Dr Asep Mahpudz. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)
  • Tanggapi Kasus Siswa SMP tak Lancar Calistung

Palu, Metrosulawesi.id – Pengamat Pendidikan Provinsi Sulteng, Dr. Asep Mahfudz menanggapi persoalan yang terjadi terhadap salah seorang siswa di SMP Negeri 12 Palu yang belum lancar membaca, menulis, dan menghitung, atau berliterasi. Menurutnya, persoalan itu harus menjadi perhatian penting bagi seluruhnya, baik dari pendidik maupun orang tua.

“Persoalan ketidaklancaran membaca, menulis, dan berhitung (calistung), sebenarnya dampak dari pembelajaran di jenjang SD yang tidak diperhatikan. Ada beberapa hal penyebabnya, diantaranya karena faktor lingkungan dan pendidikan di sekolah,” kata Asep, melalui ponselnya, Senin, 20 Desember 2021.

Kata Asep, persoalan literasi ini sebenarnya banyak terjadi di beberapa daerah provinsi Sulteng, utamanya daerah pinggiran atau terpencil.

“Misalnya saya pernah temui siswa di Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, siswa yang duduk di kelas VI SD belum lancar membaca, bahkan di salah satu SMP di Ampana siswa sudah kelas VIII juga sama, belum lancar membaca,” ungkapnya.

Olehnya itu, kata Asep, ada beberapa catatannya terkait literasi tersebut, pertama, membaca, menulis, dan menghitung itu harus melalui pembiasaan. Sehingga di daerah terpencil atau pinggiran literasi itu penting untuk terus digaungkan oleh orang tua dan guru di sekolah.

“Makanya ada gerakan literasi yang merupakan bagian program pemerintah, dalam mengatasi literasi tersebut. Karena di seluruh Indonesia secara nasional masih tinggi angka kurangnya literasi, yang tidak punya kemampuan untuk membaca dan berhitung,” ujarnya.

Asep mengatakan, lingkungan siswa di zaman saat ini memang harus mendukung, agar anak-anak terbiasa membaca atau literasi, maka yang terpenting adalah pembiasaan.

“Catatan saya kedua adalah, saat ini tugas pendidik dalam memahamkan materi agar tidak langsung. Artinya bahwa jangan di kelas langsung memberikan materi kepada siswa, tetapi harus diawali dengan pembinaan karakter. Misalkan harus mengucapkan salam, berdoa, serta berkomunikasi dengan orang lain, dan berlatih menghitung. Kemudian bagaimana mengeja, terutama dibiasakan sejak di SD mulai dari kelas rendah hingga kelas tinggi,” jelasnya.

Menurut Asep, ada beberapa faktor sehingga siswa tidak lancar membaca, diantaranya kurangnya perhatian dari keluarga, serta gurunya tidak memperhatikan secara penuh karena belajar secara daring. Sehingga anak itu terus dinaikkan kelas hingga lulus, masuklah di jenjang SMP.

“Catatan saya selanjutnya, yakni Guru di SD seharusnya memperkuat literasi, dan ini sangat penting untuk daerah terpencil dan pinggiran. Harus ada pembiasaan di sekolah untuk berkomunikasi. Maka hal ini menjadi tantangan kita, apalagi saat ini dalam masa pandemi, pembelajaran sangat terbatas,” ujarnya.

Asep mengatakan, keterampilan berkomunikasi menjadi sangat penting, tidak hanya di pelajaran Bahasa Indonesia, tetapi juga bisa Matematika dan IPS.

“Contohnya siswa A, diminta untuk menceritakan kondisi rumahnya, artinya belajar berbicara. Jadi selain melatih karakternya, juga bisa berlatih untuk literasi,” pungkasnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas