HAMPIR RAMPUNG - Tampak wujud bangunan Pasar Bambaru, Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulteng yang sementara direvitalisasi oleh Pemkot Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Muhammad Faiz Syafar)

Palu, Metrosulawesi.id – Asosiasi Pedagang Pasar Bambaru (APPB) Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah secara tegas menolak masuknya pihak luar atau ketiga menjadi pengelola di dalam Pasar Bambaru, Kelurahan Baru, Kecamatan Palu Barat.

Pihak ke tiga dalam hal ini adalah Perusahaan Daerah (Perusda) Pemkot Palu yang diwacanakan akan terlibat mengelola pasar berstatus modern itu.

Sunardi, salah satu pengurus APPB khusus kepada Jurnalis Metrosulawesi mengungkapkan, beberapa alasan penolakan itu antara lain Perusda Palu tidak memiliki pengalaman mengelola Pasar Bambaru.

“Pihak ke tiga ini atau Perusda jelas belum punya pengalaman (mengelola) teknis di Pasar Bambaru,” kata Sunardi pada Jumat sore, 31 Desember 2021 lalu.

Sementara Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu telah bertahun-tahun lamanya merajut kerja sama dengan Pedagang Pasar Bambaru.

“Tanpa satu kali pun terjadi permasalahan (bagi dua belah pihak) sampai hari ini pun. Bahkan maupun sebelumnya (kerja sama) dengan Dinas Pendapatan, kami semua tetap mau bermitra dengan Pemerintah Kota Palu,” imbuhnya.

Alasan kedua menariknya, Sunardi menganggap ketika Perusda Palu masuk mengintervensi Pasar Bambaru justru melanggar Perda terbaru tentang penetapan sewa tempat yang salah satu kaitannya barada di Pasar Bambaru.

“Mengapa demikian, kalau Perda nantinya menentukan (biaya sewa) sekian, ya pasti pihak ke tiga itu mencari keuntungan di sana (Pasar Bambaru) dan akan membengkak lagi biaya retribusinya. Sekarang ini masih masa pandemi, kami jelas sebagai pedagang terpuruk dari sisi pendapatan,” beber Sunardi.

Lebih jauh Sunardi beralasan, Ketika pihak ke tiga mencampuri pengelolaan Pasar Bambaru berpotensi timbulkan sengketa lahan dengan pengelola pasar.

“Jangan sampai terjadi seperti Pasar Inpres kalau yang saya dengar ada sengketa antara pengelolanya dengan pihak ke tiga. Kalau saya tidak salah sampai ke ranah hukum. Kami tidak mau terjadi seperti itu,” kata pria yang berjualan di Pasar Bambaru selama lebih dari 30 tahun itu.

Ragam alasan penolakan itu ditegaskan Sunardi hasil kesepakatan bulat seluruh pedagang Pasar Bambaru beberapa waktu belakangan.

“Suara bulat (penolakan) dari seluruh teman-teman pedagang Pak. Saya mewakili seluruh aspirasi mereka,” tandas Sunardi.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas