BUDIDAYA UDANG - Seorang warga Poso yang memiliki tambak udang vaname di kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota. (Foto: Ist)
  • Agus, Warga Poso yang Geluti Udang Vaname

Poso, Metrosulawesi.id – Udang vaname  merupakan komoditas ekspor yang banyak dibudidayakan para petambak. Tingginya harga jual dan cepatnya masa budidaya, membuat petambak tergiur dengan nilai ekonominya.

Mereka meyakini dapat memperoleh keuntungan berlipat, bahkan modal bisa kembali hanya dalam satu siklus budidaya.

Agus, warga Poso yang memiliki tambak udang vaname di kelurahan Madale, Kecamatan Poso Kota membeberkan cara sukses budidaya udang vaname.

Agus mulai menjalankan bisnis ini dua tahun lalu. Tujuannnya bisa mendapatkan keuntungan, namun kepuasan konsumen adalah hal penting yang harus diingat.

Usaha yang dilakukannya kata Agus, boleh dikata gampang-gampang susah. Pasalnya harus memperhatikan di sekitar tambak, utamanya bagaimana menjaga agar udang dapat berkembang biak tanpa ada gangguan, seperti masuknya kepiting dalam kolam udang serta binatang lainnya yang dapat merusak terlebih membawa virus, tegas Agus, kepada Metrosulawesi, Sabtu 26 Maret 2022.

Selain itu kata Ustaz, panggilan akrab dari Agus,  tandon air di sekitar tambak juga menjadi faktor penting budidaya udang vaname. Air laut yang akan dijadikan media budidaya, seharusnya diolah sebelum masuk tambak.

Pengolahan dalam tandon dilakukan dengan pengendapan selama beberapa hari, atau ditaburi kaporit.

“Tandon ini yang juga sering dilupakan, dalam bayangan petambak, air bisa langsung dimasukkan tambak dan ditaburi benih. Padahal bisa jadi terkandung polutan dan dan bibit penyakit dalam air yang diambil dari  laut itu,” paparnya.

Faktor sukses berikutnya adalah tambak memiliki sarana instalasi pengolahan limbah (IPAL). IPAL sederhana antara lain dengan membuat saluran zig-zag untuk mengendapkan limbah. Selain itu, keberadaan mangrove juga berguna untuk mengurangi polutan tambak.

Dikatakan, limbah tambak udang termasuk jenis yang sederhana karena tersusun atas berbagai material organik bahan pakan udang. “Sehingga pengolahannya pun sederhana, bahkan lumpur sisa endapan itu bisa menjadi pupuk. Kalau dikatakan ada petani protes tanaman mati, biasanya disebabkan air payau buangan tambak yang mengalir masuk sawah, sehingga memang seharusnya limbah tambak dialirkan ke  laut,” terangnya.

Petambak juga wajib melakukan pengecekan kondisi air setiap hari. Sasaran pengecekan adalah plankton, bakteri, dan kualitas air.

Agus  menegaskan, lima faktor seperti memperhatikan daya dukung lahan, menyiapkan tandon air, memiliki sarana IPAL, mengecek kualitas air, dan menerapkan biosecurity, merupakan syarat mutlak agar budidaya sukses dan berlangsung panjang.

Terus bagaimana hasil yang selama ini digelutinya, dikatakan Agus yang usaha tambak udang vanamenya sudah full teknologi ini yang mana menerapkan sistim empat bulan masa pemeliharaan dengan tiga kali panen, yakni parsial satu selama 72 hari, parsial dua selama 100 hari, sedang 120 hari panen total.

Udang vaname dari tambaknya ini kata Agus, dibeli pengusaha asal Makassar  seterusnya diekspor ke Jepang dan China. Sekali panen kata Agus dari  hasil budidaya udang vaname ukuran luas 20 meter x 20 meter dengan ketinggian air 2 meter menghasilkan 3,8 ton, sementara untuk setahun menghasilkan dua kali panen.

Reporter: Saiful Sulayapi
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas