TUMBUH di musim gugur. Begitulah kehadiran harian Metro Sulawesi yang bermarkas di kota Palu, Sulawesi Tengah. Di saat puluhan, bahkan ratusan media cetak–koran dan majalah–terkena siraman musim gugur di negeri ini dan di luar negeri, hadir dan tumbuh sebuah koran harian, namanya Metro Sulawesi.

Apakah ini sebuah keberanian, nekat, atau sekadar gagah-gagahan? Boleh jadi di awal pendiriannya banyak pengamat media berpandangan pesimis akan perjalanan koran harian ini. Tentu saja pandangan itu sah. Normal. Wajar, mengingat datangnya musim gugur sebagai reaksi ketidakmampuan media cetak melawan serbuan media sosial yang datangnya seperti membawa perang “bumi hangus.”

Pandangan realistis yang bernuansa jauh dari optimis itu kini telah terjawab. Harian Metro–berjalan pelan di rel kepastian–kini telah berjejak menemui pembacanya dengan memasuki usia 7 (tujuh tahun). Sebagai pendatang baru, memang tidak gampang! Sebuah keyakinan telah terjawab. Bukan retorika, tapi pasti. Hadir menemui pembacanya. Tiap pagi, sebelum pembacanya berkemas ke luar rumah.

Mampukah bertahan? Pertanyaan ini perlu direnungi dan disikapi mendalam oleh komandan dan para prajurit Metro Sulawesi. Senjatanya hanya satu: layak sasaran!

Metro Sulawesi wajib menghadirkan layak sasaran. Rakyat Palu apa maunya sih? Tangkaplah itu. Koran yang bermimpi besar, tentu peduli akan apa maunya pembaca di wilayah kekuasaannya. Bukan apa maunya pemerintah di wilayah kekuasaannya. Beruntunglah kalau keduanya sepaham. Memihaklah kepada rakyat. Itulah sasaran utama. Hindari jadi “humas” pemerintah, juga jauhi jadi “oposan” penguasa. Kehendak rakyat (baca: pembaca) adalah modal perjalanan menuju kelanggengan. Intinya, pintar-pintarlah membaca tanda-tanda zaman.

“Mengapa koran ini dapat tumbuh dan bertahan di musim gugur? Dinda mau tahu rahasianya?” Kawanku di kedai kopi tiba-tiba bertanya, dan sepertinya siap menjawabnya sendiri pertanyaannya.

“Apa rahasianya, Bung?” Dengan cepat aku merespon tantangannya.

“Komandan koran ini telah menerapkan makna gabungan prinsip idealisme – bisnis. Dalam sebuah koran, idealisme itu penting sebagai suara rakyat lapisan bawah. Itulah roh koran. Tanpa idealisme, sesungguhnya koran itu telah kehilangan roh. Namun untuk merespon zaman baru, prinsip itu tidak cukup. Perlu satu lagi sebagai penunjang penting, yakni bisnis. Kita harus realistis melihat keadaan… Begitu, dinda.”

“Maksud Bung, koran ini tetap kritis?”

“Wah, dinda telah paham…”

Aku tersenyum, lalu menikmati pisang goreng hangat di meja. (#)

Ayo tulis komentar cerdas