MEMANJAKAN MATA - Objek Wisata Baru Hutan Mangrove di Panta kapal Kelurahan Kabonga Besar Kecamatan Banawa. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)
  • Menikmati Objek Wisata Hutan Mangrove di Pantai Kapal

KTH (Kelompok Tani Hutan) Gonenggati adalah sekumpulan anak muda kreatif yang ada di kelurahan Kabonga Besar Kecamatan Banawa, kini bangkit lagi setelah sempat digugat ke pengadilan. Mereka kini mendesain Hutan Mangrove di Pantai Kapal (tempat bersejarah) menjadi tempat objek wisata baru di Kecamatan Banawa. Kini objek wisata itu telah berhasil. Seperti apa? Berikut laporannya.

Laporan: TAMSYIR RAMLI

MENUJU Lokasi Obyek Wisata Mangrove Di Kelurahan Kabonga Besar tidak sesulit yang dibayangkan, jika kita dari arah Palu hendak menuju Obyek Wisata Tanjung karang, Bone Bula, dan Pusat Laut, lokasi ini dilewati, persis berada di tikungan Panta Kapal, tikungan tajam seperti Kapal begitu warga Kelurahan Kabonga besar menyebutnya.

Di objek wisata Hutan Mangrove memiliki kualitas SDA yang menjanjikan, tak heran jika anak muda yang tergabung dalam KTH Gonenggati mampu memanfaatkannya dengan mendesain sedemikian rupa, menghilangkan sisi angker dari cerita mistis tikungan panta kapal.

Hasil kerja keras KTH Gonenggati terbayar lunas dengan banyaknya pengunjung mulai dari istri Mendagri Tito Karnavian, Dewan Iklim dari kalimantan Timur, Dinas Kehutanan Provinsi dan beberapa pegiat LSM Lingkungan.

“Ini namanya Tikungan Panta Kapal. Bentuknya memang seperti kapal. Sejarahnya di sini ada kerajaan. Memang sedikit mistis pak. Ada Batu No bolo (batu berlobang) dan juga Ujung Patuho (tempat air laut turun),” kata Warga Kelurahan Kabonga Besar, Ian, di Lokasi Hutan Mangrove, Jumat 17 Desember 2021.

“Kami dulunya buat wisata hutan mangrove di lokasi sebelah, ya karena tidak bersertifikat kami digugat di pengadilan. Dan sekarang lokasi yang pernah kami kelola sudah milik Almarhum Hi Anwar Mutaher. Kami tidak patah semangat, sekarang kami buat lagi yang baru,” sebutnya.

Ia bercerita konsep objek wisata hutan mangrove yang mereka kelola tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Di wisata mangrove yang baru ini KTH Gonenggati mendapat suntikan dana segar dari kemendes sebesar Rp475 juta.

Tak heran jika suasana dan desainnya cukup memanjakan pengunjung. Selain menikmati panorama alam mangrove dengan melintasi jembatan kayu, pengunjung juga bisa bersantai di cottage, dan Gazebo yang telah disediakan.

Dan ternyata selain berwisata, pengelola KTH Gonenggati juga menyediakan bibit mangrove yang dijual seharga Rp5.000 per bibit. Nah di sini sudah sangat jelas konsep berwisata yang ditawarkan yakni melestarikan mangrove. Pulang bersantai pengunjung bisa membeli bibit mangrove untuk dilestarikan.

“Alhamdulillah pak berkat kerja keras teman-teman KTH Gonenggati, kementerian Desa memberikan dananya sebesar Rp475 juta. Dana itu kita gunakan membangun fasilitas pendukung di hutan mangrove ini. Ada di luar papan proyeknya pak,” bebernya.

“Saat ini pengunjung kita kasi gratis dulu masuk pak. Mungkin tahun depan sudah berbayar. Dan kami siap bermitra dengan pemerintah daerah tapi syaratnya jangan mereka (pemda) yang kelola. Cukup kami saja warga Kabonga Besar yang berkreasi. Kami siap bayar pajak, untuk sertifikat lahan, kami rasa tidak perlu, karena berdasarkan informasi dari orang tua kami, tanah atau lokasi ini milik Tuhan,” tutupnya. (*)

Ayo tulis komentar cerdas