BERI KETERANGAN - AMT memberikan keterangan kepada awak media, Senin 20 Desember 2021. (Foto: Istimewa)

Palu, Metrosulawesi.id – Anak Muda Tadulako (AMT) menyesalkan pihak-pihak yang menggunakan logo Universitas Tadulako (Untad) untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Hal ini ditegaskan Taqyuddin Bakri, Ahmad Usmar, dan jajaran yang tergabung dalam wadah AMT didampingi Anak Terminal Mamboro (ATM), Senin, 20 Desember 2021.

“Atas penggunaan logo Untad secara illegal, maka kami dari AMT-ATM menyatakan mengutuk siapapun yang menggunakan logo Untad untuk kepentingan pribadi atau kelompok secara ilegal karena dapat merusak nama baik institusi,” ucap Taqyuddin.

Penyampaian ini dialamatkan kepada sejumlah dosen yang tergabung dalam Kelompok Peduli Kampus (KPK) Untad. Menurut AMT, gerak-gerik KPK tidak layak diteladani. Menurut hemat Taqyuddin dan kawan-kawan, justru KPK sama sekali tidak memperlihatkan kepeduliannya terhadap kampus jika dilihat dari sisi kinerja akademik.

“Yang mereka pertunjukkan adalah kegaduhan, keributan, dan ucapan-ucapan fitnah di media. Mereka merasa sebagai kelompok paling suci tanpa pernah bertanya kepada orang lain apakah mereka memang kelompok manusia terbaik yang ada di Universitas Tadulako,” tegas Taqyuddin.

Dia mengatakan, penggunaan logo Untad oleh siapapun yang tidak berhak adalah tindakan pemalsuan dan pembohongan publik karena tidak memiliki legal standing.

AMT meminta kepada Rektor, SPI, dan Komisi Etik untuk secara bersama-sama melaporkan oknum-oknum tersebut kepada Itjen karena tidak menjalankan kewajibannya secara utuh dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Kami dari AMT-ATM akan segera melakukan konsolidasi dan segera mengirim surat ke Menpan dan Mendikbud Ristek agar segera menindak oknum-oknum yang merusak citra Universitas Tadulako dengan menebar kebencian dan fitnah serta menggunakan logo universitas secara ilegal,” ujarnya.

“Kami juga menyatakan akan tetap melakukan perlawanan terhadap mereka yang menggunakan logo secara ilegal dengan tujuan-tujuan politik dalam kampus,” tambah Taqyuddin.

Dikatakan, usia dosen yang tergabung dalam KPK rata-rata sudah 60 tahun. Artinya, kata Taqyuddin, jika panjang umur, lima tahun lagi akan berakhir dari jajaran Universitas Tadulako.

“Jika panjang umur, lima tahun lagi mereka akan hilang dalam daftar jajaran Universitas Tadulako, kecuali saudara Djayani Nurdin. Namun menjelang usianya yang semakin senja, bukannya menunjukkan kesuritauladanan bagi kami yang masih ingusan, tapi malah menabur kebencian, permusuhan, dan menjelek-jelekkan orang yang diirihatikan. Untuk memperkuat penyebaran kebenciannya, mereka membentuk kelompok yang kontraproduktif antara nama dengan kinerja. Mirisnya lagi, sebab mereka menggunakan logo Untad padahal di mata kami, kelompok senior itu justru kami kategorikan pengangguran Tri Dharma yang telah menggunakan logo Untad untuk melegalkan ketidaklegalannya. Nama kelompok tersebut sama sekali tidak memiliki legal standing, baik dalam statuta, OTK, maupun surat keputusan rektor,” pungkas Taqyuddin.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas