Zuhria H Bahnan. (Foto: Ist/ Dok. Pribadi)

—————————–

Zuhria H Bahnan (34), harus jadi penyandang tuna daksa akibat kecelakaan beruntun di tahun 2008 lalu. Musibah itu nyatanya tak membuat Zuhria putus asa. Dia kini merasakan kemenangan dalam hidup sebagai disabilitas setelah berhasil menyumbang emas untuk kontingen Sulawesi Tengah pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Papua 2021.

========================

MUSIBAH  kadang datang bisa kapan saja dan waktu yang tidak diduga. Itu juga yang dialami Zuhria H Bahnnad (34). Ria sapaan akrabnya masih ingat betul kejadian naas yang menimpanya di tahun 2008 silam. Peristiwa kecelakaan beruntun di kampung halamannya di Toli toli itu seakan membuat kehidupannya berubah 180 derajat.

Jadi penyandang tuna daksa, hingga harus berhenti kuliah. Walakin, musibah itu nyatanya tak membuat perempuan kelahiran Pinjan ini putus asa. Dia kini merasakan kemenangan dalam hidup sebagai disabilitas setelah berhasil menyumbang emas untuk kontingen Sulteng pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Papua 2021. Medali emas itu jadi satu-satunya milik Sulteng pada ajang pesta olaharaga empat tahunan.

“Waktu itu juga saya tidak menyangka bisa dapat medali emas, saya pikir bisa menyumbang perak saja sudah cukup. Tidak terlalu 100 persen fokusnya ke Emas. Tapi alhamdullillah saya sangat bersyukur,” ujar Zuhria dalam sesi wawancara  virtual kepada Metrosulawesi, Selasa (19/04/2022).

Emas yang diraih Ibu dari dua anak ini penuh dengan perjuangan. Dia hampir saja batal berangkat karena anak bungsunya masih sementara menyusui. Di tengah kebimbangan itu ia kembali diyakinkan oleh orang-orang terdekatnya. Dia tak mau menyiakan peluang mengharumkan nama daerah Sulawesi Tengah.

“Waktu itu anak saya yang kedua masih umur 15 bulan, dan masih menyusui. Kakanya juga masih kecil umur tiga tahun. Jadi agak ragu untuk tinggalkan mereka, namun setelah komunikasi dengan pelatih dan suami akhirnya saya titipkan anak kepada saudara. Asinya diganti dengan susu formula dulu sementara waktu,” kata dia diringi tawa Sumringah.

Jadi Atlet dan Tata Rias

Awal mula Ria menjadi atlet ajang Paralimpiade ialah saat ada tawaran dari dinas Sosial Toli-toli untuk pelatihan penyandang disabilitas di Panti Sosial Bina Jaksa Wirajaya Makassar pada tahun 2010. Di situ dia mengambil kursus tata rias selama dua tahun. Selama kursus itulah Ria setiap sore nyambi bermain tenis meja.

Di panti sosial itu pula Ria mendapatkan kawan baru dan pelajaran tentang agama. Ia yang sempat minder, di sana kembali mendapat kepercayaan dirinya berkumpul sesama penyandang disabilitas. “Kebetulan di Bina Daksa Wirajaya itu ada ekstrakulikulernya, jadi saya ambil tenis meja dan setiap sore itu rutin main bersama teman-teman di GOR,” katanya.

Dari situ, kemampuan Ria bermain tenis meja ternyata dilirik oleh Komite Nasional Paralimpiade (NPC) Kota Makassar. Awalnya, saat dia membela Makassar di tahun 2010 untuk mengikuti Pekan olahraga cacat Nasional tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Di sana Ria berhasil menyumbangkan emas untuk kontingen Makassar.

Sukses meraih emas, mengantarkan Ria tampil perdana di ajang Peparnas tepatnya di Bandung pada tahun 2014. Di sana, Ria hanya mampu meraih medali perunggu. Partisipasinya pada Perparnas berlanjut di tahun 2016. Ketika itu dia sudah membela Sulteng namun belum berhasil menyumbang medali untuk Sulteng. Barulah di tahun 2021 lalu Ria berhasil meraih emas Peparnas.

“Dari semua kompetisi Alhamdulillah saya sementara sudah mengoleksi 6 medali, 3 medali emas, 2 perak dan 1 medali perunggu,” tuturnya.

Tak hanya sukses jadi atlet, selama di Makassar Ria juga berhasil mendapatkan kembali kepercayaan dirinya berkumpul sesama kawan-kawan difabel.

“Habis kecelakaan itu saya sempat Minder, tetapi saat dapat teman-teman baru sesama disabilitas saya semangat lagi. Ternyata mereka yang cacat itu masih bisa bergaul,” kata dia.

Selain jadi atlet, Ria kini membuka usaha tata rias kecantikan di kampung halamannya di Kabupaten Toli-toli. Usaha itu turut digunakan membantu suaminya yang hanya kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kesuksesan itu membuat Ria belum lama ini diganjar bonus oleh Gubernur Sulawesi Tengah, H Rusdy Mastura. Uang pembinaan senilai 100 juta itu kini dia gunakan membangun rumah untuk tempatnya berteduh bersama keluarga kecilnya.

“Alhamdulillah, uang itu saya gunakan bangun pondoklah istilahnya, sekarang selain sibuk jadi ibu rumah tangga saya juga buka salon kecil-kecilan di kampung,” ujarnya.

Momentum Jaga Kesehatan 

Komite Parilimpiade Nasional atau National Paralympic Committee (NPS) Sulawesi Tengah (Sulteng) optimis bisa memperbaiki peringkat pada ajang pekan paralimpik nasional (Peparnas) di Aceh-Sumut 2024. Pembenahan pembinaan kepada atlet difabel terus dilakukan seiring dengan banyaknya dukungan yang mengalir.

Ketua Umum NPC Sulteng, Nur Enang, mengatakan ajang peparnas Papua tahun lalu menjadi tolak ukur untuk memperbaiki peringkat di Peparnas berikutnya. Ini juga sesuai dengan harapan Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura lewat program Sulteng emas tahun 2024.

“Kemarin kita hanya mendapat satu emas, meski demikian kita optimis baik NPC maupun KONI bisa menyumbang sumbangsih emas yang lebih banyak. Jadi kita bisa untuk memperbaiki peringkat juga,” ujarnya.

Nur Enang mengakui kondisi pendanaaan untuk pembinaan terlebih untuk atlet difabel memang tidak mudah. Walakin, para atlet di Sulteng telah menunjukkan potensinya mampu bersaing dengan provinsi lainnya di ajang peparnas tahun lalu.

Apabila pada peparnas Papua tahun lalu hanya melihat peluang medali yang diraih merujuk pada kesediaan pendanaan, namun pada even selanjutnya akan lebih dioptimalkan berkaca pada hasil yang didapat tahun lalu. Capaian atlet akan jadi tolak ukur untuk melakukan evaluasi agar raihan medali bisa lebih optimal.

Di sisi lain, Nur Enang menjelaskan, bibit atlet di Sulteng untuk mengikuti  cukup banyak. Hanya saja, menurut dia,  penjaringan yang dilakukan belum sepenuhnya berjalan maksimal. Pihaknya pun akan membuka ruang sebesar-besarnya dan terus mendeteksi atlet disabilitas potensial di daerah setempat

“Intinya sekarang Peparnas Papua jadi tolak ukur kita untuk pembinaan baik melakukan evaluasi kepada para atlet,” ucapnya.

Keberhasilan Ria menyumbang medali untuk Sulteng seharusnya menjaga asa kesetaraan bagi para atlet. Ini sekaligus jadi momentum menjaring para penyandang difabel lainnya di Sulteng untuk bisa menorehkan prestasinya yang sama.  Ria pun mengajak daum difabel untuk menuangkan minat dan kemampuannya terutama di bidang olahraga.

“Buat disabilitas jangan putus asa, tetap berjuang. Intinya jangan sombong jangan pandang enteng lawan. Saya bilang usaha tanpa doa itu pasti sia-sia,” ucapnya.

Adapun Ria berkat penampilannya kemarin sempat dilirik NPC pusat untuk membela Timnas Indonesia pada ajang Asean Paragames di Vietnam tahun 2022. Namun, karena masih belum membutuhkan atlet cadangan, Ria mengaku hingga sekarang belum ada komunikasi lebih lanjut dari pusat.

Meski demikian, Ria sendiri menaruh target selanjutnya bisa berlaga di Asean Paragames dan bisa mengibarkan bendera merah putih sebagai bentuk patriot sejati.

“Memang sejak jadi atlet cita-cita awal saya adalah bisa go Internasional,” ujar Ria. (adi pranata)

Ayo tulis komentar cerdas