SERAH TERIMA - Pimpinan Rapat, Prof Charil Anwar, menyerahkan lembaran penandatangan penetapan UMP Sulteng 2022 kepada Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan Disnakertrans Provinsi Sulteng, Joko Pranowo, Selasa 16 November 2021. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • KSBSI, SBSI, dan FSPNI Menolak

Palu, Metrosulawesi.id – Dewan Pengupahan Provinsi Sulteng melaksanakan rapat penetapan Upah Minimum Provinsi (UMP) Tahun 2022 di Palu, Selasa 16 November 2021. Rapat dihadiri perwakilan pemerintah, pengusaha, dan buruh/pekerja.

Rapat yang dipimpin Prof Charil Anwar didampingi Kepala Bidang Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan Disnakertrans Provinsi Sulteng, Joko Pranowo, berlangsung alot terkait besaran kenaikan UMP.

Joko menerangkan penetapan kenaikan UMP 2022 berbeda dengan tahun sebelumnya karena sudah mengacu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja dan Peraturan Pemerintah 36 Tahun 2021 Tentang Pengupahan.

“Dalam penetapan kenaikan upah minimum memang disebutkan berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Tetapi dalam penghitungan kenaikan upah minimum provinsi menggunakan formula batas atas dan batas bawah. Batas atasnya merupakan maksimal kenaikan UMP jangan sampai melebihi batas karena akan menggunakan UMP 2021. Tapi kalau di bawah batas tidak apa-apa,” terang Joko.

Batas atas dan bawah ditentukan salah satunya berdasakan pertumbuhan rata-rata konsumsi rumah tangga di Sulteng yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Hasilnya ditetapkan batas atas kenaikan UMP Sulteng 2022 Rp2,8 juta dan batas bawah Rp1,4 juta.

Selanjutnya dijumlah dengan angka pertumbuhan ekonomi dan inflasi menghasilkan nominal kenaikan UMP Sulteng 2022 sebesar 3,78 persen atau Rp87.028. Angka tersebut kemudian dijumlahkan dengan UMP Sulteng 2021 Rp2.303.711 sehingga menghasilkan nominal UMP 2022 sebesar Rp2.390.739 perbulan.

“Jadi nanti yang kita usulkan ke bapak gubernur untuk ditetapkan UMP Sulteng 2022 sebesar Rp2.390.739,” ujar Joko.

Dalam rapat, Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Sulteng, Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Sulteng, dan Federasi Serikat Pekerja Nasional Indonesia (FSPNI) Sulteng menolak nominal kenaikan UMP. Organisasi buruh/pekerja mengusulkan kenaikan UMP minimal 10 persen dari upah minimum tahun 2021.

Menurut Korwil KSBSI Sulteng, Karlan S Ladandu, penetapan kenaikan UMP 3,78 persen terlalu kecil jika sandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Sulteng dan daya beli buruh/pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup layak.

“Kami KSBSI secara tegas menolak dan tidak menandatangi penetapan UMP Sulteng 2022,” tegasnya.

Penolakan juga disampaikan Ketua FSPNI Sulteng, Lukius Todama, yang menilai formula penetapan kenaikan UMP 2022 sangat merugikan pekerja dan hanya menguntungkan pengusaha.

“Saya bersyukur dengan teman-teman KSBSI dan SBSI yang menolak kenaikan UMP,” ucap Ketua Partai Buruh Sulteng itu.

Berbeda dengan tiga organisasi buruh itu, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Sulteng menyatakan sikap menerima kenaikan UMP Sulteng 2022. Menanggapi penolakan, Joko mengatakan sah-sah saja karena merupakan bagian dari demokrasi.

Selanjutnya disebut Gubernur Sulteng yang akan memutuskan untuk melakukan penetapan atas kenaikan UMP Sulteng tahun 2022. Ditarget paling lambat pengumuman UMP Sulteng 2022 pada Jumat 19 November 2022.
“Nanti pak gubernur yang akan menentukan bisa ditetapkan atau diubah karena akan ada konsekuensi ke daerah kalau tidak menetapkan berdasarkan PP 36 Tahun 2021,” ungkap Joko.

Joko menambahkan UMP hanya diberlakukan bagi perusahaan skala menengah ke atas. Sementara usaha skala mikro dan kecil menetapkan upah sesuai kesepakatan bersama antara pengusaha dan pekerja/buruh.

Diketahui, UMP Sulteng tahun 2021 tidak naik mengikuti nominal UMP 2020 sebesar Rp2.303.711 perbulan. Ini sesuai Surat Edaran (SE) Menteri Ketenagakerjaan Nomor 11/HK04/X/2020 tentang Penetapan Upah Minimum tahun 2021 pada Masa Pandemi Covid-19.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas