Komala Sutha. (Foto: Ist/ Dok. Pribadi)

Oleh: Komala Sutha

PRIA di rumah itu acap menatap ke rumah kami. Rumahku  yang baru satu bulan kami tempati bersama suamiku. Aku yakin seyakin-yakinnya; dari dalam rumah itu, pasti pria tinggi kurus berkulit putih itu memang suka menatap ke rumah ini. Aku bisa menyimpulkan demikian lantaran saban aku perhatikan pria itu keluar dari rumahnya, maka yang dilakukannya pertama kali adalah melemparkan pandang ke rumah kami. Kala ia keluar rumah dan menutup pintu berwarna cokelat mengilat, maka matanya yang penuh pancaran cinta langsung mengarah ke rumah kami. Pria itu pergi bekerja dengan naik motor yang selalu diparkir depan rumahnya. Di atas beranda yang tak begitu luas tapi juga tak sempit. Setiap pria itu kembali dari tempat kerjanya, sekitar pukul tiga-empat sore, yang dilakukannya pun tak jauh berbeda. Setelah memarkirkan motornya di tempat biasa, pandangannya akan dilempar ke arah rumahku. Rumah kami. Rumahku dan suamiku.

“Apa yang tengah kaulihat?” suara suami mengagetkanku. Aku yang masih berdiri di balik jendela rumah, menoleh ke arah pemilik suara. Suamiku sudah rapi dengan setelan jas. Bersiap-siap hendak pergi ke kantor.

Aku menelan ludah. Merasa terpergoki. Selama hampir sebulan, kebiasaan ini kulakukan. Berdiri di balik jendela ruang tamu. Mengawasi tingkah laku pria itu. Jarak antara rumah yang kami tempati dengan rumah yang ditempati pria itu cukup dekat. Hanya berjarak tiga meter. Sebuah gang besar dan panjang yang bisa dilalui mobil hingga sampai di ujung gang dan tersambung dengan jalan utama.

“Tak biasanya kau terlambat ke kantor, Mas,” ucapku sekadar menutupi rasa gugup. Tak kutanggapi pertanyaannya. Pagi-pagi sebelumnya, suami sudah meluncur ke kantornya sebelum aku berdiri di ruang tamu. Memerhatikan  tetanggaku. Rutinitiasku yang tak diketahui suami.

“Aku ada urusan ke biro jasa dulu sebelum ke kantor,” jelas suamiku lalu ia melangkahkan kakinya yang sudah bersepatu. Membuka pintu depan. Menuju garasi dan menghidupkan mobil. Aku mengangkat kedua bahuku lalu menuju dapur. Tenggelam dalam kesibukan. Bahkan tak sempat kudengar suara mobil suamiku meninggalkan rumah.

Pukul sepuluh, aku duduk di sofa ruang tengah. Menonton tayangan untuk wanita ditemani secangkir teh manis dengan campuran perasan lemon. Sesekali kubetulkan letak kaca mata yang terkadang agak melorot. Tiba-tiba, acara di layar kaca membuat konsentrasiku pecah. Ingatanku beralih pada pria di depan rumahku.

Sebelumnya, aku tinggal di komplek perumahan. Lantaran ingin mengecap suasana yang berbeda, aku dan suami memutuskan untuk membeli rumah lagi di sebuah perkampungan yang menurutku nyaman dan aman. Terlebih, aku cukup tahu lingkungannya. Rumah lama ditempati anak sulungku yang sudah mahasiswa dan kedua adiknya yang bersekolah di SMP dan yang satunya lagi SMA. Ketiga anakku laki-laki. Di sana, ibuku menemani sekaligus menyiapkan segala keperluan mereka. Dan di rumah yang baru ini, hanya ada aku dan suami. Beberapa kerabat sempat berseloroh katanya, aku tengah menikmati masa bulan madu kedua. Menanggapi seloroh mereka, aku hanya tersenyum simpul.

Ketika membeli rumah ini, hanya suamiku yang mengurusnya. Aku pun tak sempat meninjau  lokasi. Cukup melihat denah rumah di foto. Ketika aku dan suamiku menempati rumah itu di hari kedua, kami  bersilaturahmi ke rumah  warga-warga sekitarnya, tentu saja dengan tetangga terdekat. Sungguh tak diduga, rumah yang berhadapan dengan rumah kami itu ditempati olehnya. Pria itu!

“Kau kenal sebelumnya dengan keluarga itu?” tanya suamiku.

“Ya, aku kenal dengan kepala keluarganya lebih dulu sebelum kenal istrinya.”

“Pernah dekat?”selidik suamiku.

“Hanya kenal gitu-gitu saja,” kilahku lalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Kami tak pernah membahasnya lagi hingga tepat sebulan menempati rumah ini. Kami pun tak pernah berbincang lagi dengan keluarga itu. Hanya saling menyapa  jika kebetulan bertemu muka di depan rumah. Paling tidak, saling melempar sebuah senyuman. Bukankah sebuah senyuman itu bahasa yang paling baik apalagi sesama tetangga harus bisa saling menjaga kerukunan.

Aku diam terpaku di atas sofa. Tatapanku ke layar kaca tanpa peduli dengan tontonan yang ditampilkan. Pikiranku mengembara ke masa silam. Saat aku berseragam putih abu-abu. Tiba-tiba rasa penasaranku begitu tinggi tatkala teman-teman sepermainan menceritakan seorang pria muda yang berparas menawan. Namanya Aditya. Aku melihatnya di sebuah toko obat. Dan memang ia bekerja di sana.  Lebih tepat pelayan toko. Teman-teman perempuanku yang genit selalu saja mencari alasan agar bisa berbincang dengannya. Banyak yang pura-pura ingin membeli obat. Kegilaan itu pun menimpaku. Hatiku selalu berdesir saban menatap pria itu.

Aditya menanggapi senyuman semua gadis. Termasuk aku. Rasa cintaku yang  tak rasional membuatku bertindak gila. Aku berbincang dengan Mang Hasan, tetanggaku, suami dari seorang guru. Ia suka berguru ilmu kinasihan. Ketika aku menceritakan masalahku, ia merekomendasikan seseorang yang bisa membantu tujuanku. Sepulang sekolah, kami sudah berada di sebuah kampung Babakan. Di sebuah rumah berbilik bambu. Mak Inah, dukun tua itu memberikan petunjuk apa yang harus kulakukan.

Tengah malam, aku mulai melakukan ritual. Dengan konsentrasi penuh, kutuntaskan hingga tengah malam berikutnya. Berarti, selama 24 jam aku berpuasa dengan berbuka nasi putih dan air putih saja. Selama sehari semalam itu, saban kuingat wajah Aditya, bibirku tak berhenti merapalkan mantera. Tanpa menunggu hitungan hari, Aditya menunjukkan sikap istimewanya padaku. Tatapan matanya penuh cinta. Semua gadis yang berusaha mendapatkan hatinya, mundur satu per satu setelah tersingkir olehku. Pria itu resmi menjadi pacarku. Kami bermalam Minggu di bioskop menonton film ‘Sex For Sale’. Tak lebih sebulan, perasaan cinta di hatiku luntur lalu benar-benar sirna. Tak kupedulikan Aditya yang tengah merasakan cinta yang bergelora padaku.

Tatkala aku tenggelam dalam urusan kuliah selama menjadi mahasiswi, kurasakan bila ia masih mencintaiku. Ia terus mendekat sementara aku konsisten dengan pendirianku. Menjauh dan menjalin cinta dengan pria lain. Hingga aku menikah, sikapnya masih berharap. Ia pun menghadiri pernikahanku. Lima tahun kemudian, ia pun menikah. Tentu saja, sebelumnya menyatakan bila yang dicinta hanya diriku. Lagi-lagi, kuabaikan ucapannya. Aku pun semakin menjaga jarak dengannya, setelah itu tak pernah melihatnya lagi. Hingga akhirnya kami menjadi tetangga. Dipertemukan kembali setelah belasan tahun.

“Ajian kinasihan dari Mak Inah itu sangat mujarab dan langgeng!” terngiang-ngiang ucapan Mang Hasan. Kupejamkan mata. Aku sudah melakukan kesalahan besar. Mungkin sebuah dosa. Membuat Aditya jatuh cinta dengan cara yang salah.

“Jika pria itu masih tergila-gila denganmu, sementara kau ingin melepaskannya lantaran kau sudah tak suka, maka kau harus menemui kembali Mak Inah dan minta dia untuk melenyapkan pesonamu di mata dan hati pria itu,” ucapan Mang Hasan menembus genderang telinga. Kututup dua telingaku. Ucapan-ucapan di  masa remajaku kini memenuhi pikiranku dan kian membuatku bersalah.

Tubuhku bergerak cepat. Meninggalkan rumah. Sebuah ojol sudah menungguku di luar pagar rumah. Kami pergi ke kampung Babakan. Belasan tahun aku tak ke sini. Bangunan baru berdiri di sana-sini. Pangling. Aku mencari rumah Mak Inah. Namun rumah itu tak kutemukan. Tak ada rumah berbilik bambu di sekitar sini. Malah seorang perempuan yang kuperkirakan sebayaku, mengatakan jika Mak Inah sudah meninggal dunia semenjak sepuluh tahun silam. ***

Bandung Barat, 4 Oktober 2021

Biodata Penulis: Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Penulis novel Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera (Mujahid Press, 2018) dan kumpulan cerpen Cinta yang Terbelah (Mecca Publishing, 2018).

Ayo tulis komentar cerdas