, maupun uang elektronik (card based dan server based). Dalam sistem pembayaran non tunai di Indonesia, berkembang dari warkat seperti cek dan bilyet giro, sampai dengan yang berbasis elektronik (kartu dan elektronik money). Adanya perkembangan evolusi tersebut menurut Juhro (2020) telah mendorong peran sistem pembayaran di Indonesia menjadi semakin penting dalam perekonomian.

Lebih lanjut Juhro menguraikan bahwa alat pembayaran di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran non tunai (non cash), seperti alat pembayaran dengan penggunaan kartu seperti kartu debet (ATM) dan kartu kredit. Perkembangan kartu ATM terjadi sangat pesat, baik dari segi pemakaian, kemudahan, serta manfaat yang ditawarkan. Beberapa manfaat dari kartu ATM, misalnya, pengambilan dan penyetoran uang tunai melalui mesin ATM, transfer sesama bank atau bank lainnya, pembayaran kartu kredit, listrik, pajak, fasilitas phone banking, dan fasilitas kartu debet yang mempermudah dalam transaksi pembelian barang.

Untuk mendorong agar alat pembayaran terus berkembang, maka Bank Indonesia memberikan apresiasi dalam penggunaan alat pembayaran non tunai lebih aman, murah, praktis, dan efisien. Tersedianya sistem pembayara yang invatif, aman dan efisien merupakan faktor penting untuk memperlancar transaksi pembayaran dalam mendukung integrasi keuangan digital nasional. Terselenggaranya sistem pembayaran sebagai infrastruktur sistem keuangan dapat mendukung stabilitas sistem keuangan dan moneter.

Disamping itu, sistem pembayaran juga berperan penting untuk memperlancar aktivitas perekonomian masyarakat dan dunia usaha, dengan tetap menjaga keseimbangan antara inovasi dengan stabilitas dan praktik bisnis yang sehat, serta menjamin kepentingan nasional. . Selain itu, perluasan akses dalam sistem pembayaran dapat mendorong terwujudnya program keuangan inklusif bagi masyarakat yang belum terjangkau oleh layanan perbankan.


Signal perkembangan perekonomian yang pesat saat ini ditandai dengan kemajuan alat pembayaran. Evolusi alat pembayaran mengalami kemajuan yang amat pesat. Pergesaran penggunaan alat pembayaran dari tunai ke non tunai akan makin kentara. Apalagi jika semakin ditunjang oleh infrastruk yang makin tersedia hingga ke pelosok Indonesia. (Penulis adalah Dosen Jurusan IESP dan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FEB Untad)

Ayo tulis komentar cerdas