Ilustrasi. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id – Terdakwa kasus dugaan tindak pidana Informas Transaksi Elektronik (ITE), Muhammad Nasrul alias Abu Annas Al Buluri, pada persidangan lanjutan agenda pembacaan pledoi di Pengadilan Negeri (PN) Kelas IA/PHI/Tipikor Palu, Senin 27 Desember 2021 memohonkan keringanan hukuman dari majelis hakim.

Keringinan hukuman yang dimohonkannya merupakan sikap terdakwa menanggapi tuntutan JPU yang dibacakan pada sidang pekan sebelumnya. Pasalnya dalam amar tuntutan yang dibacakan jaksa Dwi Eko Raharjo, terdakwa Muhammad Nasrul dituntut pidana penjara 2 tahun dan 6 bulan atau setara dengan 2,5 tahun penjara.

Muhammad Nasrul alias Abu Anas Al Buluri, merupakan terdakwa yang melakukan penghinaan terhadap Alm Habib Saggaf Aljufri melaui postingan diakun facebook pribadinya. Permohonan keringanan hukuman terdakwa dibacakan kuasa hukumnya Mey Prawesty SH. Dalam nota pembelaannya, terdakwa membenarkan keterangan saksi-saksi dan ahli yang dihadirkan JPU.

“Terdakwa mengakui dan menerangkan dengan sejujur-jujurnya atas perbuatannya yang dilakukan. Terdakwa saat ini adalah tulang punggung keluarga, terdakwa mengakui bahwa benar melakukan sehingga menyesali perbuatannya dan telah menghapus postingan di media sosial,” kata kuasa hukumnya di depan majelis hakim yang di ketuai Suhendra Saputra. SH, didampingi hakim anggota, Antoni Splikam Mona. SH, dan Alannis. SH. MH, Senin 27 Desember 2021.

Mey menambahkan, berdasarkan fakta hukum selama persidangan sehingga pihaknya selaku kuasa hukum memohon kepada majelis hakim agar dapat menjatuhkan putusan yang seringan-ringannya kepada terdakwa. Apalagi terdakwa bersama keluarga sebelumnya telah meminta maaf kepada keluarga besar Abnaul Khairat dan perbuatan terdakwa telah dimaafkan.

“Apabila majelis hakim yang mengadili perkara ini berpendapat lain, mohon putusan yang serangan-ringannya mengingat terdakwa punya tangungan dan sebagai tulang punggung keluarga,” pintanya.

Sebelumnya diberitakan dalam tuntutan JPU terdakwa Muhammad Nasrul dituntut pidana penjara selama 2,5 tahun. Perbuatannya terbukti bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/ atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

“Sebagaimana diatur  dan diancam pasal 45 A, ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) UU RI nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) sebagaimana dalam surat dakwaan alternatif ke satu,” ungkap Dwi Eko Raharjo.

Reporter: Salam Laabu – Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas