ANTRE - Pengendara antre di salah satu SPBU di Kota Palu, Kamis 24 November 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Djunaedi)
  • Hiswana Sarankan Jangan Antre di SPBU Saat Kosong

Palu, Metrosulawesi.id – Sudah beberapa pekan ini, terjadi antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palu. Namun, oleh Pertamina memastikan stok penyaluran bahan bakar minyak (BBM) sudah mencukupi.

Unit Manager Communication & CSR MOR VII Laode Syarifuddin Mursali mengungapkan, antrean terjadi disebabkan adanya normalisasi terhadap penurunan level PPKM yang dilakukan pemerintah. Pengiriman BBM ke SPBU juga cukup.

“Biasanya kita mengirim secara bertahap, makanya kita minta kepada masyarakat agar mengisi BBM sesuai dengan kebutuhan dan jangan terlalu panik soal BBM karena pasti ada aturan maupun stok selalu mencukupi,” kata Laode Syarifuddin Mursali dihubungi Metrosulawesi, Kamis, 25 November 2021.

Dia menjelaskan telah diatur oleh BPH Migas terkait dengan batasan pengisian BBM bersubsidi yakni mobil biasa maksimal 50 liter dan mobil angkutan barang kurang lebih sekitar 80 liter.

“Itu berdasarkan aturan yang ada. Selanjutnya untuk yang melakukan pengisian BBM melalui jeriken itu sebenarnya tidak diperbolehkan, kecuali ada surat rekomendasi dari dinas terkait yang mengeluarkan,” katanya.

Dia meyakini bahwa terjadinya antrean juga diakibatkan maraknya tangki kendaraan roda empat yang dimodifikasi. Sehingga, mereka melakukan pengisian sudah melebihi kapasitas tangki kendaraan yang telah diubah.

“Kalau soal kuota BBM subsidi datanya ada di Hiswana Migas atau langsung ke dinas terkait. Kami dari Pertamina hanya menjalankan penugasan karena untuk stok pasti sesuai permintaan,” katanya.

Solusi Agar Tak Antre

Terpisah, Humas Hiswana Migas Sulawesi Tengah, Fahat mengatakan antrean yang terjadi di SPBU tidak hanya terjadi di Kota Palu. Hiswana Migas pun menawarkan solusi agar tidak terjadi antrean.

“Solusinya di waktu stok BBM tidak ada di SPBU, diharapkan jangan ngantre apalagi sampai nginap di pinggir jalan sekitar SPBU, kan bisa mengganggu lalu lintas,” kata Fahat dihubungi, Kamis, 25 November 2021.

Menurut Fahat, antrean ini bukan hanya di Kota Palu, tapi di provinsi lain juga ada antrean.

“Mungkin konsumen kita lagi panik, takut tidak kebagian, jadi walaupun SPBU masih kosong, mereka tetap ngantre seharian,” kata Farhat.

Menurut Fahat, sebagai pihak SPBU hanya hanya menyalurkan ke masyarakat. Untuk urusan ketahanan stok dan penyaluran BBM Pertamina yang atur. Fahat menyebutkan, sebagian besar kendaraan yang antre itu adalah kendaraan yang berhak mendapatkan subsidi. Mengenai adanya pompa yang tidak diaktifkan di SPBU, tambah Fahat sudah sesuai dengan keinginan Pertamina  menempatkan produknya. Ada jalur khusus bahan bakar Pertamax Turbo dan Pertamax, Dexlite dan Dex.

Pertamini Tak Punya Izin Operasi

Palu, Metrosulawesi.id – Kotak pengisian bahan bakar minyak (BBM) kendaraan bermotor bernama Pertamini mulai marak di Kota Palu.

Unit Manager Communication & CSR MOR VII Laode Syarifuddin Mursali dikonfirmasi soal Pertamini mengatakan, Pertamini di Kota Palu bukan tanggung jawab dan kewenangan dari pihak Pertamina dalam penyaluran stok BBM khususnya jenis pertalite.

“Kami tegaskan lagi bahwa Pertamini itu bukan lembaga resmi terkait distribusi BBM dari Pertamina. Dan itu bukan tanggung jawab kami, kecuali Pertashop yang merupakan mitra penyalur BBM Pertamina,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu, Ajenkris mengakui belum ada petunjuk teknis soal Pertamini.

Dia menuturkan, saat ini pihaknya tengah berkonsultasi dengan Kepala Bagian (Kabag) Hukum Sekretariat Pemkot Palu untuk membuat Perwali (Peraturan Wali Kota) khusus tentang petunjuk teknis (Juknis) pengoperasian mesin pengisian BBM tersebut.

“Kami sementara bikinkan atau susun Perwali yang sementara kami konsultasikan dulu kepada Kabag Hukum. Dicari landasannya dulu untuk juknisnya. Supaya jangan nanti ketika kami turun lapangan dipermasalahkan warga,”  kata Ajenkris kepada Metrosulawesi, Kamis, 25 November 2021.

Dia mengatakan, Pertamini tidak memiliki izin pengoperasian. Padahal penampungan Pertamini disebut Ajenkris mencapai angka 500 liter.

Pertamini yang menjual BBM jenis Pertalite itu disebut Ajenkris dijual seharga sembilan ribu rupiah per liternya. Sementara di SPBU Pertamina dipatok harga Rp7, 200 satu liter dengan jenis yang sama.

Dia mengharapkan jika telah diterbitkannya Perwali itu mampu mengatur transaksi di luar SPBU untuk kebutuhan dasar kendaraan bermotor itu.

“Kami sementara upayakan solusi dari persoalan ini, dan menghindari jangan sampai terjadi masalah di lapangan. Karena Pertamini ini salah satu (sumber) pendapatan rupiah warga,” tandas Ajenkris.

Reporter: Fikri Alihana – Pataruddin – Muhammad Faiz Syafar
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas