SERAHKAN BANTUAN - Owner Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Babussalam Kota Palu, H. Mustamin Umar, saat menyerahkan bantuan 100 sak semen, untuk pembangunan Musallah At Ta’awun, yang diterima langsung oleh Kakankemenag Kota Palu, Nasruddin L. Midu, belum lama ini. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Owner Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Babussalam Kota Palu, H. Mustamin Umar mengungkapkan, PPIU Babussalam mengagendakan pemberangkatan kembali jemaah umrah yang di tahun lalu sempat tertunda pada Februari 2022.

“Sebenarnya di akhir Januari kami angendakan pemberangkatan, namun karena saya mendapat undangan harus berangkat ke Arab Saudi, sehingga kami agendakan di Februari untuk pemberangkatan umrah. Saya akan memastikan seperti apa aturan pasti pelaksanaan umrah di Arab Saudi, sebab informasi dari Pemerintah Arab Saudi terus berubah setiap menit,” jelas Mustamin, di ruang kerjanya, Selasa, 4 Januari 2022.

Menurutnya, jumlah jemaah umrah yang sempat tertunda lalu pada 20 Februari 2020 berkisar sekitar 100 orang.

“Insyaallah semua jemaah kami diupayakan dapat berangkat tahun ini, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Mustamin mengharapkan, aturan dari Kementerian Agama RI khususnya Satgas Covid-19 yang bekerjasama dengan Pemerintah Arab Saudi bisa memberikan sedikit keringanan terkait karantina.

“Karena karantina saat ini lima hari di Arab Saudi, 14 hari di Indonesia, sehingga memakan waktu 19 hari untuk karantina. Jika kebijakan karantina itu tidak berubah, maka akan terjadi pembengkakan biaya, sehingga besar kemungkinan semua pihak travel juga akan menyesuaikan biaya ke jamaah,” ujarnya.

Olehnya itu, kata Mustamin, tentu jika waktu karantina itu berlaku, otomatis akan membengkak biaya, terutama biaya karantinanya.

“Belum lagi permasalahan vaksin. Sekalipun kini pemerintah Arab Saudi sudah menerima jamaah yang menggunakan vaksin Sinovac, namun harus mendapatkan vaksin pendamping atau booster. Dimana sebelumnya Pemerintah Arab Saudi tidak menerima vaksin Sinovac,” jelasnya.

Namun kata Mustamin, semuanya aturan itu masih menunggu kebijakan dari pihak kesehatan yang menangani masalah Umrah.

“Yang jelas apakah wajib atau perlu dilakukan penyuntikan tiga kali untuk jamaah, atau tidak, kami masih menunggu juga informasi pasti dari pemerintah,” ujarnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas