RAKOR - Suasana rapat kordinasi KONI bersama Asprov PSSI Sulteng, di kantor sekertariat Koni Sulawesi Tengah, Kota Palu, Senin (10/01/2022). (Foto: Metrosulawesi/ Adi Pranata)

Palu, Metrosulawesi.id – Sepak bola sebagai salah satu cabang olahraga favorit di Sulawesi Tengah minim prestasi dalam dua dekade belakangan. Pembenahan mental dengan mengubah pola porsi latihan kepada pemain diharapkan bisa memberi perubahan agar Sulteng setidaknya bisa lolos dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 Aceh-Sumut.

Pembenahan terhadap hal tersebut mencuat dalam rapat kordinasi yang dilaksanakan Asprov PSSI Sulteng bersama kelompok kerja (Pokja) Sulteng emas bentukan KONI daerah setempat, Senin (10/01/2022). Rakor itu menginisiasi agar cabor sepak bola Sulteng bisa lolos dalam ajang PON 2024 mendatang.

Hanafing yang ditunjuk selaku instruktur pelatih Asprov PSSI Sulteng mengatakan, Sulteng bukannya kekurangan pemain hebat, hanya saja pembenahan mental yang harus jad  pekerjaan berat Asosiasi.

“Dikatakan Psikolog bahwa pemain sepakbola di Sulawesi Tengah ini tidak punya mental juara, itu yang lemah,” kata dia.

Menurut Hanafing, mental juara bukannya tidak ada, hanya saja selama ini pola pelatihan di klub membikin para pemain tidak memiliki daya saing setidaknya untuk menjadi pemain inti.

Instruktur pelatih nasional itu mengambil contoh di klub Persipal saat ditugaskan mengawal kinerja pelatih. Berdasar pantauanya selama empat hari latihan, 35 orang pemain hanya bermain seenaknya. Tanpa memiliki motivasi untuk bersaing.

“Mereka hanya bermain suka-sukaan, artinya saya artikan tidak ada motivasi bersaing untuk menjadi pemain Inti,” ujarnya.

Hal itulah yang menurut Hanafing jadi penyebab kenapa daerah Sulteng tidak bisa membawa wakilnya pada cabor sepakbola biar sekedar lolos pra-PON.

“Padahal saya lihat kualitas indvidu luar biasa kok, bagus-bagus semua. Tapi mental juara ndak ada, karena porsi latihan di klub yang kurang,” ungkapnya.

Olehnya, selama dipercayai di bidang kepelatihan oleh Asprov, hal pertama yang dilakukan adalah menggelar workshop kepelatihan bagi pelatih-pelatih yang ada di kabupaten maupun kota. Ini diyakini bisa merubah pola pikir para pelatih untuk menerapkan pola pelatihan yang tepat kepada para pemain.

“Ini anak-anak kita kan hanya salah penanganan saja, buktinya Witan Sulaiman jadi pemain hebat, bahkan ada pemain di Palu jadi pemain liga satu di luar,” ucapnya.

“Berarti kita punya, tapi hanya penanganannya aja yang belum,” tandasnya.

Sementara, Sekertaris Asprov PSSI Sulteng, Harry Sumampouw, mengatakan ke depan pihaknya akan menyamakan persepsi bersama dengan Askab maupun Askot di daerah setempat. Pembenahan badan kepengurusan jadi agenda wajib untuk selanjutnya merekrut pemain di daerah secara profesional.

Di sisi lain, dijelaskannya untuk pra PON Asprov PSSI Sulteng telah mengantongi 19 nama pemain lewat seleksi di liga 3 Sulteng. Tinggal sisanya akan dilengkapi beberapa pemain daerah lainnya yang ditunjuk maupun diseleksi. Ia meminta Hanafing bisa menunjuk langsung kepala pelatih beserta stafnya.

“Nanti kita tinggal jalan ke kabupaten-kabupaten untuk mencari sisa pemain atau bagaimana teknisnya, nanti barulah kita adakan latihan terpusat untuk pembinaan jangka panjang,” tuturnya.

Sementara, Ketua KONI Sulteng, M Nizar Rahmatu pada kesempatan itu mengharapkan agar sepakbola setidaknya bisa lolos dalam PON. Untuk itu ia mengharap agar Asprov dibantu Hanafing bisa membuat skema pembinaan kepada atlet yang nanti akan bantu difasilitasi oleh Pokja Sulteng emas.

“Harapan gubernur memang harus lolos (PON), cuma memang dengan waktu ini kita tidak boleh lagi main-main saya mempercayakan ini kepada Pokja dan Pokja kembali mengatur melalui timnya,” kata dia.

 “Ini bukan soal apa, ini soal sinergitas agar kita bisa membawa nama Sulteng dan menciptakan sejarah lolos PON,” tambah dia. (*)

Reporter: Adi Pranata

Ayo tulis komentar cerdas