MEMPRIHATINKAN - Kondisi memprihatinkan para penyintas bencana yang hingga kini masih mendiami Hunian Sementara (Huntara) di Kelurahan Donggala Kodi. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • 700 KK Penyintas di Palu Bertahan di Huntara

Palu, Metrosulawesi.id – Rehabalitasi dan rekonstruksi pascabencana masih menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi, terkhusus Pemerintah Kota Palu. Di Palu sendiri masih terdapat 3.000-an KK (kepala keluarga) penyintas yang belum mendapatkan hunian tetap (huntap).

Ke-3.000 KK itu ada yang masih tinggal di hunian sementara (huntara), ada yang sudah ngontrak ada pula yang menumpang tinggal di rumah keluarga.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, lewat Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Muhammad Bambang Sabarsyah, ketika ditemui di ruang kerjanya Kamis, 16 Juni 2022 mengungkapkan, sekitar 700 KK di Kota Palu masih menempati hunian sementara (huntara).

“Irisan (pembagian) angka itu masing-masing berada di huntara Kelurahan Petobo sekaligus yang paling banyak yakni 677 KK, 12 KK di lapangan golf Kelurahan Talise serta 20 KK di Kayumalue atau Mamboro,” kata Bambang.

Masih banyaknya keluarga yang tinggal di huntara itu masih menjadi perhatian khusus pihaknya selama ini.

“Karena kita sepakat yang namanya huntara itu hanya sementara, bahkan segala dampak buruk seperti kerusakan bangunan hingga rentan terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak kan sudah terjadi. Ini yang jadi perhatian kami,” jabarnya.

“Penghuni huntara ini kan beragam, ada warga yang sudah tercatat menerima huntap ada juga warga yang dulunya tinggal di kos-kosan atau kontrak, sehingga mereka tidak berhak dapatkan huntap. Makanya (penanganan) ini tidak bisa sebenarnya kalau hanya lembaga kami,” imbuh Bambang.

Data mutakhir yang diterima Metrosulawesi, hampir mencapai angka 3.000 warga Kota Palu telah dan bakal menerima huntap.

Adapun pilahan data itu mengacu dari 1.288 KK mendapat Huntap Tondo II, 677 KK di Huntap Kawasan Petobo, Huntap Talise Valangguni sebanyak 690 KK, Huntap Relokasi Mandiri berjumlah 260 KK serta sekitar 10 KK di Mamboro.

“Data-data WTB (warga terdampak bencana) di atas tentunya dinamis ya, karena banyak sebab mulai dari aturan hingga seleksi layak tidaknya nama-nama itu mendapat Huntap,” lanjut Bambang.

“Intinya kami sampai hari ini dan seterusnya mengawal terus proses ini sampai tuntas, dan BPBD sejauh ini sudah menyelesaikan tugasnya di samping sangat minimnya anggaran penanganan ini. Tetap lah kami kerjakan tugas kemanusiaan ini,” ungkapnya.

Reporter: M. Faiz Syafar
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas