DUREN TIGA. Anggaplah itu judul film. Film detektif. Dikisahkan. Dua ajudan jenderal berhadap-hadapan. Keduanya: Brigadir Josua dan Bharada Eliezer.

Saling mengeluarkan tembakan. Pelurunya bukan peluru karet. Tapi peluru tajam. Josua menembak tujuh kali. Eliezer menembak lima kali. Josua tewas. Lima peluru bersarang di tubuhnya. Eliezer selamat. Tak satu pun peluru dari tujuh peluru yang didesingkan Josua mampir ke tubuh Eliezer. Dia pun mendapat citra sebagai penembak ulung.

“Film” ini menarik. Di balik tembak-menembak ala kowboy itu, ada kisah “romantisnya”. Mungkin tepatnya pelecehan. Pelecehan seksual. Tak dikisahkan secara vulgar. Hanya disebutkan. Andaikan digambarkan detail, tentu lebih menarik. Tapi tidak. Entah nanti di pengadilan.

Jumat sore itu agak sepi di rumah dinas Sang Jenderal: Irjen Febry Sambo. Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta. Putri, istri Sang Jenderal, sedang beristirahat di kamarnya. Josua masuk ke rumah itu. Sementara kawannya sesama ajudan, Eliezer berada di lantai dua. Entah dari mana gairah syahwat ajudan yang juga sopir pribadi istri Sang Jenderal itu, tiba-tiba berani memasuki kamar Putri. Kamar pribadi. Pelecehan pun terjadi. Anehnya, Josua juga menodongkan pistol ke wajah Putri. Beteriaklah istri Sang Jenderal itu. Dia meminta bantuan: tolong…tolong…tolong! Mungkin begitu.

Eliezer mendengar. Berpikir sejenak. Naluri kepolisiannya bangkit. Sambil memegang senjata dia berlari menuju ke lantai satu. Tempat suara yang meminta tolong. Baru saja kakinya melangkah ke anak tangga, Josua muncul. Juga memegang senjata. “Ada apa ini?” Pertanyaan itu masih hangat di bibir Eliezer, seketika Josua mendesingkan peluru dari senjatanya. Eliezer mundur.

Berlindung di dekat tangga. Mengokang senjatanya. Seperti dalam film. Muncul sejenak. Lalu berlindung lagi. Begitu seterusnya. Eliezer diuntungkan posisinya di bagian atas. Rentetan peluru pun difokuskan ke tubuh Josua. Akhirnya dia tergelepar. Bersimbah darah.

Begitulah cerita sepihak yang berkembang. Ya, sepihak. Sebagian cerita itu disampaikan pihak kepolisian.


KELUARGA Josua tak memercayai cerita itu. Keberatan disuarakan pengacaranya. “Melihat luka-luka dalam tubuh Josua, ini pembunuhan berencana.” Sang Pengacara lantang bersuara. Terlihat raut wajahnya tak gentar. Berani!

Demi kelancaran mekanisme kerja Tim Khusus mengusut tuntas Tragedi Duren Tiga, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mencopot tiga petinggi Polri. Masing-masing: Propam Irjen Ferdy Sambo, Karo Paminal Brigjen Hendra Kurniawan, dan Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto.

Akankah ending “film” ini berakhir sesuai skenario seperti kisah “sepihak” di atas itu? Mungkin berubah. Terutama setelah jenazah Josua diotopsi ulang oleh tim dokter forensik terpercaya. Dan gaya Komnas HAM yang terkesan serius melacak kematian Josua. Terutama setelah memeriksa enam dari tujuh ajudan Irjen Ferdy Sambo. Di ruangan yang berbeda.

Di depan wartawan, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam sungguh bersemangat mengisahkan rentetan hasil lacakannya. Beberapa temuannya berlawanan dengan temuan sepihak yang berkembang selama ini. Sementara Tim Khusus bentukan Kapolri memilih bekerja dalam senyap. Mereka berjanji bila hasilnya sudah matang, maka semua temuan di lapangan akan disampaikan ke publik. Secara transparan. Tidak akan ditutup-tutupi. Itu janji Tim Khusus. Janji.

CCTV sudah ditelusuri. Dari Magelang hingga Jakarta. Komnas HAM membeberkan ke publik. Meski terkesan masih ada yang disembunyi. Mungkin menunggu hari baik. Enam ajudan, termasuk penembak ulung Eliezer, sudah diperiksa. Kepada mereka, disodorkan pertanyaan-pertanyaan mendalam. Tentu dengan gaya menyelidik ala Komnas HAM. Asisten rumah tangga di rumah dinas Ferdy Sambo juga telah diperiksa.

Tim Khusus bentukan Kapolri terus bekerja. Mematangkan bukti-bukti dari cctv. Tim yang dipimpin Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono, memegang teguh tugas yang diserahkan ke pundaknya oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

Hasil otopsi kedua jenazah Josua kini di tangan dokter forensik. Sejumlah pihak menduga hasil otopsi kedua ini akan berbeda hasil otopsi pertama. Mereka lebih percaya kebenarannya yang kedua. Semoga saja begitu.

Teman saya di kedai kopi, menilai kasus ini sederhana. Ada korban tewas ditembak. Penembaknya mengakui perbuatannya. Ada bukti cctv. Ada saksi asisten rumah tangga. Lalu mengapa Tim Khusus bentukan Kapolri dinilai lambat mengungkapnya. Apakah karena ada dugaan bukan hanya Eliezer sendiri terlibat? Entahlah.

Kapolri ingin pengungkapan kasus ini dilakukan secara mendalam dan ilmiah. Bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik dan hukum.

Informasi terbaru, kata teman saya di kedai kopi, tiba-tiba Sang Penembak Ulung Bharada Eliezer ingin mendapat perlindungan. Dia pun mendatangi LPSK. Tentu untuk dilindungi.

Saya merenung: siapa yang mengancamnya? Lalu mengapa harus takut. Bukankah dia telah mendapat citra sebagai penembak ulung? (*)

Ayo tulis komentar cerdas