Sam Edy Yuswanto. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Sam Edy Yuswanto

RASANYA aku masih belum percaya memiliki seorang pacar yang berprofesi sebagai selebgram. Profesi yang beberapa tahun belakangan begitu marak di dunia maya dan banyak digeluti oleh kaum muda yang memiliki paras menawan dan postur tubuh proporsional.  Awalnya, aku mengenal Landung, cowok berparas ganteng dan bertubuh atletis itu secara tak sengaja. Aku masih ingat, waktu itu aku sedang sibuk menjelajahi internet, mencari data-data buat referensi skripsiku yang tak kelar-kelar. Di tengah rasa jenuh menggarap tugas akhir itu, iseng-iseng aku membuka akun instagramku. Dari situlah semua bermula. Saat aku menengok beranda instagram, bermunculanlah sederet akun-akun selebriti ternama dan deretan selebgram dengan foto-foto beragam pose.

Jariku langsung terhenti. Kedua mataku terpana saat menatap sebuah foto cowok berparas  ganteng mengenakan celana jeans hitam dan kaus hitam lengan pendek dipadu hem lengan panjang kotak-kotak biru terlipat sesiku dengan kancing dibiarkan terbuka. Posenya terlihat begitu gentle dan natural; memperagakan gaya kuda-kuda dengan background alam pegunungan kehijauan. Posenya langsung mengingatkanku pada aktor ganteng Iko Uwais. Ah, bahkan wajah Landung menurutku lebih ganteng dari aktor yang kerap bermain dalam film laga itu.  

“Ganteng banget, sih” gumamku refleks dengan mata berbinar. Tak hentinya aku mengezoom dan menatap lama wajah Landung yang tak membosankan.

Selanjutnya aku pun langsung memfollownya. Tak dinyana, ia langsung merespon bahkan memfollow balik akun instagramku. Iseng aku mengirim pesan DM (Direct Message). Menyapa basa-basi dengan kalimat klise; “Terima kasih ya sudah mau berteman denganku”. Tak lupa, kuselipkan emoji tersenyum dan kedua tangan menangkup sebagai tanda terima kasih.

Aku merasa sangat bahagia sampai-sampai lupa dengan kepusinganku menggarap tugas akhir kuliahku saat ia begitu respon membalas pesan-pesan berikutnya melalui DM. Dari situlah kedekatan kami bermula. Dari situ pula aku akhirnya mengetahui profesinya sebagai selebgram yang cukup banyak menerima endorse atau iklan dari beragam produk makanan, minuman, hingga busana berbagai merek. Dari situ pula hubungan kami terasa makin dekat dan berselang sebulan kemudian sejak mengenalnya, kami akhirnya jadian; sebagai sepasang kekasih.


Notifikasi yang bersumber dari ponsel yang sedang kuiisi baterai di meja belajar langsung membuyarkan lamunku yang tengah membayangkan kapan aku bisa bertemu Landung. Ya, kami memang belum pernah sekali pun bertemu. Selama ini kami memang hanya pacaran secara online karena kami berada di kota yang berbeda. Mestinya sih, bila menghitung jarak tempuh, kota kelahiranku dengan kota tempat ia bermukim tak terlalu jauh. Hanya butuh waktu kurang lebih sejam bila ia benar-benar serius mau bertemu denganku. Aku bermukim dan tetap memilih berkuliah di Purworejo, sementara ia di Yogyakarta.

Pernah beberapa kali aku memintanya untuk datang ke kotaku. Tapi ia mengatakan belum bisa. Alasannya, sibuk dengan kegiatan fotografinya untuk kepentingan iklan dan sebagainya. Tentu saja aku berusaha memakluminya mengingat profesinya sebagai selebgram yang saat ini telah memiliki follower 3,6 juta.

Agak tergesa segera kucopot kabel charger di ponselku yang daya energinya belum terisi penuh, baru 75 persen. Aku yakin, notifikasi tersebut berasal dari pesan yang dikirim Landung. Benar saja. Saat aku mengecek notifikasi, ternyata Landung mengirim pesan melalui DM instagram.

Mita, besok kita bisa ketemu, nggak?

Aku nyaris terpekik saat membaca pesannya. Berkali kubaca pesan itu saking senangnya. Sungguh aku merasa ini masih seperti mimpi. Setelah sekian lama berpacaran dengan Landung via online, pada akhirnya ia mengajakku kopi darat. Ah, aku benar-benar tak sabar ingin segera bersua dengannya. Dengan tangan sedikit bergetar, aku pun segera membalas pesannya.

Bisa, di mana?

Di alun-alun Purworejo saja, kebetulan besok siang aku ada pemotretan di Goa Seplawan, rencananya aku mau mampir ke alun-alun sebentar, ketemu kamu sekalian ingin ngerasian es dawet ireng sama kupat tahu khas kotamu.

Eh, kok tahu kalau dawet ireng dan kupat tahu itu kuliner khas kotaku?

Ya tahu dong, kan aku baca lewat internet, tapi bukan tahu Sumedang, ya?

Hehehe.

Aku tergelak mendengar candaannya.

Obrolan ngalor-ngidul via DM pun mengalir seperti biasa. Meski setiap hari kami saling berkirim pesan dan sering membicarakan hal remeh-temeh, tapi entah mengapa aku merasa tak bosan.


Dan di sinilah aku sekarang. Di area alun-alun Purworejo , aku sangat bersyukur, sedang tak begitu ramai. Sudah sepuluh menit aku duduk sendirian dengan rasa gelisah dan dada berdebar di salah satu kursi besi berukir yang ada di alun-alun, tepatnya kursi yang berada tak jauh dari samping air mancur yang di belakangnya ada tulisan “Alun-alun Purworejo”.

Berkali-kali aku menatap wajahku melalui layar smartphoneku, sekadar memastikan rambut hitam sebahuku sudah rapi dan riasan wajahku tak terlalu berlebihan. Jujur aku merasa kurang percaya diri dengan pertemuan ini. Ada semacam kekhawatiran bila nanti terjadi hal-hal tak diinginkan. Hal paling mencemaskanku ialah; aku merasa takut kalau-kalau Landung merasa kecewa setelah bertemu denganku. Aku takut ia tiba-tiba berubah pikiran saat melihat wujud asliku yang mungkin tak secantik sebagaimana foto-foto yang kerap aku unggah melalui akun instagramku.

Saat pikiranku tengah berkecamuk tak karuan, tiba-tiba terdengar suara yang begitu lembut menyapaku dari belakang.

“Hai, Mita, ya?”

Setengah gugup kutolehkan wajah. Keningku berkerut saat menatap sosok cowok yang kuyakini benar memang Landung tapi ternyata…. benar-benar di luar perkiraanku.

“Eh, i… iya, Lan… Landung?” sambil berdiri, aku mengulurkan tangan dengan ragu.

“Iya, aku Landung, ngomong-ngomong udah lama nunggunya?” ia tersenyum dengan gesture yang…. oh Tuhan, ternyata ia cowok yang sangat gemulai. Tak hanya suaranya yang meliuk-liuk manja, tapi juga gerak tubuhnya saat berbicara. Entah kenapa tiba-tiba kepalaku diserbu rasa pening. Sialnya, perasaan suka yang telah lama bersemayam di hati ini, dalam waktu sekejap hilang entah ke mana.

“Eh, ki… kita ngobrol sambil makan, yuk?” aku berusaha bersikap wajar agar ia tak curiga.

“Makan di mana, Ta, jauh nggak sih tempatnya,”

“Deket, kok, katanya mau dawet ireng sama kupat tahu, hehe,” aku menunjuk tempat orang-orang berjualan beragam kuliner yang cukup luas di seberang alun-alun.

“Iya, Ta, pingin banget ngerasain dawet ireng sama kupat tahu khas Purworejo,” sahut Landung dengan kedua sudut bibir mengembang. Entah mengapa aku tak begitu memperhatikan senyumnya, tapi aku lebih fokus ke warna bibirnya yang terlalu kemerahan. Aku tebak, cowok ini pakai lip gloss, deh. Ya Tuhan, aku sebagai cewek saja belum pernah pakai begituan.  


“Enak banget es dawet irengnya, kupat tahunya juga cucok meong, Ta,”

Aku nyaris tertawa tapi sekuat tenaga kutahan saat mendengar nada bicara Landung yang sangat lembut dan manja mirip perempuan. Bahasa yang ia gunakan benar-benar membuatku langsung merasa gimana gitu dan serta merta mengingatkanku pada gaya bicara presenter cowok yang begitu gemulai saat memandu acara gosip para artis di salah satu stasiun televisi swasta. Tiba-tiba aku merasa sangat risih. Hatiku berkecamuk. Kalut. Ada perasaan menyesal yang menyerbu bertubi-tubi dalam hati ini; mengapa aku begitu terburu nafsu ingin berpacaran dengannya hanya karena takjub dengan foto-foto gantengnya yang kerap ia unggah di instagram? Ah, begitu bodohnya aku tertipu dengan dunia maya yang seperti fatamorgana. Betapa bodohnya aku yang selama berhubungan dengannya tak pernah sekali pun video call atau paling tidak mengobrol melalui telepon agar bisa mengenalnya secara lebih dekat. Betapa bodohnya aku yang…

“Mita, kok diem mulu sih, biasanya ceriwis kalo ngobrol lewat DM,” ucapan Landung membuat lamunanku ambyar seketika.

“Eh, ma… masa sih, hehe,” aku menanggapinya dengan rada gugup. Jujur tiba-tiba aku merasa ketakutan kalau-kalau ia mampu membaca ekspresiku yang langsung hilang selera bertemu dengannya. Memang, wajah asli Landung agak sedikit berbeda dengan foto-foto yang biasa ia unggah di akun instagramnya. Meski tak seganteng sebagaimana foto-fotonya, tapi menurutku hal itu wajar. Karena foto bisa diedit agar terlihat lebih menarik. Sebenarnya aku tak begitu mempermasalahkan hal ini, karena jujur aku akui wajah Landung masih terlihat begitu rupawan. Yang hatiku sulit menerima adalah cara bicara dan gesturnya yang ternyata seperti perempuan. Bukan, sama sekali aku bukan sedang melecehkan pembawaannya yang mungkin sudah bawaan sejak lahir. Aku sangat menaruh respek dengan orang-orang berkepribadian seperti Landung. Di kampus, aku juga mengenal beberapa teman dengan tipikal seperti Landung dan aku berteman akrab dengan mereka karena ternyata kepribadian mereka sangat ramah dan menyenangkan. Tapi untuk berpacaran dengan sosok seperti Landung, jujur aku tak bisa. Ia bukan tipe lelaki idamanku.   

“Kamu nggak suka ya setelah melihat asliku seperti ini? Jujur aja, aku nggak apa-apa, Ta. Aku tahu diri kok, Ta,” kata-kata yang mengalir lancar dari bibir Landung benar-benar di luar perkiraanku. Ternyata ia cowok yang sangat peka saat melihat ekspresi dan sikapku yang tak bisa dimanipulasi dengan keramahan dan senyum sekali pun.            

Pertanyaan Landung membuat kepala ini kian terasa pening. Aku benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskan padanya. Aku benar-benar bingung memilih kata-kata yang tepat dan tak menyakitkan bahwa yang aku inginkan sekarang hanyalah sebatas sahabat, bukan sepasang kekasih sebagaimana sebelumnya.

Biodata Penulis: Sam Edy Yuswanto, lahir dan berdomisili di kota Kebumen. Ratusan tulisannya telah tersiar di berbagai media cetak, lokal hingga nasional, antara lain: Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Jateng Pos, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.

Ayo tulis komentar cerdas