MOLOR GAJI - Para pekerja pembangunan SDN Al-Akbar Kelurahan Petobo yang hak dasarnya kerap molor dipenuhi oleh perusahaan. (Foto: Dok. Pribadi/ Tedi Rustandi)
  • Nasib Miris Tedi Rustandi, Pekerja PT. SMI Group Nazar ID

Palu, Metrosulawesi.id – Kabar memilukan datang dari pekerja konstruksi pascabencana alam Sulawesi Tengah 28 September 2018. Info ini bersumber dari para pekerja pembangunan SDN Al-Akbar di Kelurahan Petobo tepatnya di Petobo atas berdekatan dengan Desa Ngatabaru, Kabupaten Sigi.

Diungkapkan salah satu pekerja bernama Tedi Rustandi (36), hak dasar mereka sebagai pekerja yaitu gaji tidak diberikan. Bahkan saking krisisnya mereka terpaksa memakan belalang hampir setiap hari.

Kisah pilu itu diawali Tedi bersama sepuluh rekan kerjanya yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, saat mendapatkan tawaran pekerjaan sebagai tukang bangunan di di wilayah pascabencana Kota Palu oleh perusahaan swasta berpusat di Kota Bandung bernama PT. SMI Group Nazar ID.

Mereka bersebelas dikirim oleh perusahaan itu pada 17 Agustus 2021. Sesampainya di Palu, mereka dijanjikan kantongi upah sebesar Rp150 ribu untuk tukang dan Rp130 ribu untuk kernet tukang dalam satu hari, dengan syarat lebih dulu mengikuti pelatihan selama satu bulan penuh sejak awal kedatangan.

Dari Agustus sampai September dikatakan Tedi sebagai Kepala Tukang masih berlangsung sesuai perjanjian awal. Memasuki Oktober, mulailah penderitaan menimpa mereka. Gaji yang awalnya harian diubah jadi mingguan, tepatnya dibayar per dua pekan bulan berjalan.

“Bahkan kami kaget setiap bulan ada potongan gaji (sebesar) 5 persen. Menurut mandor proyek ini dia katakan sebagai alasan jaminan perusahaan,” ungkap Tedi saat wawancara khusus kepada jurnalis Metrosulawesi, Selasa siang, 23 November 2021.

Di Oktober pula, mereka dipaksa menelan kenyataan pahit lantaran gaji mereka ditunda. Dia mengungkapkan, ketidakdisiplinan pembayaran gaji oleh perusahaan dikambing hitamkan ke mereka selaku tukang. Namun secara tegas Tedi bersama rekannya menampik alasan tersebut.

“Kami sudah kerja sesuai instruksi SOP kontraktor dari awal. Buktinya kami sudah kerjakan 80 persen progres konstruksi atau teknisnya sisa tahap penyelesaian seperti pembuatan halaman dan pengecatan,” imbuhnya.

Namun faktanya, kata Tedi, material konstruksi acap kali kurang bahkan nihil. “Sampai sekarang pun material bangunan tidak ada. Coba bayangkan apa yang bisa kami kerjakan. Padahal masa pekerjaan diberi ke kami targetnya sampai Desember 2021,“ pungkas pria berusia 36 tahun itu.

Masih berlanjut, momen paling derita dirasakan Tedi sekawanan di November ini. Selain menangkap belalang untuk dijadikan lauk, padahal itu sudah jadi momen terpilu, masih disambung dengan meminum air keruh berkapur yang hanya diakali dengan cara dimasak mendidih.

“Sudah 4 minggu tidak dibayarkan uang harian (pada November), bulan lalu juga gaji kami ditunda sampai akhir bulan. Sehingga kami putuskan menolak kerja, ini sudah 20 hari. Kami juga sudah berkali-kali lakukan protes sampai ke kantor pusat di Bandung sana lewat telepon, tapi selalu diabaikan dan dihindari,” lugas Tedi.

Tak hanya itu, kata Tedi, perlindungan pekerjaan seperti minimal kotak P3K terlebih asuransi keselamatan kerja tidak diberikan. Ketika kecelakaan kerja yang kapanpun bisa datang tak mampu dihindari Tedi bersama rekannya, seperti tangan mengalami sobek yang dalam, mau tak mau mereka harus mandiri memulihkan lewat uang sangat ala kadarnya.

“Dari awal kerja sampai sekarang empat bulan ini kami terima per kepala jumlahnya sekitar Rp10 juta. Tapi jujur itu tidak cukup, karena bermacam kebutuhan hidup di Palu termasuk yang dikirimkan ke keluarga di Bandung. Saking tidak cukupnya tiga teman saya terpaksa pulang ke Bandung. Jadi kami sisa delapan orang sekarang,” tandas Tedi.

Mengakali nasib demikian, Tedi bersama tujuh temannya membantu warga sekitar yang berkebun dekat lokasi pembangunan, semata demi diberikan uang seribu dua ribu atau bahan pokok pengganjal lapar. Disebut Tedi, PT. SMI Group miliki cabang di Palu yang terletak di Jalan Zebra. Tetapi perusahaan cabang pemenang tender proyek milik Pemkot Palu itu tak terlalu mempedulikan nasib pekerjanya di lapangan, artinya PT. SMI pusat yang mengatur pola penggajian Tedi Rustandi dan rekan-rekannya.

Reporter: Muhammad Faiz Syafar
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas