Najamudin Laganing. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Sebanyak dua ribu lebih kelompok tani di Kabupaten Donggala sulit mendapatkan pupuk bersubsidi. Akibatnya kelompok tani harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih besar.

“Harga pupuk memang naik, misalnya Urea 560 ribu  persak. Kalau pupuk disubsidi sekitar 280 ribu, dan berdasarkan data kelompok tani, di kabupaten Donggala itu sebanyak dua ribu lebih. Satu kelompok itu jumlah anggotanya bervariasi ada 25 orang, paling sedikit 15 orang. Sekarang susah dapat pupuk bersubsidi,” kata Plt Dinas Pertanian Donggala, Najamudin Laganing di kantornya, Selasa 11 Januari 2022.

Meski begitu, kata dia naiknya harga pupuk tidak berpengaruh pada aktivitas kelompok tani. Kegiatan pertanian tetap dilakukan. Persoalan pupuk bersubsidi tetap diberikan kepada kelompok tani dengan melakukan penginputan terlebih dahulu.

“Ya kami di dinas tetap berusaha membantu kelompok tani dalam pemenuhan pupuk bersubsidi. Caranya kelompok yang duluan menginput data mereka itu yang kita berikan atau setiap kelompok saling berkomunikasi, karena memang jatah pupuk bersubsidi tidak cukup,” jelasnya.

Najamudin menambahkan kelompok tani saat ini menggunakan aplikasi Poligon, artinya mereka tidak bisa lagi menambah lahan mereka.

“Sekarang kelompok tani sudah tidak bisa lagi main-main terkait luas lahan, ada aplikasi Poligon, untuk mengetahui luas area kelompok tani, satu kelompok tani mengelola 25 hektar, dengan aplikasi poligon tidak bisa lagi main kira-kira luasan area,” tutur Najamudin Laganing yang kini menjabat Kadis BKPSDM Donggala.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas