Ilustrasi. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Proses peradilan perkara gugatan perdata Nomor :12/Pdt.G/2021/PN. Pal, antara I Putu Arismawan Respat, Sugianto, Nanang Andriansyah, Hendro dan Bakri selaku penggugat melawan tergugat PT. Niaga Nusa Abadi perwakilan Sulawesi Tengah belum berakhir. Pasalnya, gugatan perdata dengan klasifikasi Perbuatan Melawan Hukum (PMH) itu, prosesnya masih bergulir untuk pemeriksaan pada tingkat kasasi, di Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Pemohon kasasi adalah  tergugat, sedangkan termohon kasasi, ke lima penggugat yang merupakan eks karyawan di PT. Niaga Nusa Abadi perwakilan Sulawesi Tengah.

Humas Pengadilan Negeri Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Zaufi Amri SH, yang dikonfirmasi, Jumat 7 Januari 2021, membenarkan perkara perdata itu belum selesai. Setelah turun putusan banding di Pengadilan Tinggi (PT) Sulteng, pihak tergugat PT. Niaga Nusa Abadi, kembali menyatakan sikap terhadap putusan dengan memohonkan kasasi ke MA.  “Permohonan kasasi perkara perdata Nomor : 12/Pdt.G/2021/PN. PAL, dimohonkan Yudhi Onkowijaya SH. MH, mewakili tergugat, pada Rabu, 15 Desember 2021,” ungkapnya kepada wartawan Metro Sulawesi.

Lanjut Zaufi Amri menguraikan, di hari berikutnya, Kamis 16 Desember 2021, pemohon kasasi/tergugat PT. Niaga Nusa Abadi kemudian memasukan memori kasasi. Untuk pemberitahuan permohonan kasasi sekaligus penyerahan memori kasasi ke termohon kasasi/penggugat, pada Jumat, 17 Desember 2021.  Sedangkan penerimaan kontra memori kasasi dari termohon kasasi/penggugat diterima, Kamis, 23 Desember 2021, kemudian penyerahan kontra memori kasasi ke pemohon kasasi/tergugat, Jumat, 24 Desember 2021.

“Saat ini, status perkara sudah pengiriman berkas kasasi. Dikirim sejak Senin 3 Januari 2022, dengan nomor surat berkas pengiriman kasasi : W21.U1/14/HK.02/I/2022,” ungkapnya.

Sementara itu, pemohon kasasi atau tergugat melalui Legal Departmen PT. Niaga Nusa Abadi lewat surat emailnya menyatakan perbuatan melawan hukum (menghilangkan ijasah,red) yang dipermasalahkan para penggugat, terjadi bukan karena kesengajaan, melainkan terjadi karena sesuatu yang sangat tidak diinginkan. Pada tanggal, 12 Mei 2017 lalu, di PT. Niaga Nusa Abadi telah terjadi perampokan terhadap 1 unit brankas yang isinya antara lain surat-surat berharga milik perusahaan dan ijazah milik karyawan perusahaan.

“Menyikapi hal tersebut, PT Niaga Nusa Abadi telah memberikan kompensasi terhadap karyawan yang terdampak, berupa dana tunai dan penggantian ijazah yang hilang. Namun, kompensasi tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh beberapa karyawan, dan menuntut  perusahaan  melalui jalur hukum,” demikian Legal Department  PT. Niaga Nusa Abadi melalui surat emailnya yang diterima, 7 Januari 2022, sekaligus menyikapi pemberitaan sebelumnya yang terbit di Metro Sulawesi, 4 Desember 2021, dengan judul (Putusan Banding, PT NNA dihukum 1,2 Miliar).

Legal Department PT. Niaga Nusa Abadi juga mencantumkan pernyataan YP Kusuma, selaku Regional Field Marketing Manager, yang menjadi perwakilan dari PT Niaga Nusa Abadi untuk wilayah Sulawesi.  YP Kususma menyatakan sebagai perusahaan patuh hukum, saat ini, PT. Niaga Nusa Abadi menghormati proses hukum yang memasuki tahap Kasasi di Mahkamah Agung RI.

“PT Niaga Nusa Abadi telah mengambil langkah-langkah strategis yang dipandang perlu, untuk senantiasa menempatkan citra baik perusahaan bagi keberlangsungan kesejahteraan karyawannya,” terangnya.

Data Metro Sulawesi, gugatan perdata ini, didaftarkan ke lima penggugat pada 11 Februari 2021. Kelimanya, menggugat PT. Niaga Nusa Abadi karena perusahaan tersebut dianggap melakukan Perbuatan Melawan Hukum (PMH), buntut dari hilangnya ijasah para penggugat yang menjadi jaminan sewaktu kelimanya masih bekerja. Dalam gugatannya, para penggugat menuntut ganti rugi materil dan in materil ke tergugat dengan total Rp. 2.754.685.000

Namun, putusan pengadilan tingkat pertama menyatakan gugatan para penggugat ditolak. Terhadap putusan itu, para penggugat memohonkan banding ke PT Sulteng. Hasil putusan banding ternyata sebaliknya. Pengadilan Tinggi Sulteng, membatalkan putusan PN Palu kemudian mengadili sendiri dengan mengabulkan permohonan banding penggugat, menyatakan tergugat melakukan PMH, serta menghukum tergugat PT. Niaga Nusa Abadi untuk membayar ganti rugi masing-masing senilai Rp 250 ke para penggugat. Total hukuman ganti rugi yang harus dibayar tergugat Rp.1.250 miliar. Terhadap putusan banding selanjutnya tergugat memohonkan kasasi dan masih sementara berproses di MA. Atas itulah perkara tersebut belum berakhir dan belum memperoleh kekuatan hukum tetap atau inkracht.

Reporter: Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas