Bangga Putih. (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Kades Powelua, Bangga Putih membantah tudingan yang dilayangkan dua warganya ke dirinya. Menurutnya, dua warganya Kadir dan Capi menyampaikan informasi yang tidak benar sehingga informasi itu muncul di media cetak.

“Menyangkut toko yang dikelola Bumdes memang sudah tutup, bukan bangkrut, barangnya masih ada tapi sudah banyak yang tidak layak jual lagi, saldo di rekening Bumdes itu masih ada sekitar 100 juta, silakan cek di bank kalau tidak percaya,” kata Kades Powelua, Bangga Putih, Rabu 1 Desember 2021.

Ia katakan lagi dua warganya yang memberikan keterangan ke wartawan adalah keluarga sendiri, yang menurtnya tidak tahu berterima kasih.

“Bukan orang lain itu pak, keluargaku semua itu, tetapi biarlah hanya Tuhan yang tahu kebaikanku. Saya dibilang tidak transparan kelola uang desa silahkan. Padahal mereka berdua (Kadir dan Capi) kalau diundang rapat tidak pernah datang, baru sembarang lagi berkomentar di koran, tak apalah itu haknya berkomentar, tetapi saya katakan semua tudingan itu tidak benar, saya siap bertanggung jawab,” bebernya.

Lanjutnya lagi terkait honor bidan desa yang katanya dipotong, itu juga fitnah, dana bidan itu dipotong 8% untuk penanganan Covid.

“Makanya Kadir dan Capi kalau diundang rapat datang, supaya ditau kemana uangnya, jangan cuma berani bicara di koran. Honor bidan dipotong 8% untuk kepentingan penanganan covid, honor bidan dibayar per kegiatan sebesar 50 ribu,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, Capi dan Kadir warga Desa Powelua menyebut pengelolaan dana desa tidak transparan.

“Sudah bangkrut Bumdes pak, sudah tidak ada isinya toko, padahal toko yang dikelola Bumdes itu nilainya sekitar 20 jutaan,” kata Kadir salah satu anggota Bumdes.

Kadir menjelaskan selain mengelola toko, Bumdes Powelua itu juga mengelola hasil pertanian berupa nilam, jaringan internet, tenda terowongan, mobil air bersih, tetapi hasil dari usaha tersebut tidak diketahui hasilnya dikemanakan.

“Kami sebagai pengelola Bumdes tidak pernah diajak rapat atau pertemuan membicarakan persoalan Bumdes, kami menduga pengelolaan Bumdes tidak transparan, kasian masyarakat pak, contoh sederhana masa jaringan internet tiap hari beroperasi tidak ada hasilnya, tarif jaringan 5000 paling murah, kemudian hasil pertanian nilam itu dikemanakan? Sedangkan kita di Powelua sebagian adalah petani nilam,” sebutnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas