Hartono M Yasin. (Foto: Dok)

Poso, Metrosulawesi.id – Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) akan melatih sebanyak 800 imam dan dai di 12 kabupaten dan satu kota se-Sulteng.

“Hal ini merupakan program kerja PW DMI Sulteng, yang merupakan tindak lanjut dari visi besar DMI memakmurkan dan dimakmurkan masjid,” kata Koordinator Pelatihan Imam dan Dai PW DMI Sulteng, Hartono M Yasin Anda, di Palu, Rabu 3 Agustus 2022.

Hartono mengatakan upaya peningkatan kompetensi itu, dilakukan melakukan pelatihan imam dan dai yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia, di Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

Ia menjelaskan, 800 imam dan penceramah dari 12 kabupaten dan satu kota di Sulteng, pada teknis implementasi pelatihan akan terbagi dalam 10 angkatan, yang diselenggarakan secara berkelanjutan dalam waktu satu tahun.
Setiap angkatan, kata dia, terdiri dari 80 imam dan penceramah yang akan dibina di Pondok Pesantren Insan Cita Indonesia dengan durasi waktu 27 hari pembinaan.

“Jadi, setiap angkatan jumlahnya 80 orang, dan setiap angkatan akan dibina selama 27 hari, dengan model pembinaan atau pelatihan yang diterapkan yakni pendidikan pesantren. Maka, dalam waktu satu tahun DMI mencetak 800 imam dan penceramah,” ujarnya.

Hartono mengatakan pembinaan terhadap imam dan penceramah dilakukan sesuai dengan arahan Ketua Umum PW DMI Provinsi Sulteng H Ahmad M Ali, sekaligus sebagai upaya memakmurkan dan dimakmurkan masjid.

Karena itu, dalam pelatihan tersebut setiap angkatan akan dibekali dengan materi antara lain mengenai fiqih, musyassar/mampu membaca Alquran dengan baik dan benar, kemudian tahsin atau perbaikan bacaan Alquran, hafalan, wawasan keislaman, serta materi – materi tentang adab menyikapi perbedaan dan perbandingan mazhab.

Sehingga DMI Sulteng mengharapkan para dai dan imam dapat menjadi penyejuk di masyarakat, dengan mengedepankan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan yang telah ada di masyarakat.

“Perbedaan itu di antaranya yakni ada sebagian yang qunut saat sholat dan ada yang tidak qunut saat sholat. Perbedaan ini tidak perlu dipertentangkan, diperdebatkan. Karena itu, dibutuhkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan tersebut,” ungkapnya.

Hartono menambahkan, para dai dan imam yang telah mengikuti pelatihan, akan dibentuk satu komunitas alumni pelatihan imam dan dai, yang menjadi wadah bagi mereka dalam tukar informasi untuk pengembangan bersama. (*)

Ayo tulis komentar cerdas