TERIMA BANTUAN - Salah seorang korban banjir bandang di desa Torue menerima bantuan di Posko penyerahan bantuan pada Ahad 31 Juli 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Faiz M. Sengka)
  • Cerita Korban Banjir Bandang Torue Menyelamatkan Diri

Banjir bandang yang menerjang Desa Torue, Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong menyisakan duka. Tiga orang meninggal, empat lainnya hilang, dan ratusan warga mengungsi. Di antaranya mereka yang kehilangan tempat tinggal. Berikut kisah mereka yang berhasil menyelamatkan diri dari musibah itu.

IBU Dalimang tak mampu menahan air matanya. Ia meneteskan air matanya saat mendengar sambutan H. Datu Wajar Lamarauna sebelum menyerahkan paket bantuan dari Komunitas Warung Kopi Sudimari 2 atau K2, Ahad 31 Juli 2022.

“Teman-teman yang sering mengopi di K2 kompak untuk membantu saudara-saudaranya yang menjadi korban banjir bandang di Torue. Pesan teman-teman, bantuan diberikan langsung ke warga yang terdampak banjir,” kata Datu.

Ibu Dalimang pun tampak meneteskan air matanya di sela-sela sekitar 20 orang penerima bantuan itu. Menurutnya, rumahnya di Dusun dua yang kebetulan di pinggir pantai, hanyut terbawa banjir pada malam kejadian itu.

“Tidak ada yang bisa saya selamatkan isi rumah. Jangankan isinya, rumah pun hanyut terbawa banjir yang cukup deras. Untung saya masih dapat menyelamatkan diri,” katanya.

Ia semakin bertambah sedih. Adik iparnya, Fadlan sampai sekarang belum ditemukan setelah dinyatakan hilang.

Siti Fatimah yang juga ikut menerima bantuan bercerita, malam itu tidak ada yang dipikirkan menyelamatkan barang kecuali hanya bagaimana menyelamatkan diri. Untungnya, ia sempat keluar dari rumah dan bergantung di pagar.

“Airnya cukup deras. Semua rumah di pinggir pantai sebanyak tujuh rumah semuanya hanyut dibawa banjir. Tidak ada barang dalam rumah yang bisa diselamatkan,” katanya.

Sementara itu, hingga kemarin, Pemda telah mendirikan enam posko kesehatan. Posko kesehatan dimaksudkan untuk memberikan pelayanan kesehatan terhadap korban banjir bandang. Terutama untuk mengantisipasi penyakit diare di tempat pengungsian korban banjir bandang Desa Torue karena saat ini masih kekurangan air bersih.

“Kondisi darurat seperti ini berpotensi menimbulkan penyakit, salah satunya diare apalagi ketersediaan air bersih masih minim,” kata Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Parigi Moutong, Darlin di Torue.

Ia menjelaskan, obat-obatan disiapkan tim medis di posko kesehatan di antaranya, antibiotik, oralit, minyak angin untuk mencegah penularan penyakit, termasuk perlengkapan bayi yang telah didistribusikan ke posko pengungsian.

Selain itu, Dinkes juga secara aktif memantau kondisi korban bencana di tempat-tempat pengungsian, serta membuka pemeriksaan kesehatan gratis.

“Kami juga didukung dokter dan tenaga kesehatan dari Puskesmas terdekat, termasuk sarana dan prasarana pendukung lainnya, seperti mobil ambulans, tabung oksigen,” ujar Darlin.

Ia mengemukakan, sejauh ini belum ada temuan gejala diare di tempat pengungsian, namun sejumlah pengungsi mengalami kelelahan sehingga butuh penanganan.

“Selain penyakit diare, malaria juga berpotensi, sebab ada kami temukan pengungsi panas tinggi dan meriang, menurut dokter menangani penyakit ini mengarah ke malaria. Flu juga berpotensi terjadi,” tutur Darlin.

Ia menambahkan, Dinkes juga telah mendistribusikan kelambu kepada warga terdampak, bila masih dibutuhkan, pihaknya siap mendistribusikan kembali.

“Pelayanan hari ini kebanyakan perawatan warga mengalami luka-luka dan warga yang kelelahan. Kami juga sempat menangani ibu hamil mengalami pendarahan dan satu ibu hamil lainnya bersalin di mobil ambulans,” kata Darlin.

Hingga kemarin, bantuan untuk korban banjir bandang terus mengalir. Bantuan dari Komunitas K2 misalnya, diantar langsung oleh Datu, Jumari, Jusrin, dan Tasman. Terdapat 14 item bantuan yang sudah dipaketkan. Isinya antara lain, obat-obatan, beras, masker, susu, kopi, the, gula, biscuit, baju, perlengkapan mandi, popok bayi, dan pembalut wanita.

Penyerahan bantuan itu sebelumnya sudah dikoodinasikan dengan Kepala Desa Torue, Kalman M. Andi Mahmud. Ia memerintahkan kepala dusun agar mengumpulkan 20 kepala keluarga untuk menerima bantuan itu. Makanya, penyerahan bantuan berjalan lancer tanpa saling rebutan.

Bantuan juga datang dari Komunitas Barisan Keluarga dan Jejaring Nilam Sari Lawira yang disingkat “BLU JEANS”. Mereka menyalurkan bahan makanan dan pakaian. Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) juga ikut membantu. (**)

Ayo tulis komentar cerdas