FOTO BERSAMA - Sejumlah tokoh adat, pejabat Pemkab Balut, serta Sekretaris Dinas Pariwisata Sulteng, Suriaman, saat foto bersama di acara adat Molabot Tumbe, di Keraton Banggai, belum lama ini. (Foto: Istimewa)

Balut, Metrosulawesi.id – Event Budaya Molabot Tumbe, yang secara rutin dilaksanakan setiap tahunnya di tiga Kabupaten Bersaudara, Banggai Laut, Banggai Kepulauan dan Banggai, kembali digelar pada Sabtu, 4 Desember 2021, hingga beberapa hari kedepan.

Sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah, Suriaman mengatakan, event budaya itu diawali dengan prosesi pengantaran burung maleo dari Kecamatan Batui, singgah di Banggai Kepulauan (Bangkep), kemudian langsung ke Banggai Laut, setelah itu di upacarakan penerimaannya.

“Ternyata menurut pak Bupati Banggai Laut, Sofyan Kaepa, kegiatan ini merupakan suatu bentuk wujud kesyukuran masyarakat, atas nikmat karunia tuhan Allah Swt, termasuk nikmat burung maleo yang diberikan kepada masyarakat Banggai Laut, maka dari itulah warga di daerah ini melakukan pembudidayaan pengumpulan burung maleo sudah sejak November lalu, karena banyak yang diantar burung maleo melalui prosesi upacara adat,” jelas Suriaman, saat dihubungi Metro Sulawesi melalui ponsel, Ahad, 5 Desember 2021.

Kata Suriaman, burung maleo itu diterima langsung oleh Tomundo atau seorang raja (bangsawan) yang dikukuhkan menjadi raja di Keraton Banggai. Kemudian, acara seperti ini menurut informasi sudah dilakukan secara turun menurun, bahkan sudah ratusan tahun.

“Event budaya Molabot Tumbe ini juga sudah masuk di dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) tahun 2021, kegiatan itu mengusung tema “Konggolio ko Adat Tukon Montolutusan Banggai” yang artinya, “Memperkokoh adat dan persaudaraan masyarakat Banggai”,” ungkap Suriaman.

Suriaman mengatakan, setelah acara adat di pagi harinya, dilanjutkan pada malam hari Pesona Festival Molabot Tumbe yang dibuka secara langsung oleh, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, namun diwakili oleh Direktur Penyelenggaraan Event Daerah Kemenparekraf, Reza Fahlevi.

“Selain kegiatan adat, ada berbagai macam tampilan budaya tadi malam (kemarin), kemudian hari ini juga ada beragam kegiatan salah satunya saat ini sementara berlangsung tarik tambang di dalam air laut, yang diikuti masyarakat dari kaum laki-laki maupun perempuan. Yang jelas ada beragam event olahraga dan kesian,” ujarnya.

Suriaman mengatakan, pada event ini antusias masyarakat di Banggai Laut cukup tinggi, apalagi tahun ini Covid-19 sudah melandai. Suksesnya kegiatan ini berkat partisipasi dukungan masyarakat, dan jajaran pemerintah daerah yang sangat mendukung baik event tersebut.

“Saya berharap event tahunan di Banggai ini, kembali masuk di dalam Kharisma Event Nusantara pada 2022. Kami juga berharap bukan hanya kunjungan wisatawan lokal yang datang, tetapi juga wisatawan regional dari daerah lainya, sebab di Banggai ini ternyata raja yang disebut dengan Tomundo itu, berbeda cara penunjukan di kerajaan lain di Provinsi yang ada di Indonesia,” katanya.

Kata Suriaman, dari informasi yang didapatkannya, siapa saja boleh menjadi Tomundo itu, dan tidak semestinya dari silsilah atau turunan raja itu.

“Sebab ada pernah raja Banggai dari Kendari, bahkan ada dari keturunan Cina, yang terpenting jika ingin menjadi Raja harus memenuhi lima kriteria yang ditentukan, diantaranya adalah jujur, amanah, disenangi oleh masyarakat, bertanggungjawab, serta merakyat,” pungkasnya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas