HASIL BADODO - Alif bocah kelas 2 SDN Labuan Bajo memperlihatkan hasil pekerjaan badodo ikan (logat bugis Donggala,meminta ikan ke nelayan) jumat kemarin di tempat pendaratan ikan kelurahan Labuan Bajo Kecamatan Banawa. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Aktivitas Anak Pesisir di Donggala

Sekali badodo bisa dapat uang sampai Rp60 ribu dari pemilik bodi (punggawa kapal). Tapi, anak-anak itu harus bersihkan kapal dulu.

Laporan: Tamsyir Ramli.
Donggala

AKTIVITAS badodo ikan ini sudah mendarah daging dan menjadi budaya anak-anak yang berdomisili di pesisir laut. Tak terkecuali anak-anak yang berada di Kelurahan labuan Bajo Kecamatan Banawa.

Alif bocah 7 tahun sedang menunggu kedatangan bodi (kapal nelayan) yang akan bersandar di pelabuhan pendaratan ikan Kelurahan Labuan Bajo Kecamatan Banawa, Jumat 1 April 2022. Alif tak sendiri. Ada beberapa anak  sebayanya yang juga menunggu bodi.

Aktivitas menunggu kapal nelayan (bodi) yang dilakukan anak-anak merupakan kebiasaan yang sudah mendarah daging di kalangan anak-anak pesisir laut. Anak-anak itu menyebutnya dengan badodo atau meminta ikan kepada punggawa kapal.

Tetapi sebelum meminta ikan ke punggawa kapal, anak-anak itu diberikan tugas oleh punggawa kapal, membersihkan kapal (bekas darah ikan). Jika sudah selesai, anak-anak itu kemudian meminta ikan (badodo) ke punggawa kapal. Sebagai imbalannya, jika sudah diberikan, anak-anak itu kemudian menjual ke pasambu (pengepul ikan) yang sudah menunggu.

Pasambu (pengepul ikan) memiliki modal besar. Tak jarang Pasambu memberikan panjar ke nelayan agar terikat atau menjadi langganannya, sehingga hasil melaut tidak diberikan ke orang lain.

“Setiap pulang sekolah saya badodo ikan om, batunggu bodi masuk, biasanya kalau badodo ikan dikasih tiga ekor. Biasanya sampai satu kantongan diisikan saya ikan om. Tapi disuruh-suruh kita dulu om sama punggawa kapal, kasih bersih kapal, siram-siram kapal kasih hilang darah ikan,” kata Alif, di pelabuhan pendaratan ikan Kelurahan Labuan Bajo.

“Kalau sudah dikasih ikan saya jual lagi om dengan pasambu (pengepul ikan), ikanku ditimbang, biasanya saya dikasih 20 ribu sampai 60 ribu. Uang hasil badodo ikan ke punggawa kapal saya pake beli somai, dengan buku sekolah, dan kalau ada sisanya saya kasi mamaku juga om,” sebutnya dengan polos.

Saiful, orang tua Alif yang ditemui wartawan saat memperbaiki kapalnya di pelabuahan pendaratan ikan kelurahan Labuan bajo tidak melarang anaknya melakukan aktivitas badodo ikan. Menurutnya, aktivitas badodo ikan juga bagian dari membantu perekonomian keluarga.

“Yang penting sekolahnya tidak terganggu, pulang sekolah baru bisa badodo ikan, cari uang. Hasilnya bisa bantu-bantu orang tuanya juga. Saya juga pesan ke anak saya sekolah itu nomor satu, kalau sudah sukses sekolahnya, uang pasti akan ada, jadi tidak harus menjadi nelayan terus atau mendodo ikan,” tuturnya. (*)

Ayo tulis komentar cerdas