PENCANANGAN - Pelepasan bibit ikan nila di dalam kolam terpal plastik di Desa Maralee, Kecamatan Petasi Barat. (Foto: Istimewa)
  • Program ‘Gempar’ dan ‘Pajeko’ Morut

Morut, Metrosulawesi.id – Gubernur Sulawesi Tengah H. Rusdy Mastura yang diwakili Kepala Dinas Tanaman Pangan Nelson Metubun. SP, meluncurkan program khusus pengentasan kemiskinan dan stunting Pemkab Morowali Utara yang diberi nama ‘Gerakan Pemanfaatan Pekarangan’ (Gempar) dan ‘Pengembangan Jenis Komiditi Unggulan (Pajeko).

Acara peluncuran program strategis itu dilaksanakan di Desa Maralee, Kecamatan Petasia Barat, Selasa 26 April 2022, dihadiri Bupati Morut Delis J. Hehi, Wabup Morut H. Djira, Ketua Tim Penggerak PKK Morut Febrianthy DJ. Hehi, Kepala Dinas Perikanan Yunber Bamba, Kepala Bapelitbangda Gersom Tandi, Kepala Dinas PUPR Destuber Matoori, Dandim Morowali, Camat Petasia Barat serta para penyuluh pertanian dan perikanan.

Bupati Morut Delis J. Hehi melaporkan kepada gubernur bahwa ‘Gempar’ dan ‘Pajeko’ merupakan program strategis pemerintah kabupaten Morut untuk mengentaskan kemiskinan, memperkecil kesenjangan antara masyarakat mampu dan kurang mampu serta mengeliminasi stunting (kekerdilan).

Dalam program ‘Gempar’ ini, kata Delis, pemkab memberikan bantuan sarana budidaya ikan air tawar dengan kolam buatan berkonstruksi besi dan plastik untuk membudidayakan ikan nila. 

Kolam ini juga bisa digunakan untuk budidaya ikan gabus yang selama ini diambil dari perairan alam. Kalau hanya mengandalkan perairan alam, suatu saat nanti stok ikan gabus di wilayah ini akan habis, apalagi kalau penangkapan dengan racun atau stroom masih terus terjadi.

Menurut Delis, hasil kolam kini bisa dikonsumsi untuk meningkatkan derajat kesehatan dan selebihnya dijual untuk keperluan rumah tangga.

“Kita juga memberikan bantuan pakan dan asistensi cara budidaya ikan kolam yang baik dan produktif,” ujar bupati dengan mengatakan bahwa target program Gempar adalah masyarakat yang tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan SOsial (DTKS).

Program ‘Gempar’ ini tidak menyedot dana APBD, namun menggunakan bantuan dana tanggung jawab sosial kemasyarakatan (Corporate Social Responsibility-CSR) perusahaan-perusahaan.

“Semua peserta program ‘Gempar’ juga akan diberikan bibit durian ‘musang king’ untuk ditanam dipekarangan masing-masing,” ujar Delis lagi.

Sedangkan program ‘Pajeko’ adalah pengembangan komoditas unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mempersempit kesenjangan sosial melalui pengembangan komoditas unggulan.

Program ini dibiayai dengan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) perbankan, khususnya Bank Sulteng dan Bank BNI yang akan dijamin oleh pengusaha tertentu sebagai ‘off-taker’.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Sulteng Nelson Metubun menegaskan bahwa Pemprov Sulteng mendukung program ‘Gempar’ dan ‘Pajeko’ ini karena merupalan langkah terobosan yang strategis dalam memanfaatkan lahan pekarangan yang potensinya sangat besar untuk kesejahteraan masayarakat.

“Morut ini adalah daerah tujuan investasi, karena itu kebutuhan bahan pangan akan semakin tinggi, karena itu, intensifikasi pemanfaatan lahan pekarangan ini sangat strategis untuk perekonomian masyarakat dan daerah,” ujarnya.

Karena itu, kata Nelson yang mantan kadis Pertanian Kabupaten Parigi Moutong itu, pihaknya akan segera menyalurkan bantuan berupa bibit-bibit tanaman lahan pekarangan serta durian ‘musang king’ untuk mendukung program ‘Gempar’ dan ‘Pajeko’. Pencanangan kedua program ini ditandai dengan pelepasan bibit ikan nila di dalam kolam terpal plastik serta penanaman bibit durian ‘musang king’ di halaman seorang warga di Desa Maralee, Kecamatan Petasi Barat.

Reporter: Alekson Waeo
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas