Harga cabai yang saat ini dijual di sejumlah pasar tradisional sudah menembus angka dikisaran Rp60 ribu sampai Rp70 ribu perkilogram. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)
  • Jelang Natal dan Tahun Baru

Palu, Metrosulawesi.id – Menjelang hari natal dan tahun baru, harga salah satu komoditas yaitu cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Palu terpantau mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

Cabai rawit merah yang sebelumnya masih dikisaran Rp25 – Rp30 ribu perkilogram. Saat ini telah menembus angka Rp60 – Rp70 ribu perkilogram. Begitu pula dengan cabai keriting dan cabai hijau naik menjadi R50 ribu/kg.

Betta, salah seorang pedagang di Pasar Induk Tradisional (PIT) Inpres Manonda mengakui hal tersebut. Ia mengungkapkan bahwa kenaikan disebabkan adanya pengiriman ke luar provinsi lain khususnya Gorontalo, Manado, dan Kalimantan.

“Ditambah lagi dengan pengaruh dan kondisi cuaca sehingga untuk pasokan stok cabai sudah berkurang dari petani maupun pengepul. Ini terjadi hampir seminggu lebih harga cabai terus merangkak naik,” ungkap Betta.

Dirinya bahkan memprediksi kenaikan cabai bisa mencapai dikisaran Rp80 ribu perkilogram. Apalagi, lanjut Betta, menyambut hari besar keagamaan yaitu natal dan tahun baru 2022 pastinya harga akan semakin melonjak tajam.

“Ini saja kemungkinan kita prediksi naik lagi harganya. Pembeli juga banyak mengeluh yang sebelumnya mereka pesan tiga kilogram, sekarang tinggal dua kilogram karena alasan utama ialah mengurangi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah, Richard Arnaldo mengungkapkan terkait presentase naiknya harga cabai kini cukup tinggi yang hampir mencapai kurang lebih di antara 80-90%.

“Di mana terhitung November cabai keriting masih diangka Rp24 ribu perkilogram, masuk per Desember pantauan kami naik menjadi Rp47-Rp50 ribu atau jika diprediksi mengalami kenaikan sekitar 93%,” ungkapnya.

Begitu pula, lanjut Richard, komoditas cabai merah dari Rp36 ribu perkilogram naik ke Rp65 ribu sampai Rp70 ribu perkilogram. Ia mengaku faktor utama adalah kondisi iklim dan ditambah lagi pengiriman ke wilayah provinsi lain.

“Ada beberapa daerah kabupaten di Sulteng merupakan penghasil cabai yang kemungkinan akan kita manfaatkan. Kita juga meminta bantuan Satgas Pangan terkait pendistribusian logistik terutama cabai,” kata Richard.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas