MASA DEPAN - Shiddiq Al Farizi bersama kedua orangtuanya. (foto: adi pranata/metrosulawesi).

————————————-

Selain diikuti oleh pemain eks pelatnas, Kejuaraan Bulu Tangkis Gubernur Sulawesi Tengah yang pertama juga jadi ajang para pebulutangkis muda untuk unjuk kemampuan. Shiddiq Al Farizi misalnya, bocah berumur 8 tahun ini rela jauh-jauh dari daerah Desa Tinabogan, Kecamatan Dondo Kabupaten Toli Toli untuk bertarung di kategori kelompok umur. Perjuangannya pun berbuah manis hingga berhasil keluar jadi juara.

_____________

BADMINTON  Gubernur Sulteng Cup I yang digelar di lapangan Central Sport Kelurahan Silae, Kota Palu telah berakhir pada Sabtu (26/02/2022) malam. Adapun Shiddiq, keluar sebagai juara untuk kategori kelompok umur di kelas usia dini tunggal putra, setelah mengalahkan Ibnu Mubarak dengan dua set kemenangan. Selain itu, ia juga berhasil keluar sebagai semi finalis di kelas anak-anak.

Keberhasilan Shidiq terbilang cukup menarik. Tak seperti peserta usia dini lainnya yang mendapat arahan dari pelatih mumpuni, bocah kelas 2 Sekolah Dasar itu hanya didampingi oleh Kedua orang tuanya ketika bertanding. Ialah ayahnya, Fahrin Ali (41) yang memiliki peran ganda sebagai pembimbing sekaligus pelatih selama berlangsungnya kejuaraan.

“Saya sebelum kemari, sempat ditawari oleh PB Dewa Tolis agar Shiddiq dilatih di situ, tapi karena jarak yang jauh dan Shidiq masih sekolah akhirnya saya sendiri yang melatihnya di rumah,” kata Fahrin Ali kepada Metrosulawesi.

Fahrin Ali dan Istrinya, Kasmira (34), bukan mantan atlet ataupun hoby bermain bulu tangkis. Meski begitu, keteratrikan Shiddiq dilihat oleh Fahrin saat masih berusia 3 tahun ketika dibelikan raket mainan. Dari situ, Fahrin mulai memupuk kemahiran anaknya hingga membelikan raket sungguhan.

Ia mengaku tak mengetahui sama sekali dasar melatih permainan bulu tangkis. Niatnya untuk membawa Shidiq berguru ke Perkumpulan Bulutangkis (PB) juga urung dilakukan mengingat pusat pelatihan berada di Kota yang jaraknya hampir sekitar 80 Km dari Desa Tinabogan. Karena tak mau potensi anaknya sia-sia begitu saja, Fahrin akhirnya mulai ikut intens belajar bermain bulu tangkis sejak awal tahun 2020.

“Maunya saya latih dia di PB, cuma pertimbangan sekolahnya anak-anak, baru dia kan belum bisa jauh dari orang tua, akhirnya saya sendiri yang latih, walaupun saya bukan pelatih,” ujarnya.

Selama berlatih dari rumah, Fahrin berusaha agar se-efisien mungkin untuk mengajari anaknya agar bisa jadi pebulutangkis hebat. Dia pun menonton sejumlah teknik permainan bulutangkis di akun YouTube. Ia juga turut dipandu oleh pelatih di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Toli-toli. Kemampuan Shiddiq akhirnya terus meningkat, hingga telah menguasai semua teknik pukulan.

Hasil latihan itu turut dibuktikan selama berkompetisi di Piala Gubernur Sulteng. Nyaris semua pertandingan dilalui Shiddiq dengan dua kemenangan langsung. Shiddiq bahkan mampu jadi semifinalis atau juara tiga bersama di kelas Anak-anak, saat menghadapi atlet muda yang rata rata diisi oleh pemain kelas 5 SD

“Ini sesuai harapan jadi juara di Usia dini. Karena mainnya bersamaan, jadi kami tidak paksakan Shidiq untuk juara di kategori usia muda,” kata Fahrin.

Sama seperti atlet di pelatnas yang butuh proses panjang, Shidiq sebelum jadi juara di ajang bergengsi juga pernah mengikuti kejuaraan lainnya. Kans pertamanya ialah saat berlaga di PBSI Cup I Toli-Toli pada tahun 2020. Saat itu ia hanya mampu bertarung hingga ke putaran kedua. Berlanjut ke PBSI Cup II Shidiq berhasil jadi semifinalis. Ia akhirnya berhasil keluar jadi juara pertama usia dini di piala Dandim Toli-toli cup.

“Alhamdulillah Turnamen ke empatnya dia berhasil naik podium di kelas Usia dini dan anak-anak,” ujar Fahrin.

Meski baru belajar bermain bulu tangkis, Fahrin senantiasa melakukan evaluasi terhadap Shiddiq. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan selama pertandingan jadi pekerjaan rumah yang harus diperbaiki.

“Ya selama bertanding kemarin dia jarang melakukan kesalahan, biasa bola atas jarang dijangkau, kini sudah bisa,” ujarnya.

Di sisi lain, mengikutkan Shidiq di Ajang kejuaraan, bagi Fahrin yang terpenting adalah untuk menambah jam terbang. Itu karena sebagai orang tua dia paham betul salah satu aspek yang terpenting agar anak berprestasi adalah mental. Itu memang harus dipupuk sejak usia dini salah satunya mengikutkan dalam ajang kejuaraan. Terlebih mental memang kelemahan yang wajar rata rata dialami oleh sejumlah atlet. Apalagi untuk Shiddiq yang usianya masih sangat belia.

Fahrin bilang, Shiddiq kini sudah mulai ada perkembangan, terutama mental.

“Memang saya ikuti kejuaraan rutin bukan hanya untuk sekedar jadi juara, yang utama mental. Kalau skil kan bisa terus diasah, tapi kalau mainan bagus sementara mental tidak bagus, yah rusak juga permainannya,” ujar dia.

Menjadi juara di ajang kejuaraan bulutangkis terbesar pertama di Sulteng merupakan suatu kebanggan bagi Fahrin. Bahkan jauh sebelumnya, kemahiran anak pertamanya, ternyata memantik semangat orang-orang di desa Tinabogan untuk ikut serta bermain bulutangkis.

Meski hanya dari Desa, Shiddiq membuktikan mampu bersaing dengan anak-anak sebaya diperkotaan yang telah bergabung dengan Perkumpulan Bulutangkis. Selanjutnya, Fahrin berharap agar bisa membawa anaknya bergabung dengan PB besar, misalnya yang berada di daerah Pulau jawa.

Itu diakui akan diusahakan dengan segenap tenaga di tengah keterbatasan akses di daerah pedesaan, terlebih bagi Fahrin yang hanya jadi pengusaha depot air minum untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berkaca dari Shiddid dan semangat perjuangan Fahrin, sudah seharusnya kejuaraan bulu tangkis di Sulteng bisa lebih digalakkan. PBSI selaku naungan para atlet bulutangkis juga diharapkan bisa melakukan pembinaan secara kontinyu atau berkelanjutan, terutama untuk anak anak seperti Shiddiq.

Selain itu, penjaringan atlet pebulutangkis yang menjamah hingga ke pelosok Desa di Sulteng perlu dilakukan. Sebab bukan tidak mungkin, masih banyak talenta pebulutangkis seperti Shiddiq yang belum memiliki akses.

Dengan upaya demikian, bukan tidak mungkin, olahraga kebanggaan Indonesia memiliki jebolan pemain hebat dari Sulteng di kemudian hari. (*)

Reporter: Addi Pranata

Ayo tulis komentar cerdas