BERLADANG - Hasan Dorahim, petani di Desa Langaleso di ladangnya, Kamis, 23 Desember 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)
  • Suara Lirih Petani Langaleso

Meski sudah memasuki musim hujan, Langaleso tetap saja kering. Sepanjang tahun petani di desa itu kesulitan air. Karena itu, 70 persen lahan pertanian masih menganggur.

KAMIS 23 Desember 2021, hujan mengguyur Desa Langaleso. Hasan Dorahim senang bukan kepalang.

“Kalau hujan begini kami petani enak. Tidak keluar banyak biaya mengairi kebun,” ujarnya ditemui di rumahnya.

Hasan adalah petani di Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Desa seluas 3,34 kilometer persegi ini berpenduduk 2.852 jiwa. Berjarak 14 kilometer arah selatan Kota Palu, ibukota Provinsi Sulawesi Tengah.

Bagi Hasan, hujan pada pagi itu adalah berkah bagi petani di desanya. Sebab, meski Sigi sudah memasuki musim hujan, tapi di Langaleso jarang terjadi hujan.

Hasan lantas menunjukkan kebun yang digarapnya, sekitar 50 meter dari rumahnya. Pria 48 tahun ini menanam jagung, tomat, cabai, singkong, dan terong di lahan seluas satu hektare. Tampak buah tomat sudah merah merang dan cabai belajar berbuah.

Sayangnya hujan di desanya tidak menentu. Kadang, kata dia, sampai tiga bulan setetes air hujan pun tak ada. Kalau sudah begitu, petani terpaksa mengeluarkan biaya besar untuk mengairi ladang.

“Macam ini, baru ada lagi hujan. Makanya petani di sini tidak bisa andalkan hujan,” ujar Hasan yang Ketua Kelompok Tani Madamba, Desa Langaleso.

Menurut Kepala Desa Langaleso, Nurlin Haruna, petani di desanya kesulitan ekonomi, termasuk dalam memenuhi kebutuhan pangan. Semua petani yang dulunya menanam padi kini beralih ke palawija. Sementara, penghasilan dari tanaman palawija tidak menggembirakan. Masalahnya hanya satu yakni ketersediaan air.

Dia mengakui, di desanya tidak jelas batas musim kemarau dan musim hujan. Karena itu, Nurlin berharap Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG) membantu petani memberikan informasi tentang curah hujan di Sigi, khususnya di Desa Langaleso. Sehingga, kata dia masyarakatnya bisa menyesuaikan cuaca dengan jenis tanaman.

“Supaya masyarakat tidak tanam sembarangan palawija,” ujar Nurlin ditemui Metrosulawesi di kantornya, Rabu 22 Desember 2021.

Dia menjelaskan, masalah ketersediaan air yang dihadapi petani bermula dari bencana gempa bumi Magnitudo 7,4 pada 28 September 2018 silam. Peristiwa itu mengakibatkan Daerah Irigasi (DI) Gumbasa yang selama ini mengairi sawah padi rusak akibat bencana geologi tiga tahun silam itu. Areal persawahan jadi kering kerontang.

“Sampai sekarang belum ada yang tanam padi di desa ini. Dari 100 hektar lahan sawah padi yang terdampak, baru 30 persen yang difungsikan. Itu yang ditanami palawija, bukan padi,” kata Nurlin.

Bukan hanya petani Langaleso yang menderita terkena imbas rusaknya irigasi Gumbasa. Tapi, juga ribuan petani di sejumlah desa di empat kecamatan di Kabupaten Sigi yakni Kecamatan Gumbasa, Tanambuva, Dolo, dan Sigi Biromaru. Bahkan sampai di Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Dinas Pertanian Sulawesi Tengah mencatat areal persawahan yang terdampak akibat rusaknya irigasi Gumbasa mencapai 8.180 hektare.

Pada akhir November 2019, proyek rehabilitasi tahap I DI Gumbasa telah selesai. Namun, baru dapat melayani areal perawahan seluas 1.070 hektare. Sisanya 7.110 hektare masuk rencana proyek tahap II, termasuk 100 hektare di Langaleso.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi, Ahmad Yani mengakui keresahan petani di Langaleso dan desa lainnya yang lahannya kering akibat rusaknya DI Gumbasa. Oleh karena itu, dia memastikan Pemkab Sigi akan terus membantu petani di antaranya menyiapkan sungai dangkal.

“Sambil menunggu irigasi Gumbasa. Yang masih dalam proses. Desa Langaleso jauh dari Gumbasa,” ujarnya.

Namun, tampaknya petani harus bersabar karena proyek itu belum akan selesai dalam waktu dekat. Harus menunggu sampai tiga tahun ke depan.

“Informasi yang kami dapatkan bahwa air mengalir ke pertanian di Langaleso pada tahun 2024,” kata Kades Langaleso. Dia mengatakan, ada 14 kelompok tani, dua di antaranya kelompok tani perempuan.

“Kalau bisa anggaran di luar pendidikan dan kesehatan diarahkan dulu ke sini untuk perbaiki irigasi. Tolonglah petani, masalahnya air,” kata Hasan yang sudah rindu bercocok tanam padi.

Biaya Produksi Besar, Ketahanan Pangan Keluarga Terancam

Bendung Irigasi Gumbasa di Kecamatan Gumbasa dipastikan molor hingga 2024 dari target awal perencanaan akan diselesaikan pada 2022. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

BELUM berfungsinya Daerah Irigasi Gumbasa dalam tiga tahun ini ditambah rendahnya intensitas dan curah hujan di Langaleso mengakibatkan petani harus menggunakan sumur dangkal. Petani memanfaatkan alkon, mesin berbahan bakar bensin yang mengisap air dari dalam tanah.

Masalahnya, biaya yang dikeluarkan tak sedikit jika menggunakan alkon. Hasan menghitung, selama ini butuh biaya produksi Rp1,5 juta untuk tanaman jagung di areal 250 meter persegi. Hasilnya sekitar satu ton dengan harga jual sekitar Rp4,5 juta.

Artinya selisih atau keuntungan petani sekitar Rp3 juta dalam tiga bulan. Hitungan itu belum bersih. Sebab, Hasan harus berbagi dengan pamannya sebagai pemilik lahan.

“Itulah yang kami pakai untuk beli beras. Karena sudah tiga tahun ini tidak ada lagi yang tanam padi di Desa Langaleso,” ujarnya.

Menurutnya, banyak petani di desanya yang tidak membuka lahan pertanian karena kesulitan modal. Akibatnya, tanaman liar sudah memenuhi lahan bekas sawah dan tanahnya mengeras.

Belum lagi ancaman gagal panen karena kondisi cuaca yang panas. Beberapa waktu lalu, dia nekat menanam padi ladang. Akhirnya gagal panen karena kekurangan air dan tak ada hujan.

Petani sudah mencoba menggunakan mesin alkon, tapi ternyata butuh modal besar untuk beli bahan bakar. Makanya, petani beralih ke palawija.

“Dulu saya tidak pernah beli beras. Sekarang beli beras. Itu kalau habis jual tomat atau  jual rica (cabai) dipakai beli beras,” katanya.

Meski begitu, bantuan berupa sumur dangkal, alkon dan alat pertanian lainnya baik dari NGO maupun dari pemerintah, cukup membantu petani di desanya.

“Tapi, kalau tidak ada bantuan itu juga, kami tidak bisa bertani lagi,” kata Hasan.

Kepala Desa Langaleso, Nurlin Haruna berharap proyek rehabilitasi DI Gumbasa segera rampung sehingga petani bisa kembali menanam padi.  Ada 14 kelompok tadi di Langaleso, dua di antaranya kelompok perempuan.

Bukan hanya petani yang terdampak, tapi usaha-usaha di sektor pertanian seperti penggilingan padi. Dia menyebutkan, enam usaha penggilingan padi yang dulu beroperasi kini gulung tikar.

Beberapa petani bahkan sudah beralih profesi menjadi buruh bangunan. Semua itu demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Sejak lahan pertanian tidak berfungsi, pendapatan masyarakat kami di Langeleso minim,” ujar Nurlin.

Sekadar informasi, pada tahun 2020 ada dua warga di Desa Langaleso yang mengalami gizi buruk, begitu data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Sigi.

BMKG Sebut Bukan Zona Musim

PANTAU DATA – Prakirawan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, BMKG Palu Solih Alfiandy menunjukkan data-data curah hujan di Sigi, Senin 27 Desember 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Syamsu Rizal)

Prakirawan Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palu, Solih Alfiandy mengungkapkan, Desa Langaleso tidak termasuk zona musim. Wajar, kata dia jika petani di desa tersebut tidak bisa mengandalkan hujan.

Berdasarkan data, curah hujan di bawah 150 mm/bulan yakni hanya 89 mm/bulan. Dia mengacu pada data curah hujan di Pos Pemantau Hujan Biromaru dalam rentang waktu 15 tahun (2006-2021).  Pos ini mencakup wilayah Desa Langaleso. Jarak pos pemantau hujan dengan Desa Langaleso sekitar 3 kilometer.

“Sepanjang tahun 2006-2021, hanya tujuh kejadian hujan di atas 150 mm/bulan,” ujarnya sembari menunjukkan data-data di  layar komputer di kantornya, Senin 27 Desember 2021.

Sementara, petanian untuk sawah padi bisa dilakukan di daerah dengan curah hujan 150 mm/ bulan atau 50 mm per dasarian. Oleh karena itu, petani di Desa Langaleso memang tak bisa mengandalkan hujan, apalagi untuk tanaman padi.

“Memang harus menggunakan sistem irigasi,” kata Solih Alfiandy yang baru saja menyelesaikan studi Magister Ilmu-Ilmu Pertanian di Universitas Tadulako Palu.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas