PENEMPELAN SURAT - Staf BPBD Palu saat melakukan penempelan Surat Pemberitahuan pada salah satu huntap yang tidak dihuni pemiliknya, Senin sore, 20 Juni 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)
  • BPBD Palu Kembali Surati Pemiliknya Untuk Segera Dihuni

Palu, Metrosulawesi.id – Hunian tetap (Huntap) Kawasan Tondo I Kota Palu, Sulteng mengalami persoalan ihwal penghuninya. Tepatnya huntap yang dibangun oleh perkumpulan negara-negara Asean atau bantuan AHA Center, sebanyak 14 unit tak kunjung dihuni pemiliknya.

Bahkan menariknya para pemilik tersebut sudah resmi diberikan oleh Pemkot Palu dalam hal ini BPBD Palu, sejak Desember 2019 silam.

Huntap diperuntukkan warga terdampak bencana (WTB) 28 September 2018 yang berada di Kelurahan Tondo, Kecamatan Mantikulore itu seketika diberi peringatan oleh BPBD Palu agar segera ditinggali.

Bambang Sabarsyah, Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Palu akhirnya turun menempel dua carik lembar surat peringatan di pintu-pintu huntap terbengkalai itu.

“Kami beri tenggat waktu satu pekan tanggal 28 Juni 2022, jika pemiliknya tidak kunjung menghuni, langsung kami gantipindahkan kepada WTB lain yang belum mendapatkan huntap,” tegasnya kepada Metrosulawesi, Senin sore, 20 Juni 2022.

Sikap tegas tersebut bukan tanpa solusi, Bambang akan memindahkan pemilik yang tidak menghuni tersebut ke huntap lain, yang sebagian besarnya dipindahkan ke Huntap Tondo II.

Sementara surat tersebut menerakan 14 nama-nama pemilik lengkap dengan blok huntapnya yaitu Sahyuni ( A 01), Silvana Astuti Nelloh (A 10), Mentari Pratiwi (B 15), Rosnani (C 07), Rismawati (C 12), Murni M.K Maluku (C 15), Irmayanti (D 05), Hendra Sunusi (E 03), A Irwan Fasihi (E 06), Fawzie Hafidz (E 07), H.i Kadir P.Hi.S (E 10), MirawanMirawan (F 01), Nurhalis Nur (F 06) dan pemilik tanpa nama di blok A 09.

Selain itu, kata Bembi, sapaan karibnya, tak hanya di Huntap AHA Center yang dia juluki dengan ‘Penumpang Gelap’, tetapi sebanyak 40-an unit Huntap Buddha Tzu Chi urung ditinggali hingga kini.

“Kami menunggu hasil penempelan surat peringatan di Huntap AHA Center ini, kalau sudah selesai kami lanjutkan penempelan di Huntap Buddha Tzu Chi,” imbuhnya.

Padahal Bembi mengungkapkan tepat setahun lalu, 21 Juni 2021 dirinya melakukan pada 30 unit Huntap, dan akhirnya sebanyak dua pemilik tereksekusi dan dipindahkan ke huntap lain.

Hal ini patut menjadi salah satu perhatian khusus pihaknya, karena penumpang gelap tersebut dianggap sebagai hambatan atas jalannya percepatan penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Kota Palu, Sulteng.

“Karena nyatanya masih banyak sekali warga terdampak bencana yang belum resmi mendapatkan huntap, sementara desakan permintaan itu masih kami alami sampai sekarang,” tandasnya.

Reporter: M. Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas