KONFERENSI PERS - Kepala BPN Donggala Firman (tengah) saat memberikan keterangan kepada sejumlah media Sabtu 4 Deseber 2021 di salah satu cafe di Palu. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Kepala BPN Donggala, Firman menegaskan siap menghadapi gugatan yang akan dilayangkan CV Riski Bintang Perkasa.

Diketahui, rehab gedung BPN  Donggala dilakukan oleh CV Riski Bintang Perkasa perusahaan dari Makassar, di tengah perjalanan proyek berbandrol Rp1,6 miliar itu diputus kontrak oleh BPN donggala.

“Kami siap digugat, kami juga sudah siapkan tim menghadapi gugatan yang diajukan CV Riski Bintang Perkasa,” katanya saat jumpa media di salah satu cafe di Palu, Sabtu 4 Desember 2021.

Dikatakannya, pemutusan kontrak yang dilakukannya sudah sesuai mekanisme, dan lanjutan pembangunan sudah dikerjakan pemenang tender kelima pada proses lelang kemarin.

“Setelah kami putus kontraknya, pembangunan lanjutan kantor kami di lanjutkan oleh CV Vigat Bintang pemenang kelima pada proses tender kemarin,” sebutnya.

“Pemutusan kontrak yang kami lakukan sudah sesuai mekanisme, progres pekerjaan baru mencapai 20%, sedangkan Desember tidak lama lagi berakhir, kami tetap membayarkan sisa uang pihak kontraktor yang belum diambilnya,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya Ibrahim, Direktur CV Riski Bintang Perkasa, kontraktor yang mengerjakan rehab kantor BPN Donggala, berencana akan menggugat ke pengadilan, menyusul kontrak pekerjaannya diputuskan oleh BPN Donggala.

“Pemutusan kontrak itu sepihak pak, kami bersama kuasa hukum akan gugat atau somasi pihak BPN, masa ditengah jalan diputus, padahal masih ada 65 hari kerja, pemutusan kontrak itu kalau ada force major (bencana alam) atau tidak selesai hingga batas waktu yang ditentukan,” katanya saat dikonfirmasi Metrosulawesi, Rabu, 17 November 2021.

Pemutusan itu katanya telah merugikan dan terkesan pemutusan dilakukan secara sepihak tanpa ada kebijakan dari BPN Donggala.

“Dari awal kami kooperatif, masak kami langsung di deadline berdasarkan fisik pekerjaan. Maksud saya dari beberapa bobot pekerjaan itu ada di ruang utama, tetapi kami tidak diizinkan bekerja di situ (ruang utama) kalau belum selesai ruangan lain 95 persen. Bagaimana mau kejar bobot?” jelasnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas